Faktor Spermatozoa Penyebab Infertilitas Pria

Varikokel salah satu penyebab terjadinya kelainan jumlah (oligo), gerakan (astheno) dan bentuk (terato) spermatozoa yang dapat di terapi dengan teknik operasi bedah mikro. Neraca. Faktor ketidaksuburan pada pria merupakan penyebab utama terjadinya infertilitas (kemandulan) pada pria serta menyumbang sebesar 30%-40% pada ketidaksuburan pasutri (pasangan suami istri). WHO 2010 mencatat sebanyak 25% dari pasutri tidak berhasil memiliki keturunan dalam kurun waktu setahun setelah menikah. Dari presentase tersebut, 15% di antaranya mencari pengobatan dan sisanya tetap tidak memiliki keturunan. Pasutri dikatakan mengalami infertilitas, bila melakukan sanggama secara teratur selama lebih dari satu tahun tanpa kontrasepsi, namun belum memiliki keturunan. Kasus azoospermia tidak ditemukan spermatozoa sama sekali ditemukan dalam 10% kasus infertilitas pria. Sementara prevalensi varikokel pelebaran pembuluh vena di kantung testis di dunia ditemukan sebanyak 1.08-45% terjadi pada pria sehat dan 11-22% pada pria dengan kondisi infertilitas. Dua faktor utama yang menyebabkan infertilitas pada pria adalah spermatozoa dan non-spertmatozoa. Faktor spermatozoa dapat disebabkan oleh varikokel, idiopatik (tidak diketahui), faktor genetik, sumbatan saluran spermatozoa (obstruksi), kelainan bawaan lahir, infeksi menular seksual, dan gangguan hormon. Selain itu gaya hidup yang tidak sehat dan penggunaan steroid atau hormon yang tidak tepat juga mempengaruhi ketidaksuburan pada pria. Di samping faktor spermatozoa tersebut, terdapat faktor non spermatozoa misalnya kelainan seksual “gairah rendah, disfungsi ereksi, gangguan ejakulasi atau kelainan bentuk anatomi penis, sehingga tidak bisa sanggama” atau pasutri yang jarang sanggama. Kelainan spermatozoa dapat berupa kelainan jumlah (oligo), gerakan (astheno) maupun bentuknya (terato). Bila tidak ditemukan spermatozoa sama sekali maka hal ini disebut sebagai azoospermia. Salah satu penyebab terbesar kelainan spermatozoa adalah varikokel, namun hampir setengahnya 48.5% tidak diketahui penyebabnya. Diagnosis, teknik atau metode terkini serta terapi yang tepat terus diupayakan agar dapat membantu pasien pria dengan infertilitas bisa mendapatkan keturunan. Pada pasien infertilitas dengan kelainan faktor spermatozoa yang disebabkan oleh varikokel, dapat diterapi dengan obat-obatan maupun tindakan operasi bedah mikro (microligation). Sedangkan untuk kasus azoospermia, dapat dilakukan pengambilan spermatozoa dengan teknik operasi bedah mikro. Selanjutnya spermatozoa yang didapat dapat digunakan untuk program in-vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung. Prof. Dr. dr. Akmal Taher, SpU(K) sebagai salah satu penggagas RS. ASRI dalam Seminar media edukasi astir urology center mengatakan, “Gaya hidup masa kini yang kurang sehat sering kali menjadi penyebab buruknya kualitas spermatozoa. Kebiasaan merokok, minum alkohol, suka berendam di air panas, sauna, memangku laptop saat bekerja, sering memakai celana dalam yang ketat dapat menyebabkan peningkatan suhu testis”. Pembentukan spermatozoa di testis terjadi pada suhu 2-4oC lebih rendah dari suhu tubuh, jadi semua yang menaikan suhu testis seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dapat mengganggu pembentukan spermatozoa. Pada pria yang mengalami infertilitas, gaya hidup yang kurang baik tersebut harus dihilangkan. Lebih lanjut Prof. Akmal