Logistik dalam Manajemen Risiko

Oleh: Achmad Deni Daruri,President Director Center for Banking Crisis

Dunia bisnis sebetulnya belajar logistik dari militer apalagi dalam konteks manajemen risiko. Dalam ilmu militer, menjaga agar jalur suplai sambil mengganggu jalur musuh amatlah krusial — Napoleon bahkan mengatakan logistik adalah faktor terpenting — dalam strategi militer, karena sebuah angkatan bersenjata tanpa sumber daya dan transportasi itu tidak berdaya. Kekalahan Inggris di Perang Kemerdekaan Amerika dan kekalahan Poros di medan Afrika Perang Dunia II semua disebabkan oleh kegagalan logistik. Pemimpin bersejarah speerti Hannibal Barca, Alexander the Great, dan Duke Wellington dianggap sebagai jenius dalam logistik. Hal ini dapat terjadi karena pemimpin militer tersebut memasukkan unsur logistik sebagai salah satu variabel penting dalam manajemen risiko mereka. Sementara itu, pimpinan militer yang gagal menerapkan pendekatan ini akhirnya mengalami kekalahan dalam perang.

Dalam logistik militer, perwira logistik mengatur bagaimana dan kapan memindahkan sumber daya ke tempat di mana mereka dibutuhkan. Manajemen rantai suplai di logistik militer biasanya bersinggungan dengan variabel-variabel tertentu untuk memprediksi biaya, penurunan kualitas, konsumsi dan permintaan masa depan. Manajemen risiko logistik merupakan bagian dari proses supply chain yang berfungsi untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan keefisienan dan keefektifan penyimpanan dan aliran barang, pelayanan dan informasi terkait dari titik permulaan (point of origin) hingga titik konsumsi (point of consumption) dalam tujuannya untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan. Paling tidak ada tujuh unsur logistik dalam manajemen risiko yaitu antara lain, pertama, responsif yaitu menyediakan dukungan yang tepat pada waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Kedua, kesederhanaan yaitu menghindari kerumitan dalam persiapan, perencanaan dan pelaksanaan operasi logistik.

Ketiga, fleksibilitas yaitu mengadaptasi dukungan logistik terhadap setiap perubahan kondisi, baik perubahan lingkungan, perubahan misi, maupun perubahan konsep operasi. Keempat, ekonomis yaitu penggunaan kemampuan dukungan logistik secara efektif dan pemanfaatan yang ekonomis. Kelima, daya memeroleh dukungan logistik pokok minimum untuk memulai operasi pertempuran. Keenam, daya dukung dalam penyediaan logistik untuk jangka waktu operasi. Ketujuh, ketahanan logistik terutama infrastruktur logistik.

Kata "logistik" berasal dari bahasa Yunani logistikos, kata sifat yang berarti "terampil dalam menghitung". Penggunaan kata administrasi pertama kali di Romawi dan Bizantium ketika ada pejabat administrasi militer dengan gelar Logista. Pada saat itu, tampaknya tersirat kata suatu keahlian yang terlibat dalam perhitungan matematis. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pertama dalam kaitannya dengan administrasi militer yang terorganisasi sains oleh penulis Swiss, Antoine-Henri Jomini, pada tahun 1838, menyusun sebuah teori perang di trinitas strategi, taktik medan tempur, dan logistik. Perancis masih menggunakan kata-kata logistique dan loger dengan makna "untuk seperempat". Logistik adalah konsep yang dianggap berevolusi dari kebutuhan pihak militer untuk memenuhi persediaan mereka ketika mereka beranjak ke medan perang dari markas.

Pada kekaisaran Yunani, Romawi dan Bizantium kuno, ada perwira militer dengan gelar ‘Logistikas’, yang bertanggung jawab atas distribusi dan pendanaan persediaan perang. Dengan demikian, manajemen risiko logistik adalah suatu proses, yang dipengaruhi oleh dewan direktur, manajemen, dan personel lain dalam perusahaan, yang diterapkan pada tataran strategis dan menyeluruh, yang dirancang untuk mengidentifikasi potensi peristiwa yang dapat memengaruhi perusahaan dan untuk memberikan jaminan yang wajar terhadap pencapaian sasaran perusahaan. Sementara itu, sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko logistik adalah untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang logistik pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik.

