Perdagangan Dunia Harus Tumbuh

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Ekonomi dan Industri

Di bolak balik melihat perkembangan kondisi perekonomian saat ini adalah tidak ada jalan lain perdagangan dunia harus tumbuh. Sumber dari segala sumber pelambatan adalah perdagangan dunia yang oleh WTO beberapa waktu lalu diperkirakan hanya tumbuh sekitar 4% saja.

Ekonomi dunia oleh sebagian ekonom dikatakan hanya mampu tumbuh 3,9% tahun 2018 karena perdagangan dunia melambat. Tahun 2019 diperkirakan hanya akan tumbuh paling tinggi 3,7%,dan terendah 3,5%. Ada yang berpendapat bahwa jika ekonomi 2 negara raksasa ekonomi dunia, yaitu AS dan China mengalami penurunan 1%,maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terdampak turun masing-masing menjadi 0,07%, dan 0,09%.

Jelas, problem utamanya tampak ada di dua raksasa ekonomi tersebut yang kini terlibat perang dagang. AS ekonominya mulai membaik, dolarnya pulang kampung karena suku bunga acuan The Fed dinaikkan sehingga investasi portofolio di negeri itu menarik untuk di buru. Tapi hanya dinikmati sendiri karena proteksi. Dan konon likuiditas di dunia berkurang, harga dolar AS mengalami kenaikan, yang menjadi korban adalah negara berkembang.

Dolar AS di kampung halamannya berlimpah, tapi di pasar keuangan jumlahnya berkurang. Bahkan yang mudik mata uangnya termasuk euro karena ECB juga ikut menaikkan suku buka acuannya. Di Asia yang berebut dolar AS adalah India, Filipina dan Indonesia karena kebutuhannya mengharuskan itu terjadi untuk memenuhi kewajiban internasionalnya.

Pada situasi seperti sekarang, opsi jangka pendek untuk melakukan remedy sangat terbatas, dan kalau terus menerus di intervensi, cadangan devisa bisa makin terus terkuras, sementara yang masuk terbatas. Kalau kepanikan dan kepercayaan tidak bisa dicegah memang berisiko buruk bagi perekonomian nasional.

Celakanya, yang terancam defisit menjadi sistemik adalah neraca pembayaran. Dan jika neraca pembayaran terancam, maka sepanjang yang penulis pahami, negara yang bersangkutan bisa melakukan pembatasan impor, misal melalui penetapan kuota impor atau menaikkan tarif impor. Artinya kita tidak usah malu kalau pertumbuhan ekonomi harus di rem dan remnya harus pakem karena kita bicara di area pengamanan dan penyelamatan. Pemberian subsidi BBM, listrik, dan bahan pangan pokok mau tidak mau harus menjadi salah satu agenda penting yang perlu menjadi pertimbangan pemerintah untuk diputuskan.

Semestinya club G-20 segera bersidang, tapi AS di bawah kepemimpinan Donald Trump nampaknya tidak terlalu berselera untuk bicara soal ekonomi global karena asyik dengan urusannya sendiri yang kemudian lebih memilih melakukan tindakan unilateral. Sebagai negara besar dengan output ekonomi yang juga besar, tindakan proteksi sepihak bisa mendatangkan manfaat bagi dirinya, tapi menjadi derita bagi pihak lain negara mitra dagangnya.

Posisi kita menjadi berat karena investasi dan ekspor cenderung stagnan akibat situasi tadi. Dana siaga untuk menambah anggaran subsidi tidak bisa tidak harus disiapkan karena kita berada dalam satu kondisi tidak normal.

BERITA TERKAIT

Transaksi Saham di NTB Tetap Tumbuh

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Mataram, Nusa Tenggara Barat, I Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana menyatakan, transaksi pembelian saham…

PSSI Targetkan Pendapatan Tumbuh 20% - Tambah Armada Kapal

NERACA Jakarta – Kembali menggeliatnya industri pertambangan batu bara menjadi berkah bagi perusahaan jasa angkutan pelayaran batu bara untuk memacu…

PTBA Berharap Masuk Daftar Indeks MSCI - Market Cap Tumbuh Besar

NERACA Jakarta – Kembali boomingnya bisnis pertambangan batu bara, diharapkan membawa dampak pada pertumbuhan bisnis dan kinerja PT Bukit Asam…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Minim Sentimen Positif Apa Maknanya - Oleh : Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Judul ini terinsipirasi oleh hal yang berkembang di pasar. Saat ini kita tahu bahwa pasar uang dan pasar modal tidak…

Transformasi Pembangunan Ekonomi

Oleh: Dhenny Yuartha Junifta Peneliti INDEF   Gejolak ekonomi global memang tak berkesudahan. Setiap kali datang, banyak negara dihantam. Kali…

Likuiditas Global Ibarat Pesawat Komersial

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri Negara-negara di dunia, seperti negara emerging market sebenarnya hanya menjadi "mainan" likuiditas global,…