Perajin Songket Silungkang Menanti Dana Bergulir

Perajin Songket Silungkang Menanti Dana Bergulir

NERACA

Sawahlunto - Siapa yang tak kenal dengan kain tenun songket asal Silungkang, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, yang sudah ada sejak tahun 1830? Saat ini, perajin Songket Silungkang hidup dalam kondisi yang kurang bergairah. Pasalnya, Koperasi Industri Kerajinan Rakyat (Kopinkra) Silungkang yang menaungi 174 perajin songket tengah kehabisan energi untuk berkembang."Kita kekurangan modal untuk membeli produk songket dari para perajin anggota Kopinkra", ungkap Ketua Kopinkra Andri Wijaya di Silungkang, Sawahlunto, Sumbar, Rabu (15/8).

Akibatnya, para perajin songket Silungkang menjual produknya sendiri-sendiri."Dua tahun yang lalu, produk mereka yang beli adalah Kopinkra dengan harga yang bagus. Namun, kini, mereka menjual sendiri ke toko-toko yang ada di Sumbar dengan harga yang ditekan. Mereka tidak punya pilihan", keluh Andri.

Oleh karena itu, untuk mengembalikan kejayaan produk Songket Silungkang di pasaran, Kopinkra pun tengah mengajukan proposal untuk mendapatkan dana bergulir dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM sebesar Rp500 juta."Kita pernah mendapat bantuan dana bergulir dari LPDB sebesar Rp150 juta pada 2011 dan Rp300 juta pada 2013. Pinjaman itu sudah lunas, makanya kita mengajukan lagi ke LPDB", kata Andri.

Andri menjelaskan, sebenarnya hal itu sudah diurus sejak Juni 2017. Pengurus lama Kopinkra sudah mengirim proposal ke Jakarta berikut persyaratan agunan. Dana bergulir yang diajukan sebesar Rp900 juta. Sayangnya, ketika proposal masuk tahap proses, ketua Kopinkra meninggal dunia pada September 2017. Berkas-berkas pengajuan dari Kopinkra pun dikembalikan."Kita urus kembali dari nol dengan nilai dana bergulir sebesar Rp500 juta. Kenapa turun menjadi Rp500 juta dari sebelumnya Rp900 juta, karena nilai agunan yang kita miliki hanya mampu mengcover pinjaman senilai Rp500 juta", kata Andri.

Andri mengungkapkan bahwa proposal pinjaman kini sudah ada di tangan Dinas Koperasi Pemprov Sumbar dan Jamkrida Sumbar."Kami berharap segala urusan itu bisa cepat selesai dan dana bergulir yang amat kita butuhkan bisa segera cair", tandas Andri.

Menurut Andri, bila dana bergulir itu cair, selain akan digunakan untuk (kembali) membeli produk kain tenun songket dari perajin anggota Kopinkra, juga akan digunakan untuk memperkuat bahan baku para perajin songket."Selama ini kita beli bahan benang dari Jakarta. Bila kita ada tambahan modal, saya akan membeli bahan baku benang langsung dari pabriknya di Bandung. Karena bisa beli dalam jumlah besar sesuai kebutuhan anggota Kopinkra, maka saya bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah", papar Andri.

Selain itu, kata Andri, dengan rencana adanya tambahan modal dari LPDB itu akan digunakan untuk menyiapkan dan membenahi peralatan tenun ATBM (alat tenun bukan mesin) berikut seluruh sparepart-nya."Kopinkra juga akan msnghidupkan kembali usaha pembuatan sapu tangan dari bahan katun yang mampu menyerap air dengan baik. Bahan baku kain katun sudah siap, tinggal tambahan modal untuk produksi", ujar Andri.

Andri bertekad mempertahankan dan mengembangkan eksistensi Kopinkra, karena Kopinkra merupakan satu-satunya koperasi yang ada di Sawahlunto yang menaungi para perajin kain tenun songket."Saat ini, dengan kondisi pas-pasan, Kopinkra hanya menyiapkan bahan baku benang dan kain yang dibutuhkan para perajin songket. Mudah-mudahan, setelah mendapat tambahan modal dari LPDB, Kopinkra kembali mampu menampung produk songket dari perajin anggota Kopinkra.

