Menimbang Jurus Otoritas Moneter Kita

Oleh: Pril Huseno

Kemelut konflik perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Turki beberapa waktu belakangan dinilai berpengaruh terhadap gejolak mata uang di sejumlah negara termasuk Indonesia. Nilai mata uang rupiah dihadapan dolar AS terpuruk dan sempat menyentuh angka Rp14.600 per dolar AS ditambah melebarnya current account defisit (CAD) per Juli 2018 menjadi 8 miliar dolar AS atau setara dengan 3 persen PDB. Hal itu merupakan defisit terbesar sejak 2014 sebesar 3,1 persen.

Oleh sebab itu untuk mencegah semakin derasnya kemerosotan nilai rupiah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Rabu (15/8) memutuskan menaikkan suku bunga acuan BI 7-day (Reverse) Repo Rate sebesar 25 basis point (bps) ke level 5,50 persen. Kenaikan tersebut merupakan kali yang ke 4 BI menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini. Namun BI memastikan sikap kebijakan moneternya tak berubah dengan tetap antisipatif dan fokus menjaga stabilitas ekonomi terutama kurs rupiah terhadap dolar AS. Suku bunga deposit fallacy turut naik 25 bps menjadi 4,75 persen sedangkan suku bunga lending facility meningkat 25 bps ke level 6,25 persen.

Konflik Turki dan AS diperkirakan akan memanjang. Erdogan tetap menantang AS dan Trump terakhir juga tengah menyiapkan ancaman serangan perang dagang baru terhadap Turki. Perekonomian AS juga makin menguat dan ada gelagat dinaikkannya lagi suku bunga "The Fed". Akankah itu menyebabkan kembali goncangnya mata uang di sejumlah negara termasuk rupiah? Sampai kapan BI akan menerapkan pola menaikkan suku bunga acuan untuk meredam dampak kejatuhan kurs rupiah? Sementara cadangan devisa semakin tergerus menjadi 118 miliar dolar AS?

Belum lagi, catatan tentang melebarmya CAD yang rupanya dipengaruhi oleh kenaikan impor barang produktif seperti bahan baku dan barang modal. Dalam situasi seperti itu, bagaimana memastikan CAD tetap dalam keadaan aman?

Batas aman untuk CAD disebutkan pada 3 persen terhadap PDB bila keadaan keuangan global normal. Menjadi tidak normal bila kondisi ekonomi global terus saja memburuk dan memungkinkan BI untuk menurunkan lagi level indikator CAD ketingkat yang lebih rendah lagi.

Langkah-langkah BI untuk meredam pelemahan rupiah belakangan tentu harus dievaluasi, karena sepertinya tidak mungkin akan terus menerus menaikkan suku bunga acuan. Dampak kenaikan suku bunga pun belakangan tidak mampu meredam fluktuasi kurs rupiah yang jatuh lebih dalam. Lagipula, sebagian pengamat menilai jika jurus menaikkan suku bunga terus diterapkan, dikhawatirkan akan menurunkan tingkat kepercayaan pasar terhadap cara penanganan krisis oleh BI. Hal Itu bisa berakibat semakin derasnya capital outflow.

Terkait itu, BI menyatakan akan melakukan pemantauan ulang pada September 2018 mendatang. BI juga siap untuk mengkalibrasi lagi tingkat suku bunga 7-DRRR yang disesuaikan dinamika pasar domestik dan global. Tingkat suku bunga acuan terakhir dipandang sebagai upaya untuk tetap menarik pelaku pasar, selain melihat perkembangan premi risiko global. BI juga memastikan, melanjutkan langkah akselerasi pendalaman dengan contoh impelementasi "Indonia" yang akan diikuti instrumen OIS/overnight dan IRS untuk mengefisienkan struktur suku bunga pasar.

Sudah tepatkah jurus-jurus yang dilakukan otoritas moneter Indonesia? Apa yang terjadi jika ke depan mata uang rupiah tetap saja tumbang digoyang perkasanya dolar AS? Skenario penyelamatan apa yang mungkin dilakukan? (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

Di Hadapan Pengusaha, Menteri LHK: Kita Lalui Masa-masa Sulit Karhutla

Di Hadapan Pengusaha, Menteri LHK: Kita Lalui Masa-masa Sulit Karhutla NERACA Jakarta - Berbagai langkah koreksi di sektor kehutanan terus…

Wagub Jabar: "Gerbang Desa" Jurus Atasi Kemiskinan

Wagub Jabar: "Gerbang Desa" Jurus Atasi Kemiskinan NERACA Bandung - Wakil Gubernur Jawa Barat (Wagub Jabar) Uu Ruzhanul Ulum mengatakan…

Wapres : Kita Utamakan Energi Terbarukan

      NERACA   Bali - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menyatakan, pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) merupakan…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Kerugian PLN Hanya Sebatas Hitam di Atas Putih

  Oleh: Wawan A, Mahasiswa FE Universitas Sebelas Maret Kabar merugi datang dari sektor kelistrikan dalam negeri. Perusahan listrik negara…

Ekonomi Kreatif Masa Depan Indonesia

Oleh: Eddy Cahyono Sugiarto, Asisten Deputi Humas Kementerian Sekretariat Negara Gelombang Revolusi industri 4.0 telah membawa perubahan fundamental pada berbagai…

Urus Beras, Lupa Lahannya

Oleh: Sarwani Ribut-ribut mengenai jumlah produksi beras nasional bermula dari keputusan pemerintah untuk mengimpor sedikitnya 2 juta ton beras.  Kementerian…