Pembudidaya Nila Salin Untung Minimal Rp10 Juta/Bulan

NERACA

Semarang- Para pembudidaya ikan di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati mengaku usaha budidaya ikan yang digeluti semakin prospektif, pasalnya sejak diperkenalkannya komoditas ikan nila salin sekitar 4 tahun lalu usahanya mampu mendongkrak perekonomiam masyarakat secara signifikan.

Komoditas nila salin merupakan jenis nila unggul yang sebelumnya telah melalui proses adaptasi dari semula salinitas 0 ppt (tawar) ke salinitas mencapai 20 ppt (payau).

Ditemui saat melakukan panen raya ditambak miliknya di desa Bandungan Kecamatan Tayu, Hapit Nugroho mengaku sejak menggeluti usaha budidaya ikan nila salin usahanya semakin berkembang. Menurutnya sejak tahun 2014 kawasan tambak seluas lebih kurang 600 hektar ini disulap oleh masyarakat untuk usaha budidaya ikan nila salin.

Ditanya alasan memilih usaha budidaya nila Salin, Nugroho mengatakan bahwa ikan nila salin pertumbuhannya lebih cepat (3 bulan sudah panen), harga yang lebih baik dan cita rasa dagingnya yang lebih disukai konsumen. Ia juga menuturkan secara ekonomi ikan nila salin sangat menjanjikan. Itulah kenapa saat ini masyarakat mulai ramai ramai menggeluti usaha nila salin ini. Ada lebih dari 400 orang yang menekuni budidaya ikan ini. Untuk itu, Nugroho meminta agar suplai benih nantinya dapat disediakan dari Pati. Saat ini kebutuhan benih mencapai minimal 1,4 juta ekor per hari.

"Dalam 1 hektar produktivitasnya mencapai kisaran 3,5 - 4 ton. Dengan harga saat ini di tingkat pembudidaya rata-rata Rp. 23.000,- per kg, kami meraup untuk bersih minimal Rp. 30 juta per seklus atau Rp. Juta per bulan. Belum lagi akses pasar sangat mudah, bakul langsung datang ke tambak, timbang dan langsung bayar cash", ungkap Nugroho yang juga ketua Pokdakan Mina Barokah ini.

Sedangkan Saiful pemilik RM. Nila Sari di desa Tanggulsari Kecamatan Tayu, Pati yang khusus menjajakan menu ikan nila salin, membeberkan bahwa pamor nila salin saat ini mulai mendominasi pasar ikan di Pati. Menurutnya konsumen saat ini mulai melirik ikan jenis ini sebagai menu lauk sehari hari. Meningkatnya preferensi masyarakat terhadap ikan ini karena dagingnya yang lezat, tekstur daging lebih baik dan daging lebih tebal.

"Nila salin saat ini jadi primadona baru di kalangan masyarakat Pati khususnya. Itulah kenapa saya putuskan untuk buka rumah makan dengan menu khusus nila salin dengan berbagai varian masakan. Alhamdulillah pelanggan semakin banyak", aku Saiful saat dimintai keterangan.

Sementara Itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Edy Martanto, menyatakan bahwa pihaknya akan menjadikan nila salin ini sebagai "brand image" baru produk perikanan Kabupaten Pati. Sebagai bentuk komitmen saat ini Dinas tengah mengusulkan SK Bupati Pati tentang Penetapan Kawasan Nila Salin Berkelanjutan. Nantinya dukungan anggaran akan kami fokuskan pada pengembangan kawasan nila salin ini. Termasuk, akan kami gunakan tambak dinas dan pembangunan Balai Benih Ikan khusus untuk penyediaan benih nila salin, sehingga nantinya tidak lagi datangkan dari luar pati.

"Kawasan pengembangan nila salin ini nantinya diharapkan akan memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan masyarakat, dan perekonomian daerah. Bagi Pemerintah pusat, dengan pengembangan ini akan mendongkrak produksi perikanan budidaya nasional. Apalagi kehadiran pak Dirjen Budidaya beberapa waktu lalu, menjadi titik tolak bagi kami dalam mendorong kawasan ini sebagai sentra budidaya patin nasional", jelas Edy saat ditemui di kantornya, Kamis (8/9).

Sebelumnya, saat meninjau langsung kawasan nila salin beberapa waktu lalu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, menyatakan bahwa Kabupaten Pati merupakan satu satunya kawasan budidaya nila salin terbesar di Indonesia. Oleh karenanya, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mendorong Kabupaten Pati ditetapkan sebagai kawasan nila salin berkelanjutan nasional. Slamet juga memastikan melalui penetapan kawasan ini, maka akan terwujud pusat kegiatan ekonomi berbasis komoditas unggulan nila salin dan secara langsung mendorong pergerakan ekonomi masyarakat dan daerah.

“Kami telah berikan dukungan alat berat escavator, disamping nanti kami akan alokasikan program Irigasi tambak partisipatif (PITAP) berbasis padat karya di kawasan ini, sehingga terbangun Kawasan yang memenuhi syarat keberlanjutan.

Di samping itu, KKP akan memberikan dukungan pakan mandiri untuk menurunkan cost produksi, dan membuat balai bengong sebagai sarana diskusi, transfer informasi teknologi dan pasar.

BERITA TERKAIT

Upsus Siwab Targetkan Kelahiran Sapi Hingga 3,5 Juta Ekor

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) menargetkan kelahiran anak sapi hingga 3,5 juta ekor…

Produksi TOBA 5,8 Juta Ton Batu Bara

Hingga akhir tahun 2018, PT Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA) menargetkan volume produksi dan penjualan batu bara sekitar 5,4 juta—5,6…

Ketua BKBM: Kemaritiman Sediakan 45 Juta Lapangan Kerja

NERACA Jakarta - Ketua Badan Kerjasama Usaha Bidang Maritim (BKBM) Rokhmin Dahuri mengatakan bahwa sektor kemaritiman memiliki potensi lapangan kerja…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Sektor Riil - Kadin Berharap Pemerintah Susun Regulasi Lebih Pro Dunia Usaha

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri Indonesia berharap pemerintah membuat kebijakan dan regulasi bidang kelautan dan perikanan pro dunia…

Pembenahan Regulasi Pekerja Migran Mendesak

NERACA Jakarta – Pembenahan regulasi terkait pekerja migran lebih mendesak dilakukan. Pembenahan yang penting segera dilakukan meliputi regulasi pendaftaran hingga…

Upsus Siwab Targetkan Kelahiran Sapi Hingga 3,5 Juta Ekor

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) menargetkan kelahiran anak sapi hingga 3,5 juta ekor…