Intervensi Rupiah “Kuras” Dana Sekitar Rp6,8 Triliun

NERACA

Jakarta –Bank Indonesia (BI) menggelontorkan dana sekitar Rp6,87 triliun untuk melakukan intervensi nilai tukar rupiah di pasar sekunder. Kepemilikan BI dalam Surat Berharga Negara (SBN) meningkat dari Rp4,82 triliun per 22 Februari 2012, menjadi Rp11,69 triliun per 23 Februari 2012.

Langkah BI tersebut terungkap derdasarkan data Direktorat Jendral Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuangan, Sabtu, 25/2. Bahkan sebelumnya, BI juga pernah memborong SBN pada 16 Februari 2012 senilai Rp10,41 triliun. Kepemilikan SBN oleh BI meningkat dari Rp3,49 triliun menjadi Rp13,9 triliun. Artinya Selama Februari 2012 ini, BI sedikitnya telah merogoh dana Rp17,28 triliun untuk mengintervensi nilai tukar rupiah melalui pasar sekunder.

Beberapa waktu lalu, Gubernur BI Darmin Nasution menyatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Salah satunya adalah melalui pasar sekunder. "Kita masih ada satu lagi (cara), lelang dengan valas sekaligus kita beli SUN dengan valas," ungkapnya

Di sisi lain, BI tidak khawatir akan kekurangan likuiditas. Pasalnya, untuk meraup valas dari investor, BI telah menetapkan peraturan BI (PBI) terkait devisa ekspor. "Jangan lupa, Januari devisa hasil ekspor itu akan masuk ke bank. Itu nanti akan mendorong (valas)," tegasnya

Dalam data Ditjen Pengelolaan Utang tersebut juga menyebutkan emerintah lewat Kementerian Keuangan yang melaksanakan transaksi pembelian kembali (buy back) Surat Utang Negara (SUN) secara langsung di pasar sekunder dengan menggunakan fasilitas dealing room DJPU. Alasanya hal ini merupakan salah satu instrument mencegah krisis.

Salah satu ujuan transaksi SUN secara langsung ini adalah untuk melakukan pengelolaan portofolio Surat Utang Negara. Adapun SUN yang akan ditransaksikan adalah seri FRO053 dengan pembelian sebesar Rp498,207 miliar. SUN FR0053 memiliki kupon 8,25% an jatuh tempo pada 15 Juli 2021, dengan 498,207 unit dan harga rata-rata terimbang 119,96%. Setelmen hasil pelaksanaan transaksi pembelian kembali SUN secara langsung ini akan dilaksanakan pada 28 Februari 2012, sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Transaksi pembelian kembali SUN secara langsung ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 170 PMK0812008 tentang Transaksi Surat Utang Negara Secara Langsung sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan nomor 126PMK.0812011.

BERITA TERKAIT

HK Metals Bidik Dana IPO Rp 337,33 Miliar - Tawarkan Harga Rp 190-230 Persaham

NERACA Jakarta -PT HK Metals Utama menawarkan harga saham perdana antara Rp 190-230 per saham. Nantinya, dana  hasil IPO akan…

Sinarmas AM Targetkan Dana Kelola Rp 500 Miliar - Terbitkan Produk ETF Pertama

NERACA Jakarta – Ramaikan produk Exchanged Traded Fund (ETF) di pasar modal, PT Sinarmas Asset Management menerbitkan reksa dana indeks…

BTN Pluit Resmi Jadi Kantor Cabang Penuh - Targetkan DPK Rp 1,2 Triliun

Seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk di Provinsi DKI Jakarta, khususnya Jakarta Utara yang akan mendorong kebutuhan pembiayaan perumahan, PT Bank…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Kredit Komersial BTN Tumbuh 16,89%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. mencatatkan penyaluran kredit komersial hingga Agustus 2018 mencapai sekitar…

CIMB Niaga Syariah Dukung Pembangunan RS Hasyim Asyari

      NERACA   Jombang - Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga Syariah) menyalurkan…

Jamkrindo Syariah Kuasai Pasar Penjaminan Syariah

      NERACA   Jakarta – PT Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) Syariah mencatatkan kinerja yang cukup mentereng.…