AG 2018 dan Rivalitas Suporter Indonesia-Malaysia

Oleh : Raditya Putu Wicaksana, Mahasiswa Universitas Jember

Hubungan Indonesia-Malaysia berkali-kali memanas bukan karena sengketa perbatasan atau masalah keamanan negara yang terancam namun karena pertandingan sepak bola. Tingkat rivalitas kedua negara dalam pertandingan yang mempertaruhkan harga diri bangsa merupakan sesuatu yang memicu kedua suporter untuk ikut terbakar semangatnya untuk mendukung negaranya maisng-masing. Tidak terlewat laga Asian Games 2018 adalah pertandingan yang ditunggu-tunggu oleh kedua bangsa, dengan pertandingan AFF U-16 sebagai pemantik, kini rasa rivaitas antar bangsa sudah muncul kembali.

Melihat dari sejarahnya, kondisi persaingan antara kedua negara ini sudah lama berlangsung dan sering menjadi perhatian dunia melihat tingkat rivalitas kedua negara ini termasuk yang terbesar di Asia Tenggara. Bapak Proklamator kita Soekarno juga memiliki slogan yang hingga kini masih digunakan oleh bangsa Indonesia yaitu “Ganyang Malaysia”.

Perseteruan kedua negara melayu pada pertandiangan sepak bola bisa disebut juga sebagai “Derby Melayu”, sebuah pertandingan sepakbola yang didalamnya dibumbui oleh faktor harga diri bangsa, gengsi, dan politik persaingan untuk menunjukan siapa yang lebih baik diantara Indonesia dan Malaysia.

Perseteruan kedua suporter juga tidak bisa kita lupakan. Pada Piala AFF Suzuki 2012 di Bukit Jalil, terjadi bentrok antara suporter Indonesia dengan suporter Malaysia. Mereka mengucapkan kata-kata makian hingga akhirnya berbuntut kericuhan meskipun belakangan berhasil diredam aparat keamanan setempat. Patut disayangkan bahwa pada hari tersebut Indonesia tidak sedang bermain melawan Malaysia tetapi dengan Laos. Publik sempat bertanya bahwa kerusuhan tersebut merupakan settingan dan perbuatan sengaja dari Malaysia untuk menurunkan semangat Indonesia pada pertandingan tandang.

Jauh sebelumnya, ulah suporter Malaysia juga sempat terjadi ketika pemain Indonesia menghentikan pertandingan di final AFF 2010 di stadion Bukit Jalil karena para pemain Indonesia merasa terganggu dengan leser yang ditembakkan ke arah pemain Indonesia. Bahkan di final tersebut juga diramaikan dengan insiden foto suporter Malaysia menginjak syal bertulskan Indonesia dan mengacungkan jari tengahnya setelah pertandingan tersebut.

Pertandingan antara kedua tim selalu memiliki intensitas tinggi, dengan beberapa cerita yang diceritakan oleh para pemain dan pelatih Malaysia yang membuat kita mengelus-elus dada. Para suporter Malaysia sendiri juga tidak menerima dengan tangan terbuka apabila ada suporter Indonesia yang mendukung timnasnya di Malaysia, tetapi para suporter tersebut juga menggambarkan bahwa pertandingan yang dimainkan di Indonesia sebagai sesuatu yang tidak bisa jelaskan dengan kata-kata.

Sebuah gairah, loyalitas dan rivalitas bangsa dari para suporter ini lah yang memicu beberapa kali pecahnya bentrokan dan kekerasan yang terjadi antar suporter. Mereka melihat sepakbola sebagai olahraga terpopuler di dunia untuk menjadi pertaruhan simbol kekuatan dari bangsa tersebut.

Belakangan ini, tensi ketegangan antara suporter Indonesia dan Malaysia kembali memanas pasca salah satu pemain U-16 Malaysia Amirul Ashrafiq Hanifah memposting bendera Indonesia terbalik di Instagramnya. Seketika postingan tersebut viral di media sosial dan menjadi pembicaraan khalayak luas dan mengundang beberapa pendapat dari pejabat antar negara.

