Kenali Siklus Kaki Anak untuk Cegah Kelainan Tulang dan Sendi

Orang tua kerap panik setiap melihat bentuk kaki sang buah hati mendadak bengkok. Natatsa Mayang Pujakusuma (29), misalnya, yang dibuat kaget lantaran melihat kaki sang buah hati, Nabilla Alika Pambayun, agak bengkok saat belajar berjalan di usianya yang pertama. Sekilas, bentuknya hampir menyerupai huruf O dengan kedua kaki yang agak terbuka lebar. "Waktu itu mama (orangtua Natatsa) khawatir cucunya kenapa-kenapa," kata Natatsa dikutip CNNIndonesia.com

Alhasil, karena khawatir dan didesak orangtua, Natatsa pun buru-buru membawa Alika berkonsultasi pada dokter. Namun, dia dibuat lega oleh dokter spesialis anak yang ditemuinya. Saat itu, menurut dokter, Alika baik-baik saja, tak perlu ada hal yang perlu dikhawatirkannya. "Kata dokter normal, bayi katanya emang kaya gitu," kata dia.

Dari situ, Natatsa belajar bahwa bentuk tulang yang agak aneh pada balita bukan berarti menyiratkan kelainan pada anak. Toh, kalaupun ada kelainan anak, dari bayi itu pasti sudah terdeteksi. Kini, Alika sudah menginjak usia 3 tahun dan tumbuh menjadi gadis cilik yang manis. Dia senang berlari kesana-kemari dengan kakinya yang kembali seperti pada umumnya.

Natatsa cuma salah satu dari sejumlah orang tua lainnya yang khawatir pada bentuk kaki buah hati yang aneh. Kepanikan ini biasanya berujung pada pemeriksaan oleh tenaga profesional di rumah sakit. Padahal, ada beberapa kelainan tulang yang bisa sembuh dengan sendirinya.

Spesialis bedah ortopedi dari Divisi Ortopedi Anak RS Pondok Indah Bintaro Jaya, dr Faisal Miraj, mengatakan bahwa kelainan itu merupakan variasi normal. Artinya, tulang dan sendi dapat berubah sesuai umur seorang anak. "Orang tua sering khawatir, apa perlu dikasih sepatu khusus atau gimana. Nanti bukan ngobati anak, tapi ngobati kekhawatiran ibu," kata Faisal dalam diskusi media di The Hook, Kebayoran Baru, Jakarta, Selasa (7/8).

Dalam hal ini, perlu adanya komunikasi yang baik antara orangtua dan tenaga medis. Untuk mencegah panik berlebih, orang tua perlu mengenal siklus kaki pada anak. Umumnya, kelainan tulang dan sendi pada anak terjadi melalui tungkai berbentuk O dan X. Namun, itu adalah hal yang normal. Bayi yang baru lahir bakal memiliki tungkai berbentuk O atau bow legs yang disebabkan oleh posisi bayi saat masih berada dalam rahim.

Orang tua, kata Faisal, perlu mengobservasi kaki anak saat berusia 2-3 tahun. Jika di usia 3 tahun ke atas tungkai masih berbentuk O, maka orang tua patut khawatir atau buru-buru melakukan pemeriksaan. "Atau, masih di bawah 2 tahun, (tungkainya) O berat (lebih lebar), maka bisa dilakukan pemeriksaan," imbuhnya.

Tungkai bentuk O juga bisa timbul akibat obesitas dan early walking atau cepat berjalan. Menurut Faisal, urat sekitar sendi pada anak masih terbilang lentur. Pada anak obesitas, beban tubuh membuat sendi melengkung dan urat sekitar sendi terdesak.

Sementara itu, early walking merupakan kondisi anak terlalu cepat berjalan. Biasanya, anak akan berjalan saat dia sudah mantap berdiri di usia 1 tahun. Jika sebelum 1 tahun bayi sudah mulai berjalan, maka tungkai jadi rawan melengkung.

Setelah melewati fase usia 2-3 tahun, kaki anak akan lurus di usia 3-4 tahun. Memasuki usia sekolah atau sekitar 6-7 tahun, kaki anak cenderung berbentuk X atau knock knee. Kondisi tungkai seperti ini menandakan urat sendi bagian dalam yang lebih lentur. Kondisi ini dapat terkoreksi seiring bertambahnya usia. "Usia 7 tahun ke atas biasanya kaki akan lurus," kata Faisal.

Tak hanya itu, Faisal juga menyarakan orang tua untuk memperhatikan anak saat berjalan. Tungkai berbentuk X biasanya membuat seorang anak terganggu saat berjalan dan membuat si anak mudah jatuh saat berlari. Hal itu disebabkan oleh sendi lutut yang kerap berbenturan. Jika sudah begitu, orang tua disarankan untuk memeriksakan si buah hati.

Selain itu, Faisal juga menyarankan orang tua untuk mengoreksi cara duduk anak. Salah satunya adalah dengan tidak membiarkan anak duduk dengan posisi W. Ini adalah posisi duduk di bawah atau lantai dengan kedua kaki yang menghadap keluar dan membentuk huruf W. Dalam kondisi ini, urat sisi dalam akan lebih tertarik sehingga bisa mengakibatkan kaki yang berbentuk X.

Jika hal-hal seperti itu luput dari perhatian orang tua, bentuk kaki akan semakin menetap dan sulit untuk diperbaiki. Pasalnya, kata Faisal, saat anak memasuki usia 13 tahun, memperbaiki kebiasaan posisi duduk sudah tak memungkinkan, hingga diperlukannya pemasangan alat berupa brace yang berfungsi untuk mengembalikan bentuk normal kaki. "Kalau sudah 17 tahun, mau tidak mau harus operasi untuk memperbaikinya," pungkas Faisal.

BERITA TERKAIT

SDM Jadi Perhatian Pemerintah - Alokasi Anggaran untuk Pendidikan dan Kesehatan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah akan memperhatikan secara serius kualitas sumber…

Pemerintah Dukung IoT Untuk Kemajuan Industri - Laboratorium IoT XL Terlengkap

NERACA Jakarta - Pemerintah mendukung operator telekomunikasi membentuk Internet of Things (IoT) sebagai salah satu solusi untuk mendukung kemajuan sektor…

Politik dan Ekonomi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Drama politik ekonomi semakin dipertontonkan para elite politik…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Indonesia Pimpin Aksi Penanggulangan Zoonosis Global

Pemerintah Indonesia menegaskan komitmen untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran penyakit zoonosis secara global dengan menyelenggarakan Pertemuan Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis,…

Bersama Hadapi Ancaman Keamanan Kesehatan

Perubahan iklim dan peningkatan resistensi anti-mikroba telah mendorong peningkatan munculnya new-emerging diseases dan re-emerging diseases yang berpotensi pandemik dengan karakteristik…

Mengatasi Diabetes Akut dengan Diet Vegan

Tiga tahun lalu, Khaled Al-Suwaidi (35) mendapat kabar buruk yang mengubah gaya hidupnya secara drastis. Dia didiagnosis menderita penyakit kronis…