Danareksa Tunda Jual Saham Garuda - Cegah Rugi Dua Kali

Neraca

Jakarta- Persetujuan pemerintah agar penjamin emisi Garuda Indonesia segera menjual sisa saham Garuda ke publik, tidak semuanya berniat untuk dilakukan. Salah satunya, PT Danareksa Sekuritas yang belum mau menjualkan sisa saham Garuda ke public.

Presiden Direktur Danareksa, Edgar Ekaputra mengatakan, perusahaan masih mengkaji rencana penjualan sisa saham Garuda dengan alasan mencari waktu yang tepat, “Kita masih mengkaji rencana penjualan saham Garuda dan tidak mau tergesa-gesa,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Asal tahu saja, persetujuan menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menjual sisa saham Garuda yang tidak terserap dimaksudkan untuk menutupi kerugian. Dimana kala itu, Danareksa bersama dengan penjamin saham Garuda yang lain yaitu, PT Bahana Securities dan PT Mandiri Sekuritas harus mencairkan dana senilai Rp 3,92 triliun untuk membeli sisa saham yang tidak terserap pasar pada saat penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).

Kemudian keputusan penjualan sisa saham Garuda tersebut, mendapatkan respon positif dari investor asing yang tertarik untuk membeli saham Garuda yang dipegang dari tiga underwriter tersebut. Beberapa investor yang dikabarkan meminati Garuda antara lain, Cathay Pacific, Delta Air dan perusahaan sekuritas Morgan Stanley.

Kata Edgar Ekaputra, hingga saat ini pihaknya belum menentukan siapa investor yang akan membeli saham Garuda. Kendatipun demikian, dirinya mengakui memang sudah banyak investor yang menyatakan ketertarikannya, “Namun sampai saat ini waktu untuk pelepasan saham belum diputuskan dengan alasan melihat waktu yang tepat, karena harga saham sedang fluktuatif,”ujarnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan pernah bilang, mempersilahkan tiga perusahaan sekuritas BUMN melepas saham Garuda, “Saya sudah setuju program dan langkah-langkah yang dilakukan oleh ketiga perusahaan sekuritas itu, apakah itu penggabungan ke salah satu bank, dan ada yang dilepas meski harganya tak ideal,”ungkapnya.

Menurut Dahlan, opsi-opsi yang disampaikan memang ada penggabungan ke bank besar dan menjual harga saham PT Garuda Indonesia Tbk ke investor meski harganya tak ideal. Pihaknya pun akan menyetujui langkah-langkah yang diambil perusahaan sekuritas tersebut.

Tidak Terserap Pasar

Seperti diketahui, penjamin emisi penawaran umum saham PT Garuda Indonesia Tbk menyerap sisa saham yang tidak terserap investor sebanyak 3.008.406.725 lembar pada penawaran umum saham perdana GIAA Februari 2011. Ketiga penjamin emisi tersebut PT Mandiri Sekuritas, PT Bahana Securities, dan PT Danareksa Sekuritas. Harga saham perdana PT Garuda Indonesia Tbk yang ditawarkan sebesar Rp750 per saham.

Kabar underwriter ramai-ramai bakal menjual saham Garuda juga terungkap dalam hasil riset Samuel Sekuritas. Dimana ketiga sekuritas milik pemerintah diantaranya, PT Bahana Securities, PT Danareksa Securities dan PT Mandiri Sekuritas akan menjual sisa saham Garuda yang tidak terserap.

Danareksa akan menjual saham GIAA miliknya kepada investor asing yang telah terbiasa berinvestasi ke sektor penerbangan. Harga yang diincar Danareksa seperti saat IPO yaitu Rp750 per saham. Sedangkan Bahana dan Mandiri Sekuritas masih belum menghitung harga yang akan dilepas ke pasar.

Penjamin pelaksana emisi saham PT Garuda Indonesia harus menyerap saham Garuda senilai Rp2,25 triliun. Saham yang diambil oleh penjamin emisi efek mencapai 3,008 miliar saham atau sekitar 47,5% dari saham yang ditawarkan. PT Garuda Indonesia menawarkan 6,33 miliar saham dengan harga Rp750 per saham. Sedangkan publik hanya memesan 3,327 miliar saham.

Saham Garuda yang diserap penjamin emisi efek pun mempengaruhi modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) penjamin emisi. Hal ini dikarenakan saham Garuda terus menurun. Dampak buruk tidak terserapnya saham Garuda di pasar perdana membuat underwriter mengalami kerugian paling telak dan kabarnya bisnis usaha tersebut nyaris collapse karena harus menyerap sisa saham senilai Rp 2,5 triliun dari target Rp 4 trilun hanya terserap Rp 1,5 triliun. (Yahya)

BERITA TERKAIT

Perlunya Daftar Hitam Asuransi Cegah “Fraud” - INISIATIF PELAKU INDUSTRI ASURANSI NASIONAL

Jakarta-Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) berencana menerbitkan daftar hitam nasabah untuk mengurangi kecurangan (fraud) dalam praktik usaha perasuransian. Ini mirip…

SDPC Patok Rights Issue Rp 110 Per Saham

NERACA Jakarta - Emiten farmasi, PT Millennium Pharmacon International Tbk (SDPC) telah menetapkan harga pelaksanaan rights issue sebesar Rp 110…

Saham KIOS Masuk Dalam Pengawasan BEI

NERACA Jakarta - Dibalik akuisisi PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) terhadap PT Narindo Solusi Komunikasi (Narindo), membuat pergerakan harga…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pendapatan BTEL Susut Jadi Rp 1,51 Miliar

Bisnis telekomunikasi milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terus menyusut. Tengok saja, hingga periode 30 Juni 2017 meraih pendapatan sebesar…

Saham IPO ZINC Oversubscribed 500 Kali

Kantungi dana segar hasil peawaran umum saham perdan atau initial public offering (IPO), PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) menyiapkan…

Hotel dan Residensial Beri Kontribusi - Penjualan PP Properti Proyeksikan Tumbuh 60%

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal dua bulan lagi, PT PP Properti Tbk (PPRO) terus bergerilya untuk memenuhi…