Kejar Target Pertumbuhan, Belanja Modal Perlu Didorong

NERACA

Jakarta - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan realisasi belanja modal pemerintah pusat perlu didorong untuk pencapaian target pertumbuhan ekonomi dalam rentang 5,18-5,4 persen sesuai APBN 2018. “Akan lebih mudah mencapai 5,18 persen dengan catatan ada optimalisasi di belanja modal," kata Eko, seperti dikutip Antara, kemarin.

Ia juga menyoroti belanja modal di daerah yang masih susah untuk dieksekusi meskipun pencairannya dari pemerintah pusat sudah relatif lebih cepat. Eko menilai selama ini pemerintah daerah justru lebih banyak membuat belanja yang sifatnya birokratis seperti menambah pegawai dan administrasi. Padahal, lanjut dia, realisasi dari belanja modal sendiri akan punya daya dorong ke investasi daerah. Sementara belanja-belanja yang bersifat birokratis hanya akan memberikan dampak minim ke ekonomi daerah.

"Kalau kita lihat per provinsi, sebetulnya dalam 10 tahun terakhir ini belanja modal daerah itu persentasenya turun meskipun nilainya naik. Dari segelondongan belanja di APBD, yang digunakan untuk belanja modal trennya menurun," ujar Eko. Belanja modal merupakan pengeluaran anggaran yang digunakan dalam rangka memperoleh atau menambah aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat. Aset tetap tersebut dipergunakan untuk operasional kegiatan sehari-hari suatu satuan kerja, bukan untuk dijual.

Realisasi belanja pemerintah hingga Mei 2018 mencapai Rp458 triliun atau tumbuh sebesar 19,93% dibandingkan dengan tahun lalu. Namun demikian, jika diperinci, realisasi belanja masih didominasi oleh pembayaran bunga utang sebesar Rp112,48 triliun tumbuh 13,77%, belanja barang senilai Rp84,89 triliun tumbuh hampir 22%, dan bantuan sosial sebesar Rp39,25 triliun atau naik 93,2%. Sementara itu, seolah konsisten sejak awal tahun, realisasi belanja modal justru menunjukan tren yang lebih rendah dari tahun sebelumnya. Catatan pemerintah hingga akhir Mei lalu realisasi belanja modal mencapai Rp30,86 triliun, padahal tahun lalu realisasi belanja modal dalam bulan yang sama mencapai Rp31,1 triliun.

Realisasi belanja modal yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya dinilai Ekonom Asia Development Bank (ADB) Institute, Eric Alexander Sugandi tidak masalah. Ia beralasan implikasi dari peralihan konsentrasi belanja pemerintah yang tahun ini difokuskan untuk memperbaiki daya beli. Menurutnya, selama tujuannya untuk memperbaiki daya beli sebenarnya tak terlalu dipersoalkan, apalagi tahun ini memang ada switching prioritas ke bantuan sosial dan subsidi.

"Saya pikir tidak apa-apa kalau prioritas bergeser ke pemulihan daya beli, karena pendorong pertumbuhan ekonomi yang utama masih tetap konsumsi rumah tangga," kata Eric. Dia menambahkan dengan teknologi saat ini, pembangunan infrastruktur cenderung padat modal sehingga efeknya terhadap konsumsi rumah tangga tak sebesar bansos dan subsidi energi.

BERITA TERKAIT

IIF Target Salurkan Pembiayaan Infrastruktur Rp10 Triliun

  NERACA   Jakarta – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menargetkan bisa menyalurkan pembiayaan untuk infrastruktur mencapai Rp10 triliun. Hal…

Ahli Hukum Pidana: Perlu Bukti Ada Kick Back untuk Menentukan Terjadinya Kerugian Negara

Ahli Hukum Pidana: Perlu Bukti Ada Kick Back untuk Menentukan Terjadinya Kerugian Negara NERACA Jakarta - Ahli hukum pidana Prof.…

Menyoal Macetnya Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Oleh: Pril Huseno Rilis data BPS kuartal II/2018 ihwal pertumbuhan ekonomi Indonesia menyentuh angka 5,27 persen (yoy) menimbulkan banyak pertanyaan.…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Korporasi Diharapkan Tak Borong Valas

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) meminta dunia usaha tidak memaksakan diri untuk "memborong" valuta asing…

Iklan Edisi Ramadhan Yang Paling Disukai - Hasil Studi Kantar Millward Brown

    NERACA   Jakarta – Hasil studi Kantar Millward Brown soal Iklan Ramadhan yang paling disukai di 2018 menyebutkan…

IIF Target Salurkan Pembiayaan Infrastruktur Rp10 Triliun

  NERACA   Jakarta – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menargetkan bisa menyalurkan pembiayaan untuk infrastruktur mencapai Rp10 triliun. Hal…