Pertumbuhan 5,27% dan Utopia

Oleh: Djony Edward

Presiden Jokowi saat berkampanye menjanjikan pertumbuhan ekonomi rerata 7% per tahun. Namun kenyataannya rerata pencapaian pertumbuhan ekonomi hanya 5% plus minus 1% sampai tahun ke empat. Akankah kita bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income)?

Tentu saja pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) soal pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2018 sebesar 5,27% secara tahunan (year on year–yoy). Pertumbuhan kuartalan tersebut merupakan yang tertinggi selama pemerintahan Presiden Joko Widodo atau sepanjang periode akhir 2014 hingga saat ini.

Kepala BPS Suhariyanto berpendapat pertumbuhan ekonomi tersebut lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, meskipun masih di bawah target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang sebesar 5,4%. Triwulan kedua salah satu pemicunya adalah momen Ramadan dan Lebaran.

Bila dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, seluruh komponen yang menjadi kontributor pertumbuhan ekonomi tercatat mengalami peningkatan pertumbuhan. Konsumsi rumah tangga yang merupakan kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi berhasil tumbuh di atas 5%, setelah mentok di kisaran 4,9% sejak kuartal IV 2016. Sementara itu, konsumsi pemerintah dan ekspor tercatat mengalami lonjakan pertumbuhan.

Secara rinci, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 5,14%, lebih baik dibandingkan periode sama tahun lalu 4,95%. Lalu, investasi tercatat tumbuh, 5,87%, lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu 5,35%.

Kemudian, ekspor tercatat melonjak 7,7%, lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan periode sama tahun lalu yaitu 3,36%. Meskipun, net ekspor tercatat menurun, lantaran impor yang tumbuh tinggi. Kenaikan signifikan juga terjadi pada konsumsi pemerintah yang tumbuh 5,36%, berbalik dari pertumbuhan negatif 1,93% pada periode sama tahun lalu.

Konsumsi Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) juga mengalami kenaikan pertumbuhan di tahun politik, yaitu 8,71% di atas pertumbuhan pada periode sama tahun lalu 8,49%.

Namun, jika dibandingkan dengan kuartal I tahun ini, terdapat satu komponen pertumbuhan ekonomi yang mengalami perlambatan pertumbuhan, yaitu investasi. Pada kuartal I lalu, investasi tercatat tumbuh lebih tinggi yakni 6,89% (yoy).

Mengagetkan Menkeu

Menkeu Sri Mulyani Indrawati berpendapat pertumbuhan ekonomi pada semester I 2018 sebesar 5,27% cukup baik. Bahkan dirinya tidak percaya dan sempat kaget, bisa melesat hingga mencapai 5,27%. Mengingat pemerintah sendiri memprediksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan II hanya berada dikisaran 5,16% hingga 5,17%.

“Ini kok malah tumbuh 5,27%, jadi itu bagus. Kita lihat komponennya, jadi kita harus melihat apa yang harus dilakukan pemerintah untuk menjaga itu,” papar Sri Mulyani.

Menkeu mengatakan, bila dilihat dari pertumbuhan konsumsi juga sudah cukup baik, yakni mampu mencapai 5,14%. Menurutnya, itu didorong karena beberapa faktor seperti adanya Hari Raya Idul Fitri, Tunjangan Hari Raya (THR), gaji ke-13 serta libur panjang.

Meski demikian, Sri mengaku khawatir sebab investasi masih di bawah taget yang diharapkan oleh pemerintah. Salah satu yang harus diwaspadai adalah investasi tumbuhnya tidak setinggi yang kita bayangkan di bawah 6%. Ekspor juga lebih lemah dari yang kita prediksi dan impor lebih tinggi.

“Artinya, di satu sisi kita lihat impornya untuk bahan baku dan barang modal adalah positif tetapi belum diterjemahkan ke dalam investasi yang muncul growthnya tinggi dan juga dalam bentuk ekspor yang baik. Ini menjadi salah satu kajian kita untuk melihat secara lebih detil lagi statistiknya. Itu dari sisi demand sidenya,” demikian Sri.

Bahkan Sri berharap pada 2019 khusus investasi bisa digenjot kembali ke level 7%, walaupun jika melihat kondisi ketidakpastian global masihtinggi.

Berdasarkan perkembangan tersebut, nampaknya Bappenas mulai GR (gede rasa) dengan mengklaim Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan kelas menengah (middle income trap). Jika pertumbuhan ekonoim rerata 5,1% per tahun, maka tingkat pencapaian negara berpendapatan menengah akan dicapai pada 2038. Jauh benar.

Ekonom IDEF Bhima Yudhistira memprediksikan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebesar 5%, baru akan mengeluarkan Indonesia dari midle income trap pada tahun 2042. Pasalnya bila ingin keluar dari midle income trap pada tahun 2038, Indonesia minimal harus mempunyai pertumbuhan ekonomi sebesar 6%.

