Harga Minyak Dunia Terkerek Sanksi AS ke Iran

NERACA

Jakarta – Harga minyak naik lebih dari dua persen pasca sanksi Amerika Serikat (AS) yang menekan ekspor minyak mentah Iran dan produksi minyak mentah AS pada 2019 yang diperkirakan akan tumbuh pada tingkat lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.

Pasar dunia terpapar kekhawatiran pasokan minyak. Hal ini terjadi sejak musim semi ketika pemerintahan Trump mengatakan akan memberlakukan sanksi-sanksi terhadap Iran. Para pedagang minyak mentah telah memperhitungkannya dalam premi risiko yang mencerminkan kekurangan pasokan, yang mungkin terjadi ketika ekspor dari anggota OPEC terbesar ketiga itu dipangkas. Ketika tanggal 4 November untuk menjatuhkan sanksi semakin dekat, premi telah meningkat.

Pada harga patokan internasional, minyak mentah Brent untuk pengiriman November, bertambah 1,69 dolar AS atau 2,2 persen, menjadi menetap pada 79,06 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Adapun minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, melompat 1,71 dolar AS atau 2,5 persen menjadi ditutup pada 69,25 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Harga-harga memperpanjang keuntungan dalam perdagangan pasca-penyelesaian (perdagangan elektronik) setelah data industri dari American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah AS merosot 8,6 juta barel pekan lalu, dibandingkan perkiraan para analis untuk penurunan 805.000 barel.

Washington telah mengatakan kepada sekutu-sekutunya untuk mengurangi impor minyak Iran, dan beberapa pembeli Asia, termasuk Korea Selatan, Jepang serta India tampak mulai mematuhinya. Tetapi pemerintah AS tidak ingin harga minyak naik, yang dapat menekan kegiatan ekonomi atau bahkan memicu perlambatan pertumbuhan global.

Menteri Energi AS Rick Perry bertemu Menteri Energi Saudi, Khalid al-Falih pada Senin (10/9) di Washington, ketika pemerintahan Trump mendorong negara-negara penghasil minyak besar untuk mempertahankan produksi tinggi.

Perry akan bertemu dengan Menteri Energi Rusia Alexander Novak di Moskow. Rusia, Amerika Serikat, dan Arab Saudi adalah tiga produsen minyak terbesar dunia sejauh ini, memenuhi sekitar sepertiga dari hampir 100 juta barel per hari (bph) konsumsi minyak mentah harian.

Sementara Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan, Rusia dan sekelompok produsen di sekitar Timur Tengah yang mendominasi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dapat menandatangani kesepakatan kerja sama jangka panjang baru pada awal Desember, dilaporkan kantor berita TASS, sebagaimana disalin dari Antara, Rabu (12/9). Namun, Novak tidak memberikan rinciannya.

Sekelompok produsen OPEC dan non-OPEC telah secara sukarela menahan pasokan mereka sejak Januari 2017 untuk memperketat pasar, tetapi dengan harga minyak mentah naik lebih dari 40 persen sejak saat itu dan pasar secara signifikan lebih ketat, ada tekanan terhadap para produsen untuk meningkatkan produksi.

Produksi minyak mentah AS diperkirakan akan meningkat 840.000 barel per hari menjadi 11,5 juta barel per hari tahun depan, lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya untuk kenaikan 1,02 juta barel per hari menjadi 11,7 juta barel per hari, Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan dalam laporan bulanannya.

"Para pelaku pasar sekarang mengevaluasi perkembangan ini dalam hubungannya dengan potensi penurunan lebih lanjut dalam produksi minyak dari Iran dan Venezuela, yang melukiskan gambaran 'bullish' signifikan pada harga," kata Abhishek Kumar, analis energi senior di Interfax Energy di London, dilansir laman yang sama.

Awal pekan ini, beberapa orang bersenjata menyerang kantor pusat Perusahaan Minyak Nasional Libya (NOC) di ibukota Tripoli. NOC terus berfungsi relatif normal di tengah kekacauan di Libya.

Produksi minyak telah terpukul oleh serangan-serangan terhadap fasilitas minyak dan blokade, meskipun tahun lalu sebagian pulih menjadi sekitar satu juta barel per hari. Karena pasar Timur Tengah semakin ketat, para pembeli Asia mencari pasokan alternatif, dengan Korea Selatan dan Jepang mengimpor minyak mentah AS di rekor tertinggi pada September. munib

BERITA TERKAIT

Pertamina-Rosneft Akan Bangun Kilang Minyak di Tuban

NERACA Jakarta – PT Pertamina (Persero) bersama perusahaan energi Rusia, Rosneft Oil Company akan membangun sekaligus mengoperasikan kilang minyak yang…

Medco Energi Pacu Ekspansi Bisnis Minyak - Private Placement Rp 1,54 Triliun

NERACA Jakarta – Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnisnya, emiten pertambangan PT Medco Energi International Tbk. (MEDC) bakal menggelar private…

Kadin Berharap Pemerintah Susun Regulasi Lebih Pro Dunia Usaha - Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri Indonesia berharap pemerintah membuat kebijakan dan regulasi bidang kelautan dan perikanan pro dunia…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

INDEF MINTA PEMERINTAH WASPADAI HARGA PANGAN - NPI Januari-Oktober Defisit US$5,51 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Oktober 2018 masih defisit US$1,82 miliar secara bulanan (mtm) dan…

Ketua BKBM: Kemaritiman Sediakan 45 Juta Lapangan Kerja

NERACA Jakarta - Ketua Badan Kerjasama Usaha Bidang Maritim (BKBM) Rokhmin Dahuri mengatakan bahwa sektor kemaritiman memiliki potensi lapangan kerja…

INDONESIA SEBAGAI NEGARA MARITIM DAN MEMILIKI TANAH SUBUR - Kepala Bappenas Prihatin Kondisi Nelayan Miskin

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi nelayan di Indonesia. Dia melihat petani dan…