Hal tersebut berujung pada ejekan yang dilemparkan oleh suporter Indonesia kepada Malaysia ketika Malaysia sedang melawan Thailand pada Grup B Paiala AFF U-16 2018 yang digelar di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, Jawa Timur. Tidak berhenti disitu para pejabat kedua negara pun ikut memanas terhadap kondisi saat ini dan saling mengancam.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Malaysia, Syed Saddiq pun mengeluarkan teguran keras terhadap Indonesia dan melaporkan kejadian tersebut kepada AFF agar Indonesia mendapat sanksi dari aksi tersebut. Menanggapi hal tersebut Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi pun tidak takut dengan ancaman tersebut dan mengatakan apabila Malaysia ingin mundur, silahkan mundur saja. Hal itu diungkapkannya dengan alasan karena pada saat ejekan suporter Indonesia, kondisi Malaysia sedang kalah sehingga memicu kekecewaan pihak tertentu.

Indonesia dan Malaysia adalah negara serumpun sedarah, kita berdarah sama dan berasal dari nenek moyang yang sama. Berbagai bentuk kerja sama dan masyarakat Indonesia juga banyak yang menggantungkan hidupnya di Malaysia sebagai TKI, dengan panasnya hubungan Malaysia dan Indonesia kemananan WNI disana juga akan terancam. Kita harus tahu dan mengerti dampak dari kerusuhan yang kita lakukan, Indonesia adalah negara yang terkenal karena kesantunannya dan keramahanya kepada tamu, bukan negara yang mudah tersulut emosinya.

Pembukaan Asian Games yang akan dilaksanakan pada 18 Agustus nanti dengan venue pertama yang akan ditandingkan pada 10 Agustus akan menjadi saksi rivalitas antara Indonesia dan Malaysia. Harga diri bangsa akan menjadi taruhannya pada ajang olahraga sejagat asia tersebut. Namun tetap harga diri bangsa Indonesia akan dipermalukan apabila kita sebagai tuan rumah tidak dapat menyambut tamu-tamu kita dari seluruh negara Asia termasuk Malaysia dengan baik, menjadi supoter para atlet kita dengan memberika dukungan moral dan menghargai supoter lawan merupakan suatu hal yang wajib dilakukan. Tapi tetap kita harus berharap agar Indonesia menjadi nomor satu di Asian Games 2018.

Segala persiapan yang sudah dilakukan harus kita hormati dan kita jaga, jangan ada lagi perusakan venue olahraga seperti yang terjadi di Palembang, jangan ada lagi melakukan coret-coret dan acuh terhadap lingkungan sekitar venue. Masyarakat yang bermoral dan beradab adalah budaya masyarakat Indonesia yang harus kita jaga dan lestarikan untuk mengahargai segala perbedaan yang ada.

BERITA TERKAIT

Keseriusan China Buka Produk Impor Peluang Ekspor Indonesia - Niaga Internasional

NERACA Jakarta – Indonesia baru saja mengakhiri keikutsertaan pameran dagang importir terbesar di dunia "The 1st China International Import Expo"…

Indonesia Dorong Penyelesaian Kerangka Kerja Sama RCEP

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mendorong penyelesaian tiga bab kerangka kerja sama dalam perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic…

Wakil Ketua MPR RI - Bangsa Indonesia Agar Komit Jaga Pancasila-NKRI

Ahmad Basarah Wakil Ketua MPR RI Bangsa Indonesia Agar Komit Jaga Pancasila-NKRI Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Gejolak Persaingan Ekonomi Global vs Cashflow yang Sehat - Studi Kasus Unrealized loss PLN

  Oleh: Sudimara Pati, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Swasta Belakangan kita diberitakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) milik BUMN…

Seberapa Sustain Penguatan Rupiah Lewat Penjualan Obligasi?

Oleh: Djony Edward Tren penguatan rupiah yang super cepat masih menyimpan misteri. Begitu derasnya dana asing masuk dicurigai sebagai hot…

Mencari Akar Ketimpangan

Oleh: Sarwani Problem utama pembangunan Indonesia adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia seperti yang tercantum dalam sila ke-5 Pancasila.…