Arwana Komersialkan Paruh Kedua di 2019 - Pabrik Baru di Sumatera Selatan

NERACA

Jakarta – Kejar pertumbuhan kapasitas produksi, PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) mulai menggelontorkan investasi untuk pembangunan pabrik baru perseroan yang akan berlokasi di Ogan Komeng Ilir, Sumatra Selatan. “Pembangunan fisiknya untuk penambahan lini 1 sudah selesai dan saat ini perseroan sedang menunggu kedatangan mesin-mesin baru dari Italia. Dengan tambahan kapasitas ini, kami menargetkan mulai dikomersilkan pada semester II/2019,”kata Direktur Operasional Arwana Citramulia, Edy Suyanto di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, perseroan akan menambah kapasitas sebesar 6 juta ton yang pengerjaannya dimulai pada 2018. Perseroan telah merampungkan pembangunan fisik pabrik di Sumsel tersebut. Dengan penambahan kapasitas pabrik tersebut, total produksi perseroan per tahun dapat mencapai 63,37 juta meter persegi keramik. Perseroan memperbesar kapasitas produksi untuk menangkap pertumbuhan pasar nasional dan regional.

Kata Edy, perseroan akan terlebih dahulu meningkatkan kapasitas pabrik di Sumatra Selatan, sebelum di pabrik lain, karena kenaikan permintaan di wilayah Sumatera. Pemulihan harga komoditas dan pembangunan infrastruktur mengerek konsumsi keramik di wilayah tersebut.”Pertumbuhan permintaan keramik akan tumbuh karena konsumsi per kapita kita yang masih rendah. Dengan produksi sekitar 350 juta meter persegi tahun lalu dan 250 juta penduduk, konsumsi keramik per kapita hanya 1,3 meter persegi. Padahal rata-rata di Asia Tenggara itu di atas 2 meter persegi per kapita,” ungkapnya.

Untuk investasi tersebut, perseroan mengalokasikan dana sebesar Rp150 miliar yang pengeluarannya dilakukan secara bertahap mulai dari 2018. Sementara Direktur Keuangan Arwana Citramulia, Rudy Sujanto menyampaikan bahwa terkait dengan pendanaan pembangunan pabrik baru yang direncanakan perseroan akan terus dibangun sampai 2022, tidak perlu menggelontorkan investasi penuh pada saat pabrik mulai dibangun.

Menurutnya, pada tahun saat pembangunan dimulai, perseroan hanya perlu mengeluarkan belanja sebesar 30% dari total kewajiban. Oleh karena itu, perseroan akan memaksimalkan penggunaan dana internal dan tidak perlu mengajukan pinjaman untuk investasi.“Misalnya untuk penambahan kapasitas tersebut, ARNA melakukan pembeilan mesin dan menandatangani kontrak dengan pembayaran awal 10%. Setelah mesin diproses selama 9 bulan, pembayaran sisa 90% akan dibayarkan 1 tahun setelahbill of ladingdari tanggal mesin dimuat ke atas kapal,”kata Rudy.

BERITA TERKAIT

Selamat Bertanding Secara Beradab Kedua Kubu Koalisi

  Oleh : Doddy Soemintardjo, Pemerhati Kajian Informasi Strategis   Jika tidak ada aral melintang,  dalam waktu dekat akan dilakukan…

Hari Ini Penyampaian Visi dan Misi Walikota dan Wakil Walikota Sukabumi yang Baru

Hari Ini Penyampaian Visi dan Misi Walikota dan Wakil Walikota Sukabumi yang Baru NERACA Sukabumi - Ketua Badan Musyawarah (Banmus)…

Cadangan Beras Hingga Juni 2019 - PENEGASAN DIRUT PERUM BULOG:

Jakarta-Dirut Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Budi Waseso menegaskan, cadangan beras pemerintah aman sampai Juni 2019. Menurut dia, pihaknya sudah…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Transaksi Saham di NTB Tetap Tumbuh

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Mataram, Nusa Tenggara Barat, I Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana menyatakan, transaksi pembelian saham…

Tawarkan Harga Rp 190-230 Persaham - HK Metals Bidik Dana IPO Rp 337,33 Miliar

NERACA Jakarta -PT HK Metals Utama menawarkan harga saham perdana antara Rp 190-230 per saham. Nantinya, dana  hasil IPO akan…

Siapkan Sanksi Tegas - BEI Ingatkan Soal Aturan Free Float Saham

NERACA Jakarta - Meskipun meleset dari target, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengingatkan emiten untuk memenuhi kewajiban aturan…