Likuiditas Global Ibarat Pesawat Komersial

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Ekonomi dan Industri

Negara-negara di dunia, seperti negara emerging market sebenarnya hanya menjadi "mainan" likuiditas global, sehingga opini kali ini diberi judul "Likuiditas global ibarat pesawat komersial". Open market policy open sky policy, hingga open society menjadi pemicu pergerakan likuiditas global terbang, landing dan kembali take off. Jangan kaget dan tak perlu lebai jika Anda bersaksi dalam keseharian tentang sirkulasi modal yang berputar dalam dunia nyata dan dunia maya seperti lalat atau seperti capung.

Padahal kita harapkan bergerak seperti lebah atau burung walet. Turun bersarang, kemudian membuat sarang tawon dan sarang walet menghasilkan madu dan telur walet yang bernilai ekonomi tinggi dan menyehatkan. Itulah globalisasi. Inikah yang open-open tadi, paling tidak penulis menyebut triple open.

Arus modal sulit ditangkap, seperti Anda menangkap lalat atau capung. Sama halnya dengan pesawat komersial, mereka terbang bebas kemana saja di dalam negeri maupun melintas antar negara bahkan antar benua. Jika penerbangan domestik, rata-rata singgah hanya 40 menit paling lama 12 jam, sesudah itu terbang lagi.

Di penerbangan antar negara paling lama dua hari, lalu kabur lagi. Apakah bisa di tahan lebih lama. Jawabannya tidak. Mengapa tidak? Karena takut rugi, namanya likuid. Jadi selalu harus cair dan harus selalu mencair. Tidak hanya itu, negara/ pemerintah manapun tidak boleh melarang likuiditas global di tahan berlama- lama karena nanti mengendap dan beku. Ini tidak boleh terjadi.

Sebab itu, negara/ pemerintah harus menjalankan aturan rezim devisa bebas. Gitu loh, dan gitu saja kok repot. Sekali kita tunduk dan menghormati satu rezim dan rezim ini tunduk pada sistem induknya bernama kapitalisme dan liberalisme maka kalau kita loyal penuh dengan rezim dan sistem tersebut, tentu harus siap menghadapi mudharat dan manfaatnya atau siap dengan segala risiko yang bisa terjadi, dan risiko ini bisa datang dadakan.

Sekali datang bisa miliaran dolar, sekali pergi bisa membawa triliunan dolar. Jika tidak kuat menghadang badai tsunami besar, likuiditas bisa mengering karena terjadi rush money, dan bisa mendatangkan economic crash yang berakibat kebangkrutan dan berujung perlu bailout.

Siapa yang membailout? Tentu para pemilik likuiditas global. Bukankah IMF pak, bukan jawabanya. Lho kok bukan, kenapa? Karena IMF kan hanya petugas penjaga pasar. Kalau di dunia, penjaga pasar itu adalah IMF namanya. Dan kalau di masing-masing negara namanya Bank Sentral, dan Menteri Keuangan.

Jika Anda berpikir lebih jauh lagi, maka hebat dong menjadi penjaga pasar. Memang hebat dan berat sekali tanggung jawabnya karena harus bisa menjaga stabilitas perekonomian. Kalau terjadi ketidakstabilan maka mereka berdua yang harus bertanggung jawab. Kewenangannya besar dong? Tidak juga, kewenangan mereka terbatas. Sementara, kalau arus modal yang berseliweran jumlahnya tidak terbatas. Paling hanya bisa seperti pemadaman kebakaran.

BERITA TERKAIT

IMF: Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Naik 1% - PERANG DAGANG AS-CHINA BAKAL PANGKAS EKONOMI GLOBAL 1%

Jakarta-Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat sekitar 1% dalam jangka menengah, dari posisi saat…

Sejumlah Negara Afrika Tertarik Pesawat Buatan Indonesia

NERACA Jakarta – Sejumlah negara Afrika; Madagascar, Kongo dan Sudan tertarik dengan dua jenis pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia (PT…

Industri Kerajinan Harus Dorong Daya Saing Tingkat Global

NERACA Jakarta – Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Mufidah Jusuf Kalla mengatakan industri kerajinan harus terus meningkatkan daya saing sehingga…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Reksadana Syariah, Siapa Mau?

Oleh : Agus Yulaiwan  Pemerhati Ekoomi Syariah Bisnis syariah sebenarnya ragam jenisnya, namun  di Indonesia sejauh ini dikenal hanya lembaga…

Polemik Harga BBM

  Oleh:  Sih Pambudhi Peneliti Intern Indef Pembatalan rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium kurang dari satu…

Minim Ruang Proteksionisme

  Oleh: Nisfi Mubarokah Peneliti Internship INDEF Tidak banyak ruang tersisa bagi proteksionisme di era globalisme ini. Di dunia yang…