Menyoal Macetnya Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Oleh: Pril Huseno

Rilis data BPS kuartal II/2018 ihwal pertumbuhan ekonomi Indonesia menyentuh angka 5,27 persen (yoy) menimbulkan banyak pertanyaan. Capaian tersebut cukup mengejutkan di tengah kelesuan sektor riil saat ini. Meski masih lebih rendah dibanding target pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,4 persen. Ditilik lebih jauh, ternyata yang memicu pencapaian kinerja pertumbuhan triwulan II/2018 adalah momentum musiman Ramadhan dan lebaran 2018, pemilihan kepala daerah (pilkada) di 171 daerah, dan percepatan realisasi belanja pemerintah. Hal-hal tersebut menjadi kontributor utama terjadinya peningkatan pertumbuhan.

Namun dari serangkaian data capaian tersebut, terdapat sejumlah paradoks atas kinerja variabel makro ekonomi yang menjadi kontributor utama dari pertumbuhan ekonomi. Akankah momentum kenaikan ini berlanjut pada dua triwulan berikutnya? Atau, ini adalah titik tertinggi yang dapat dicapai pada tahun ini?

Tercatat, realisasi belanja APBN triwulan II/2018 mencapai Rp523,70 triliun (23,58 persen). Realisasi Bansos triwulan II/2018 bahkan naik 67,57 persen (Rp27,19 triliun) dibanding triwulan II/2017. Ditambah kebijakan pemerintah untuk memberikan THR bagi pegawai negeri sipil. Triwulan II juga mencatat tumbuhnya belanja pemerintah sebesar 5,26 persen, sehingga kontribusinya dalam pertumbuhan ekonomi naik dari 6,31 persen pada triwulan I menjadi 8,5 persen pada triwulan II/2018.

Jika yang mengalami pertumbuhan hanya dari sektor belanja pemerintah ditambah pengeluaran dana sosial pada puasa dan lebaran dan menjadi stimulus sektor konsumtif (konsumsi rumah tangga), bagaimana dengan kinerja sektor produktif dan investasi sebagai mesin pertumbuhan yang seharusnya menjadi penopang utama dari pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja?

Terungkap, bahwa pada triwulan II/2018 secara keseluruhan sektor industri anjlok hanya tumbuh sekitar 3,9 persen. Bahkan, sektor produktif dalam negeri seperti industri manufaktur non migas justru melorot dari 5,07 persen menjadi 4,41 persen. Itu artinya, dampak dari peningkatan belanja pemerintah hanya berdampak pada peningkatan konsumsi rumah tangga dari 4,95 persen pada triwulan I/2018 menjadi 5,14 persen pada triwulan II/2018. Itu semua termasuk ditopang oleh momentum lebaran dengan adanya THR dan Pilkada. Bagaimana menjelaskan penurunan sektor penting seperti sektor industri manufaktur non migas tersebut?

Memang, dari Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI pada (12/7) mencatat kegiatan usaha di triwulan II/2018 meningkat signifikan. Saldo bersih tertimbang (SBT) naik dari 8,23 persen di triwulan I/2018 menjadi 20,89 persen di triwulan II. Rata-rata kapasitas produksi terpakai juga naik dari 76,72 persen di triwulan I ke 78,40 di triwulan II/2018. Kenaikan itu terjadi karena dunia usaha selalu menjadikan momentum lebaran sebagai saat menangguk keuntungan sebesar-besarnya. Namun, rupanya pada triwulan II/2018 itu juga inventory tumbuh sangat tinggi 44,07 persen (yoy) dan 18,5 persen (qtq). Itu artinya, peningkatan produksi pada lebaran tidak mampu terjual. Uniknya, pada saat yang sama peningkatan impor juga terjadi sebesar 15,17 persen (yoy). Apakah kenaikan inventory dipengaruhi oleh peningkatan impor? Bagaimana menjelaskan ini?

Jika sektor yang menjadi mesin pertumbuhan justru mengalami penurunan, bagaimana kinerja ekonomi pada semester II/2018 (q3 dan q4)? Apakah mengharapkan pertumbuhan dari momen Asian Games 2018 dan sidang IMF/WB mendatang? (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

Transformasi Pembangunan Ekonomi

Oleh: Dhenny Yuartha Junifta Peneliti INDEF   Gejolak ekonomi global memang tak berkesudahan. Setiap kali datang, banyak negara dihantam. Kali…

Pertumbuhan vs Stabilitas

Persoalan target pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas mata rupiah selalu menjadi pembahasan banyak pihak. Pasalnya, untuk menjaga stabilitas rupiah, BI…

Roadmap Ekonomi Syariah Rampung Akhir Tahun

      NERACA   Jakarta - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menargetkan peta jalan (roadmap) ekonomi syariah akan rampung pada…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mewaspadai Politisasi Emak-Emak

Oleh : Rika Prasetya, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia     Beberapa pekan yang lalu, media mengulas fenomena…

Selamat Bertanding Secara Beradab Kedua Kubu Koalisi

  Oleh : Doddy Soemintardjo, Pemerhati Kajian Informasi Strategis   Jika tidak ada aral melintang,  dalam waktu dekat akan dilakukan…

Kendalikan Ekspektasi Liar dari Pelemahan Mata Uang

Oleh: Dr. Fithra Faisal Hastiadi MSE., MA., Dosen FEB-UI  Tekanan terhadap rupiah memang cukup banyak. Kondisi internal perekonomian kita juga…