Kesehatan Tak Kenal Batas Aman Konsumsi Alkohol Harian

Kesehatan tak mengenal istilah batas konsumsi alkohol harian. Seratus persen meninggalkan minuman beralkohol adalah satu-satunya cara untuk menghindari risiko buruk kesehatan. Minuman beralkohol terkait dengan kematian 7 persen pria dan 2 persen wanita per tahun pada usia 15-49 tahun di dunia.

Meski beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa konsumsi alkohol dalam volume menengah atau moderat mampu melindungi diri dari gangguan jantung, namun studi anyar membantahnya. Penelitian itu menggunakan data penyebab kematian dan penyakit di 195 negara sejak 1990 hingga 2016. Penelitian itu mengumpulkan data dari ratusan studi yang pernah dilakukan sebelumnya.

"Penelitian menjelaskan bahwa konsumsi alkohol secara substantif berdampak pada kesehatan yang buruk. Itu berlaku di seluruh dunia," ujar salah satu peneliti, Max Griswold dari Institute for Health Metrics and Evaluation, melansir The Independent.

Penelitian mengestimasi bahwa mengonsumsi alkohol sekali dalam sehari dapat meningkatkan risiko kanker, diabetes, dan tuberkulosis. Sebelumnya, penelitian lain menyebutkan bahwa mengonsumsi satu atau dua gelas alkohol dalam sehari mampu menyehatkan tubuh. Angka itu disebut sebagai batas aman konsumsi alkohol harian. "Studi ini membantah hasil penelitian tersebut," ujar peneliti lain, Emmanuela Gakidou.

Penemuan ini disambut baik oleh sejumlah ilmuwan. Mereka menganggap penemuan ini sebagai pernyataan yang meyakinkan untuk mengurangi kebiasaan konsumsi alkohol di kalangan masyarakat. Psikiater asal King's College London, Inggris, Tony Rao, menyambut hasil penelitian tersebut. "Kini, kita bisa lebih yakin bahwa tidak ada batas jumlah alkohol yang baik untuk tubuh," kata dia.

Kendati demikian, studi yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet ini tidak mengambil semua aspek konsumsi alkohol. Studi tidak menyertakan data kekerasan yang diakibatkan konsumsi alkohol atau produksi ilegal minuman beralkohol. Temuan ini bertujuan untuk membentuk kebijakan kesehatan masyarakat dan mendorong pemerintah untuk lebih serius menanggapi masalah konsumsi alkohol. "Perilaku ini difasilitasi oleh lingkungan yang tidak sehat dan didorong oleh kepentingan komersial. Ini adalah masalah kesehatan yang mendominasi abad 21," ujar salah satu peneliti lain, Robyn Burton.

Solusinya sangat mudah, adalah dengan meningkatkan pajak dan mengurangi paparan anak-anak terhadap dari pemasaran alkohol.

Sementara itu, Penelitian terbaru menemukan bahwa alkohol lebih merusak otak ketimbang mariyuana. Hasil ini didapat setelah ilmuwan dari University of Colorado Boulder, AS melakukan peninjauan terhadap efek alkohol dan ganja atau tumbuhan kanabis di otak.

Studi yang diketuai oleh Rachel Thayer dari Departemen Psikologi dan Neuorologi University of Colorado Boulder ini, dipublikasikan di jurnal Addiction. Tim peneliti mendapati konsumsi alkohol berhubungan dengan perubahan jangka panjang pada struktur materi putih dan abu-abu yang ada di otak.

Di sisi lain, konsumsi mariyuana justru tak memperlihatkan efek jangka panjang yang signifikan terhadap struktur otak. Meski tak berbahaya bagi otak, konsumsi mariyuana di banyak negara dilarang, termasuk di Indonesia. Hanya beberapa negara saja yang melegalkan ganja dengan dosis tertentu seperti Kolombia, Spanyol dan Uruguay.

BERITA TERKAIT

Sektor Pangan - Kasus Beras Turun Mutu Akibat Tata Kelola Distribusi Tak Optimal

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menilai kasus 6.000 ton beras busuk di…

Pemprov Banten Sebut Kawasan Anyer Sudah Aman Dikunjungi

Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pariwisata menyatakan bahwa kawasan wisata di Pantai Anyer dan sekitarnya telah aman dikunjungi pasca tsunami…

Peduli Kesehatan - Lagi, Astra Serahkan 10 Truk Tangki Air Ke PMI

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), PT Astra International Tbk pada pekan kemarin kembali…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Peneliti Temukan Obat Baru untuk Kanker Stadium Lanjut

Peneliti memberikan harapan baru bagi penderita penyakit ganas, kanker stadium lanjut. Sekelompok peneliti di Inggris berhasil menemukan obat yang dapat…

Cegah Perubahan Iklim dengan Atasi Obesitas dan Kurang Gizi

Perubahan iklim tak cuma membuat cuaca jadi tak menentu, tapi juga berhubungan erat dengan masalah gizi seperti obesitas dan kelaparan.…

Kratom, Dilema Daun Ajaib dan Zat Berbahaya

Jika menyebut kopi bisa dipastikan hampir semua orang akan paham arah pembicaraan, namun ceritanya akan ketika bertemu dengan kata Kratom…