mengungkapkan, “Sebelum melakukan terapi, dokter biasanya melakukan wawancara untuk mencari faktor-faktor yang menyebabkan infertilitas, seperti gaya hidup yang kurang sehat”. Beberapa pemeriksaan tambahan yang seringkali diperlukan adalah pemeriksaan hormon dan USG skrotum. Tujuannya adalah untuk mengetahui adanya kelainan hormon yang berperan dalam pembentukan spermatozoa. USG skrotum dilakukan untuk memastikan ukuran testis, ada atau tidaknya varikokel dan mencari beberapa kelainan lainnya. Pemeriksaan lainnya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan kromosom seks. “Pada keadaan tertentu terdapat kelainan kromosom yang menyebabkan gangguan pembentukan spermatozoa. Namun pemeriksaan ini belum dijadikan standar karena belum ada terapi gen pada saat ini,” tambahnya. Tentang varikokel sebagai penyebab infertilitas pria, Ketua Asri Urology Center Dr. dr. Nur Rasyid Sp.U, menjelaskan, “Varikokel terjadi akibat pelebaran pembuluh-pembuluh vena di sekitar skrotum”. Pada beberapa pasien pelebaran vena terjadi karena bertambahnya usia sehingga katup tidak berfungsi atau kelainan pelebaran kelainan kongenital bawaan lahir yang menyebabkan katup-katup tersebut tidak terbentuk. Testis sebagai organ kelamin yang menghasilkan sel-sel spermatozoa, akan terganggu dengan adanya varikokel. Darah yang menumpuk pada testis mengakibatkan suhu di area tersebut lebih hangat dan kondisi tersebut kurang baik terhadap pembentukan spermatozoa (spermatogenesis). Seperti telah diketahui sebelumnya, idealnya suhu testis adalah 2-4 derajat C di bawah suhu tubuh, jika suhunya terlalu tinggi, spermatozoa menjadi matang dan mati sebelum keluar dari testis. Selain itu terjadi kekurangan oksigen dan penumpukan racun pada testis yang mengakibatkan berkurangnya jumlah spermatozoa (oligospermia), bahkan bisa tidak ditemukan sama sekali spermatozoa (azoospermia). Diagnosis varikokel dapat ditegakkan dari pemeriksaan fisik dan USG testis dengan Doppler. Terdapat tiga derajat varikokel. Semakin tinggi derajatnya, biasanya semakin berat kelainan spermatozoanya. Tatalaksana pada varikokel dapat dilakukan melalui terapi medikamentosa (obat-obatan) maupun Operatif, ujarnya. Terapi obat-obatan belum memberikan hasil yang memuaskan, “karena hanya sebesar 15% angka keberhasilannya sedangkan terapi operasi memberikan angka keberhasilan 60%-70%, artinya dari 100 pasien yang dioperasi, 60-70 pasien mengalami perbaikan kualitas spermatozoa”. Data terakhir menunjukkan bahwa pasien yang dilakukan operasi varikokel, angka kerusakan DNA-nya berkurang 50%. Efek samping yang bisa terjadi adalah infeksi dan perdarahan, di mana efek samping ini bisa terjadi di semua operasi, termasuk operasi ringan seperti sirkumsisi, tambahnya. Pemeriksaan fisik perlu dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya varikokel, ukuran testis, ada atau tidaknya saluran spermatozoa (vas deferens) serta melihat adanya tanda-tanda sumbatan. Ukuran testis yang lebih kecil dan konsistensinya yang lembek menunjukkan kemungkinan bukan sumbatan. Sedangkan tidak tersumbatnya saluran spermatozoa atau adanya saluran yang melebar, menunjukkan kemungkinan sumbatan. Pasien azoospermia dengan varikokel, dianjurkan untuk dilakukan operasi varikokel terlebih dahulu, ”karena diketahui bahwa sekitar 30-40% pasien azoospermia dengan varikokel, setelah operasi varikokel dapat ditemukan spermatozoa kembali dalam cairan ejakulasinya”.

(Sahlan)

Related posts