Pasar Butuh Kepercayaan dan Keyakinan

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri

Seluruh data makro ekonomi di Indonesia sudah digelar setiap waktu dan publik bisa membacanya di berbagai media. Banyak hal bisa dibuat analisisnya untuk dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan, baik terkait dengan bidang ekonomi, bisnis, dan bahkan di bidang politik karena akan terpakai sebagai pijakan pengambilan kebijakan publik.

Potret yang dibuat secara garis besar akan bisa menghasilkan dua keputusan penting bagi para pelaku pasar, yaitu sentimen positif maupun sentimen negatif. Sentimen ini pada titik kulminasi pengambilan keputusan pada akhirnya hanya akan ditentukan oleh dua variabel non ekonomi, yaitu kepercayaan dan keyakinan para pelaku pasar untuk doing business di negeri ini atau menundanya.

Optimisme pemerintah dan optimisme pelaku pasar pasti berbeda meskipun pada titik tertentu ada persamaan. Begitu pula pesimisme pemerintah dan pesimisme pelaku pasar pasti berbeda karena pemerintah pada dasarnya tidak pernah bersikap pesimis karena demi menjaga kepercayaan publik dan pelaku pasar pada khususnya.

Kini kita dihadapkan pada satu fakta bahwa ekonomi Turki bergejolak dan berpotensi bisa menjadi ancaman terjadinya krisis ekonomi. Timbul silang pendapat tentang efek domino jika krisis ekonomi Turki terjadi. Data makronya sudah bisa kita baca melalui media secara garis besar. Pertarungannya akan ditentukan oleh kepercayaan dan keyakinan publik dan pelaku pasar. Krisis kepercayaan dan keyakinan out of control goverment.

Kepercayaan dan keyakinan yang menurun atau sebaliknya meningkat adalah urusan yang bersifat psikologis. Seketika public trust menurun dan khaqul yakin keputusan harus diambil, maka dalam sistem ekonomi yang terbuka, para pelaku pasar akan mengambil sikap. Dari yang bersifat moderat, misalnya wait and see, dan sampai yang paling ekstrem yaitu bisa melakukan rush money kalau ada tanda-tanda kondisi pasar memburuk.

Mereka bisa kabur membawa modalnya dan dana likuid yang dimiliki serta melepas saham, apalagi Indonesia menganut rezim devisa bebas. Dan kita tidak menghendaki itu terjadi karena dampaknya serius dilihat dari aspek politik, ekonomi dan sosial.

Dalam situasi sulit seperti sekarang ini, maka dalam perjalanan waktu kita lalui, ekonomi domestik menghadapi tekanan berat. Yang sudah banyak kita pahami dengan mudah adalah mengalami tekanan dalam neraca transaksi berjalan, tekanan defisit APBN, tekanan impor barang dan jasa karena bahan baku untuk produksi sekitar 70% masih impor, tekanan karena beban utang membengkak, dan ditambah lagi adanya transfer keuntungan PMA ke luar negeri.

BERITA TERKAIT

Butuh Dana Rp 8 Triliun - SMI Bakal Rilis Sekuritisasi Aset di 2019

NERACA Jakarta – Danai pembangunan infrastruktur, PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) akan menerbitkan instrumen pendanaan berupa sekuritisasi aset pada paruh…

Caleg DPR RI A. Bagus Pekik : Kerjasama Daerah Antar Kota dan Kabupaten Sukabumi Sangat Positif - Sukabumi Harus Bangun KEK dan Menjadi Destinasi Wisata

Caleg DPR RI A. Bagus Pekik : Kerjasama Daerah Antar Kota dan Kabupaten Sukabumi Sangat Positif Sukabumi Harus Bangun KEK…

Jumlah IPO Melebihi Target - Ironis Emiten Masih Kapitalisai Pasar Kecil

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun 2018, antrian perusahaan yang go public masih banyak. Berdasarkan data dari PT Bursa Efek…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Investasi, Divestasi, Privatisasi

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Mekanisme bisnis di bidang apa saja akan berjalan melalui proses yang umumnya…

Nikmatnya Koruptor

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia atau Hakordia 9…

Perlu Standarisasi Halal Internasional

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Perlu dan tidaknya standarisasi halal internasional sudah lama dibicarakan oleh berbagai pihak, hal…