Rusia-China Tak Ingin AS Kuasai Bank Dunia

NERACA

Meksiko - Negara-negara yang tergabung dalam BRIC yaitu Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan cukup konsen soal pengganti Presiden Bank Dunia Robert Zoellick. Seperti diketahui sejak 1944 posisi Presiden Bank Dunia selalu 'dimonopoli' oleh Amerika Serikat (AS).

Mengutip Reuters, dalam pertemuan negara-negara BRIC, yang mewakili negara berkembang menekankan, calon pengganti Robert Zoellick harus terbuka untuk semua negara. Mereka menolak kebiasaan bahwa posisi bos Bank Dunia secara otomatis dari orang Amerika Serikat.

Salah satu pejabat, yang berbicara setelah pertemuan BRIC mengatakan, tidak beredar nama calon yang diusulkan untuk Bank Dunia dari Amerika Serikat. Soal apakah negara berkembang dapat posisi untuk pencalonan pengganti Robert Zoellick. "Itu tentu merupakan diskusi. Kita akan memilikinya," kata pejabat tersebut.

Calon-calon bos Bank Dunia dari negara berkembang seperti dari Indonesia telah beredar luas, misalnya muncul nama Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dalam situs www.worldbankpresident.org, dibuat sebuah polling soal siapa yang bakal menjadi Presiden Bank Dunia selanjutnya. Ada 9 calon dari negara berkembang yang masuk poling tersebut. Hasil sementara poling tersebut, Sri Mulyani menguasai 81% suara polling dengan 6.815 pemilih. Padahal kemarin suara untuk Sri Mulyani baru 3.566 pemilih.

Dari Singapura, Presiden World Bank Robert Zoellick tampaknya menginginkan suksesornya berasal dari Amerika Serikat (AS) juga. Hal ini semakin mempersulit peluang tokoh ekonomi dari negara berkembang, termasuk Sri Mulyani menduduki jabatan tersebut.

Zoellick mengatakan, jika calon penggantinya berasal dari Amerika Serikat (AS) maka akan mampu memimpin World Bank dan hal tersebut baik juga bagi AS dan perbankan karena badan ekonomi terbesar di dunia tersebut harus mewakili semua dunia.

Lanjutnya, dia juga tidak percaya bahwa negara-negara yang tengah terkena krisis seperti Spanyol, Italia ataupun Portugal membutuhkan dana bailout (bantuan) untuk meringankan beban utangnya. Tapi negara-negara tersebut membutuhkan support dari negara-negara Eropa lainnya yang menyatakan rasa optimismenya bahwa perekonomian global akan mebaik pada tahun naga air ini.

Selain itu, pada pekan lalu, World Bank meluncurkan proses seleksi untuk memilih presiden world bank baru untuk menggantikan Robert ketika dia mengundurkan diri beberapa waktu mendatang yang mengikutsertakan 187 anggota negara.

Dia mencatat bahwa AS tidak selalu memiliki jabatan penting dalam organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), WTO dan IMF. "Saya ingin AS untuk merasakan rasa tanggung jawab terhadap sistem internasional. Jadi dalam arti bahwa jika Anda mendapatkan calon Amerika yang benar saya berpikir bahwa hal tersebut bisa baik untuk AS dan bank," kata Zoellick.

Sejauh ini, dua orang yang paling sering disebut-sebut sebagai penerus kemungkinan keduanya berasal dari AS yaitu, Menteri LUar Negeri AS Hillary Clinton dan mantan penasihat Gedung Putih ekonomi dan Mantan Menteri Keuangan Lawrence Summers.

BERITA TERKAIT

Indonesia Dinilai Tak Alami Bubble Sektor Properti

      NERACA   Jakarta - CEO dan pendiri perusahaan pengembang Crown Group, Iwan Sunito, mengatakan, Indonesia tidak mengalami…

Bank Banten Luncurkan 'Kredit Usaha Bangun Banten'

Bank Banten Luncurkan 'Kredit Usaha Bangun Banten' NERACA Serang - Bank Pembangunan Daerah Banten (Bank Banten) selaku Bank milik pemerintah…

Bank Dunia Ingatkan Soal Investasi SDM

  NERACA Jakarta - Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim mengingatkan pentingnya investasi Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mendukung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Diyakini Tahan Suku Bunga Acuan

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) diyakini akan menahan kebijakan bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" di…

OCBC NISP Yakin Pertumbuhan Kredit Dua Digit

  NERACA   Jakarta - PT OCBC NISP Tbk meyakini penyaluran kredit akan membaik pada triwulan IV/2017 sehingga mampu mencapai…

Utang Luar Negeri Naik 4,7%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) naik 4,7 persen (year on year)…