Sejak 1973

Tekad Andri membangkitkan Kopinkra bukannya tanpa alasan. Kopinkra yang kini beraset Rp1,8 miliar itu sudah ada sejak tahun 1973 dan terus eksis membangkitkan kain tenun songket asal Silungkang hingga menjadi sebuah produk unggulan dari Sawahlunto."Kualitas produk tenun Silungkang sudah diakui banyak pihak. Kita pun rutin ikut pameran-pameran, termasuk Inacraft. Pasarnya pun sudah berkembang jauh tak hanya di wilayah Sumbar saja, melainkan sudah mampu menembus pasar di Jakarta, Pekanbaru, hingga Malaysia", kata Andri seraya menyebutkan bahwa produk kain tenun songket Silungkang sudah mendapat sertifikat merek dari Kemenhukham pada 2012 lalu.

Perhatian dari Pemkot Sawahlunto, aku Andri, juga sangat besar. Andri mengatakan bahwa selama ini Pemkot Sawahlunto (Dinas Koperindag) rutin melakukan pelatihan-pelatihan bagi para perajin songket Silungkang. Diantaranya, pelatihan desain, proses produksi, hingga kemasan."Tujuannya, untuk terus meningkatkan kualitas produk Songket Silungkang sehingga mampu berdaya saing di pasar", tandas Andri.

Terlebih lagi, animo menenun songket dari masyarakat Sawahlunto, khususnya Silungkang, tidak pernah meredup. Bahkan, aku Andri, kalangan anak muda Silungkang sangat mahir dan menggemari menenun songket. Sehingga, pasar tidak pernah kekurangan pasokan produk kain tenun songket Silungkang dari Kopinkra."Jadi, saya tegaskan, bantuan permodalan dana bergulir dari LPDB akan kita manfaatkan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan para perajin songket Silungkang anggota Kopinkra", pungkas Andri. Mohar/Rin

BERITA TERKAIT

HK Metals Bidik Dana IPO Rp 337,33 Miliar - Tawarkan Harga Rp 190-230 Persaham

NERACA Jakarta -PT HK Metals Utama menawarkan harga saham perdana antara Rp 190-230 per saham. Nantinya, dana  hasil IPO akan…

Sinarmas AM Targetkan Dana Kelola Rp 500 Miliar - Terbitkan Produk ETF Pertama

NERACA Jakarta – Ramaikan produk Exchanged Traded Fund (ETF) di pasar modal, PT Sinarmas Asset Management menerbitkan reksa dana indeks…

Shinhan AM Siapkan RDPT Untuk Pasar Korsel - Targetkan Dana Kelola Rp 1,5 Triliun

NERACA Jakarta – Guna memenuhi target dana kelolaan hingga akhir tahun ini sebesar Rp 1,5 triliun, PT Shinhan Asset Management…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Pentingnya Literasi dan Edukasi Keuangan untuk Mahasiswa

Pentingnya Literasi dan Edukasi Keuangan untuk Mahasiswa NERACA Jakarta - PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (“WOM Finance” atau “Perseroan”), hari…

Tersangka Mantan Walkot dan Sekda Depok Terkesan Janggal Tidak Ditahan - Proses Penyidikan Tersangka Korupsi APBD-P 2015 Jalan Nangka

Tersangka Mantan Walkot dan Sekda Depok Terkesan Janggal Tidak Ditahan Proses Penyidikan Tersangka Korupsi APBD-P 2015 Jalan Nangka NERACA Depok…

Marka Jalan di Kota Sukabumi Masih Kurang

Marka Jalan di Kota Sukabumi Masih Kurang NERACA Sukabumi - Di kota Sukabumi kelengkapan marka jalan ternyata masih kurang, rata-rata…