Industri Plastik Sambut Revolusi Industri 4.0

NERACA

Jakarta - Indonesia tengah memasuki era baru yang disebut Revolusi Industri 4.0. Apalagi sejak Presiden Joko Widodo meresmikan roadmap Making Indonesia 4.0. Berbagai sektor industri pun turut menyambut revolusi tersebut dengan meningkatkan teknologi, salah satunya di industri plastik. Ketua Bidang Olefin Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Edi Rifai menyebutkan bahwa industri plastik yang masuk dalam ketegori industri kimia dasar telah siap untuk masuk ke era industri 4.0.

“Beberapa pelaku usaha sudah siap untuk mengembangkan era ini dengan menerapkan sistem big data. Yang mana dalam proses produksinya sudah menggunakan sistem pengendalian dari teknologi karena itu bisa menciptakan efisiensi dan produktivitas yang tinggi. Namun, dari sektor hilirnya belum semua bisa mampu menerapkannya karena biaya yang cukup mahal,” jelas Edi saat ditemui usai konferensi pers pameran Indoplas, Indopack dan Indoprint di Jakarta, Rabu (12/9).

Disamping itu, pihaknya juga mengembangkan riset and development. Namun, pihaknya menyarankan agar pemerintah memberi insentif seperti yang dilakukan oleh Thailand dengan memberikan insentif 300% di bidang riset tersebut. Hal itu menurut Edi, untuk merangsang industri bisa lebih menciptakan terobosan baru. Meskipun siap menjalankan era revolusi industri 4.0, namun ia menyayangkan pemerintah akan mengenakan cukai terhadap plastik. Padahal plastik bukanlah sampah melainkan material yang siap untuk dimanfaatkan ataupun didaur ulang.

“Dengan pengenaan cukai, maka akan mempengaruhi industri ini. Apalagi industri ini menyerap banyak tenaga kerja sehingga dampaknya akan kesana. Jadi kata yang tepat bukan mengenakan cukai melainkan mengelola sampah agar terciptanya nilai tambah seperti listrik ataupun produk lainnya. Karena dengan begitu akan meningkatkan ekonomi dan bahkan bisa menciptakan lapangan tenaga kerja baru,” tukasnya. Terlebih, kata dia, konsumsi plastik Indonesia masih cenderung sedikit dibandingkan dengan negara lainnya. Konsumsi plastik Indonesia mencapai 20 kilogram per kapita, Jepang mencapai 75 kg per kapita dan Singapura mencapai 60 kg per kapita.

Agar pelaku usaha bisa mengikuti era revolusi industri 4.0 maka juga diperlukan perlangkapan dan mesin yang mumpuni. Maka dalam pameran Indoplas, Indopack dan Indoprint bisa dijadikan rujukan agar bisa mengupgrade pengetahuan soal perkembangan dimasing-masing industri. Penyelenggara pameran Indoplas, Indopack dan Indoprint, Rini Sumardi menyebut bahwa Indonesia 4.0 bertujuan untuk membangun ekonomi digital dan berfokus pada lima sektor utama makanan dan minuman, otomotif, tekstil, elektronik dan bahan kimia.

Saat ini, lima sektor ini berkontribusi 17,8 persen terhadap GDP nasional Indonesia. Dengan diperkenalkannya roadmap baru, Indonesia berencana untuk memberdayakan UKM melalui teknologi digital, meningkatkan infrastruktur digital dan menarik investor asing. “Dengan latar belakang tersebut , Indoplas, Indopack, Indoprint menjadi platform paling tepat.Banyak perusahaan akan menampilkan teknologi terbaru mereka, aplikasi digital, dan solusi di tiga sektor dan sejalan dengan area fokus yang terkait dengan makanan dan minuman, otomotif , tekstil, elektronik dan bahan kimia,” katanya.

Pameran Indoplas, Indopack dan Indoprint akan diselenggarakan di JI Expo Kemayoran 19-22 September 2018. Pameran akan menyambut 400 peserta dari 20 negara, termasuk partisipasi pertama kali dari Iran. Selain itu Indoplas, Indopack dan Indoprint juga akan menjadi tuan rumah bagi lima paviliun nasional dan grup negara yang menampilkan Austria, China, Jerman, Singapura, dan Taiwan. Pameran ini ditargetkan akan menarik lebih dari 22.000 pengunjung perdagangan dari beragam industri seperti otomotif dan transportasi, bangunan dan konstruksi, kimia, makanan dan minuman, seni grafis dan percetakan, ritel, farmasi.

BERITA TERKAIT

Desa Wisata di Tobasa Siap Sambut Pengunjung

Jalan-jalan ke Danau Toba, tidak lengkap rasanya jika belum mengunjungi desa adat, salah satunya Desa Wisata Meat, Kecamatan Tampahan di…

Minim Sentimen Positif Apa Maknanya - Oleh : Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Judul ini terinsipirasi oleh hal yang berkembang di pasar. Saat ini kita tahu bahwa pasar uang dan pasar modal tidak…

Katrol Kompetensi SDM Industri 4.0, Kemenperin-BSN Teken MoU

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian dan Badan Standardisasi Nasional sepakat untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang terampil…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Kementan, Kemendag atau Bulog Yang Dievaluasi - Impor Beras

  NERACA   Jakarta – Persoalan impor beras mengemuka saat perseteruan antara Dirut Perum Bulog Budi Waseso dan Menteri Perdagangan.…

Kemenkeu Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2018 Capai 5,2%

  NERACA   Jakarta - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2018…

Harapan DPR Kepada Pemimpin Bekasi

      NERACA   Jakarta – Pasca dilantiknya Walikota Bekasi Rahmat Efendi dan Wakil Walikota Tri Adhiyanto, Anggota DPR…