Di sisi lain pelaksanaan manajemen risiko melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staf, dan organisasi). Dalam perang ekonomi, salah satu ukuran berhasilnya manajemen risiko logistik adalah jika adanya efek ekspor terhadap lapangan kerja yang meningkat. Feenstra dan Hong (2010) menanyakan berapa banyak lapangan kerja yang diciptakan oleh ekspor China. Dengan menggunakan tabel IO (Input Output) China dari tahun 1997 sampai 2005, mereka menemukan bahwa ekspor menjadi semakin penting dalam merangsang lapangan kerja di China. Namun, keuntungan yang sama bisa didapat dari pertumbuhan permintaan domestik.

Demikian pula, Kiyota (2012) mengajukan pertanyaan yang sama di Jepang, menggunakan data IO Jepang antara 1975 dan 2006. Studi tersebut menemukan bahwa pekerjaan Jepang meningkat dalam ketergantungan ekspor selama periode tersebut. Perhatikan bahwa permintaan tenaga kerja dapat dipengaruhi tidak hanya oleh ekspor industri sendiri (yaitu efek langsung) tetapi juga oleh ekspor industri lain melalui hubungan intra-industri (yaitu efek tidak langsung). Kiyota (2012) menemukan bahwa besarnya efek tidak langsung melebihi efek langsung selama hampir keseluruhan periode. Analisis OECD (2013) menemukan ketergantungan tenaga kerja yang relatif tinggi di China, Jepang dan Korea (1995-2008) dan ketergantungan yang tinggi (meskipun menurun selama periode tersebut) di Indonesia.

Ini menunjukkan penerapan manajemen risiko logistik cukup baik di negara-negara tersebut. , Los, Stehrer dan Vries (2013) memperkirakan perdagangan nilai tambah untuk mengukur daya saing ekonomi dengan menggunakan World Input-Output Database (WIOD) untuk periode 1995 sampai 2009. Mereka menemukan bahwa ekspor kotor melebih-lebihkan daya saing ekonomi yang sangat bergantung pada intermediet impor. Apalagi bias ini telah meningkat seiring berjalannya waktu. Demikian pula, Foster-McGregor dan Stehrer (2013) menggunakan WIOD untuk periode 1995 sampai 2011, memperluas fokus pada impor nilai tambah. Mereka menilai pangsa nilai tambah dari negara-negara ketiga yang terkandung dalam impor sebuah negara dari mitra dagang langsung dalam kaitannya dengan total impor, yang mereka sebut sebagai bagian dari nilai tambah asing bernilai tambah impor. Mereka menemukan bahwa pangsa nilai tambah asing multilateral menambahkan impor lebih kecil dari pada ekspor.

Selain itu, cenderung lebih serupa di seluruh negara, menyiratkan bahwa nilai tambah konten dari hubungan bilateral (bukan multilateral) masih lebih penting. Dengan demikian manajemen risiko logistik tidak dapat dilepaskan bukan hanya dari nilai tambah perdagangan asing multilateral tetapi lebih penting lagi adalah dari nilai tambah dari hubungan perdagangan bilateral.

BERITA TERKAIT

DHE Wajib Simpan di Dalam Negeri, Investor Lari?

Oleh: Pril Huseno Dalam waktu dekat pemerintah akan mengeluarkan beleid Peraturan Pemerintah (PP) tentang kewajiban bagi para pengusaha (atau eksportir)…

Penghapusan Sanksi Penyalahgunaan Koperasi Dalam RUU Perkoperasian Dipertanyakan

Penghapusan Sanksi Penyalahgunaan Koperasi Dalam RUU Perkoperasian Dipertanyakan NERACA Jakarta - Penghapusan pasal yang terkait pengenaan sanksi berat bagi pelaku…

Kemenperin Siap Penuhi Pekerja Kompeten di Sektor Logistik

NERACA Jakarta – Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar mengemukakan, pihaknya siap mensuplai kebutuhan SDM siap kerja untuk industri logistik.…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Pengabdian Presiden Jokowi di Tengah Badai Hoax

Oleh: Sapri Rinaldi, Pengamat Sosial dan Politik Presiden Joko Widodo bicara soal hoax dan fitnah yang sering muncul jelang pemilihan…

Bersatu Melawan Kelompok Separatis Papua

  Oleh : Yemima Yulince Asmuruf, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan Evakuasi korban selamat di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua berhasil dilakukan…

Intervensi Pemerintah atas Harga CPO via Implementasi B20

Oleh: Piten J Sitorus, Mahasiswa D3 Alih Program PKN STAN Pada tahun 2017 Indonesia memproduksi sebesar 38,17 juta ton Crude Palm…