Ia menyatakan, kunci untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia ada di sektor industri manufaktur. Karena kontribusi industri manufaktur mencapai 20% dari produk domestik bruto (PDB) dan sebesar 14,1% dari total serapan tenaga kerja.

“Jika sektor industri manufakturnya tumbuh diatas pertumbuhan ekonomi serapan tenaga kerja akan naik, pendapatan per kapita masyarakat akan berkualitas. Kita sekarang menghadapi fenomena deindustrialisasi dini, terlalu cepat sektor industri manufaktur sunset sehingga lapangan pekerjaan tidak banyak tersedia,” demikian Bhima

Ia menyarankan agar Pemerintah mampu mendorong industri manufaktur dengan memperkuat inovasi di sektor industri, upgrading skill tenaga kerja, dan berikan insentif perpajakan yang fokus ke sektor berorientasi ekspor.

Sementara itu, untuk keluar dari middle income trap, pendapatan perkapita Indonesia harus mencapai sekitar US$12.000 dalam kurun waktu 2016 hingga 2045, sedangkan tahun lalu pendapatan perkapita Indonesia baru mencapai US$3.878. Maka diperkirakan Indonesia akan dapat keluar dari middle income trap pada tahun 2038 .

Asumsi tersebut berdasarkan pada kondisi gejolak ekonomi global masih berpengaruh besar. Oleh karena itu untuk mencapai pertumbuhan yang berkesinambungan, tinggi dan berkualitas, maka pemerintah perlu mendorong kebijakan struktural dalam rangka mendorong peningkatan produktivitas.

Dalam rangka mendorong peningkatan produktivitas, pemerintah perlu memperkuat sektor industri sehingga dapat mendorong perbaikan struktur neraca perdagangan dan pola penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya akan mendorong peningkatan pendapatan per kapita.

Project Consultant Asian Development Bank Eric Suganti berpendapat bukannya Indonesia tidak mungkin bisa lolos dari middle income trap, tetapi akan berat kalau pertumbuhan ekonomoi hanya di 5%. Idealnya pertumbuhannya harus lebih tinggi dari itu, misalkan di kisaran 6% hingga 7% agar daya dorong untuk lepas dari middle income trap lebih besar.

Sebenarnya jika Tim Ekonomi cukup mumpuni, maka janji kampanye Presiden Jokowi bisa dicapai, yakni pertumbuhan ekonomi 7%. Sehingga seharusnya kita sudah bisa meninggalkan jebakan negara berpendapatan menengah.

Realitasnya memang, kapasitas Tim Ekonomi Jokowi yang sangat terbatas, apalagi berorientasi utang, utang dan utang, maka nasibnya akan terus terjerambab dalam kubangan negara berpendapatan kelas menengah. Pertumbuhan ekonomi seperti stagnasi di level 5%.

Itu sebabnya Menkeu Sri tergaket-kaget ketika pertumbuhan ekonomi khusus kuartal II 2018 bisa menembus level 5,27%. Artinya, Menkeu tidak menguasai variabel-variabel yang bisa men-trigger lonjakan pertumbuhan ekonomi tersebut. Wajar saja kalau tingkat pencapaian pertumbuhan ekonomi itu hanya stagnasi di level 5%.

Meski demikian, meski karena berkah Lebaran, peningkatan pencapaian pertumbuhan ekonomi 5,27% tetap harus diapresiasi. Tinggal Tim Ekonomi harus lebih tajam lagi mengasah otak dan kebijakan, sehingga mampu mengeluarkan ekonomi Indonesia dari negara berpendapatan kelas menengah. Agak utopis memang… (www.nusantara.news)

BERITA TERKAIT

Smartfren Luncurkan Paket Super 4G Unlimited dan Super 4G Kuota

Operator seluler Smartfren meluncurkan dua produk teranyar untuk masyarakat modern yang tak bisa lepas dari internet. Masing-masing adalah paket "Super…

Indonesia dan Prancis Jalin Kerjasama Buka Sekolah Programer Gratis

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika ( Kominfo), dan Perancis bekerja sama membangun sekolah coding (pemrograman) gratis bernama “L’Académie”…

Minim Sentimen Positif Apa Maknanya - Oleh : Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Judul ini terinsipirasi oleh hal yang berkembang di pasar. Saat ini kita tahu bahwa pasar uang dan pasar modal tidak…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Asian Para Games 2018: Ajang Bergengsi Para Difabel

    Oleh : Afrizal Adam, Peneliti di Nusantara Research Satu lagi perhelatan besar se-Asia dilaksanakan di Indonesia. Kali ini…

Kewirausahaan Kaum Muda

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Tantangan kaum muda di era ke depan semakin pelik,…

Integrasi OSS dan INSW, Kemudahan Usaha & Pencegahan Korupsi

Oleh:  Johana Lanjar Wibowo, Pemeriksa Pajak Pertama Ditjen Pajak Kemenkeu Presiden Republik Indonesia menaruh atensinya terhadap pencegahan korupsi. Pencegahan dan…