Neraca Perdagangan RI Perlu Terus Diperbaiki

NERACA

Jakarta – Pemerintah mengakui kinerja perdagangan belum optimal di mana hingga semester pertama 2018 neraca perdagangan masih defisit. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan menjelaskan, kinerja perdagangan Indonesia bisa dibilang kurang menggairahkan. Dari enam bulan pertama, empat bulan masih isinya defisit.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus 1,74 miliar dolar AS pada Juni 2018. Namun, neraca perdagangan Indonesia sepanjang semester satu 2018 tercatat masih defisit 1,02 miliar dolar AS, dibanding semester satu 2017 yang mencatat surplus besar mencapai 7,66 miliar dolar AS.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-Juni 2018 mencapai 88,02 miliar dolar AS atau meningkat 10,03 persen dibanding periode yang sama tahun 2017 80 miliar dolar AS. Oke menuturkan performa ekspor memang masih perlu terus ditingkatkan terutama pergeseran dari produk ekspor berbasis sumber daya alam menjadi produk ekspor manufaktur.

Menurutnya, selama lima dekade terakhir, ekspor masih didominasi produk-produk primer atau berbasis sumber daya alam. "Kalau terjadi surplus perdagangan, itu hanya karena nilai komoditasnya saja yang naik. Bukan bergeser dari primer ke manufaktur atau produk yang bernilai tambah tinggi. Itu harus kita geser, jangan produk primer saja yang diekspor," kata Oke, sebagaimana disalin dari Antara.

Oke menyebutkan saat ini struktur permintaan pasar dunia sebanyak 81 persen adalah produk manufaktur, dan sisanya 19 persen produk primer. Menurut dia, ekspor Indonesia sekarang 53 persen manufaktur dan 47 persen primer. "Jadi kalau kita masih ekspor produk primer, berarti kita belum memanfaatkan permintaan yang tinggi sekali dari dunia untuk produk manufaktur. Ekspor kita sekarang 53 persen manufaktur, 47 persen primer," ujar Oke.

Kendati demikian, lanjut Oke, ia mengatakan pihaknya juga mengalami dilema. Di satu sisi pihaknya diminta untuk meningkatkan porsi ekspor produk manufaktur, namun di sisi lain produk manufaktur sendiri membutuhkan bahan baku penolong untuk memberi nilai tambah produknya, yang didapatkan dari impor.

"Kami didorong meningkatkan ekspor manufaktur, tapi barangnya itu tergantung dari bahan baku penolong yang diimpor. Karena begitu saya dorong untuk tingkatkan ekspor manufaktur, maka otomatis impornya meningkat karena produk manufaktur itu sangat tergantung dari bahan baku penolongnya," kata Oke.

Pada kesempatan lain, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengungkapkan, pihaknya akan berupaya untuk memanfaatkan dan membaca peluang dari adanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, untuk mendongkrak ekspor serta memperkuat cadangan devisa Indonesia.

Enggartiasto mengatakan bahwa dengan kondisi perang dagang antara Amerika dan China tersebut, Indonesia bisa memanfaatkannya dengan mengisi kekosongan produk yang diimpor kedua negara dan digantikan oleh produk yang diproduksi oleh industri dalam negeri. "Mengisi kekosongan produk-produk China di Amerika yang sesuai dengan produksi dalam negeri, juga peluang yang bisa diambil di China atas kekosongan produk dari Amerika," kata Enggartiasto.

Amerika Serikat melalui kepemimpinan Presiden Donald Trump telah mulai menerapkan tarif pajak tinggi terhadap barang-barang impor dari China. Retaliasi tersebut dibalas dengan mengurangi pembelian beberapa produk dari Negeri Paman Sam itu.

Dari kondisi tersebut, ada peluang yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan produk baik di Amerika maupun di China. Selain itu, Indonesia berkepentingan untuk menggenjot ekspor, dalam upaya untuk memperkuat cadagan devisa.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengharapkan agar fasilitas generalized system of preference (GSP) yang diberikan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) kepada Indonesia tidak dicabut. "Presiden menyampaikan harapan indonesia agar fasilitas GSP tetap akan diberikan kepada Indonesia karena kalau dilihat dari barang-barang di GSP, 53 persen adalah barang-barang yang diekspor oleh AS, terkait proses produksi yang diperlukan AS," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

BERITA TERKAIT

Perlu Tidak Impor Beras?

Persoalan lama kembali muncul di tengah kesibukan masyarakat menjelang Lebaran tahun ini. Perbedaan data beras antara Kementerian Perdagangan dan Perum…

REI Akan Terus Mendukung Program Sejuta Rumah

  NERACA Bogor - Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) akan tetap komit berjuang bersama pemerintah dalam merealisasikan target Program Sejuta…

OJK Pastikan Terus Kordinasi - Hadapi Tekanan Global

      NERACA   Bali - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan akan terus meningkatkan koordinasi maupun komunikasi dengan Pemerintah…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Secara Volume, Indonesia Eksportir Ikan Hias Terbesar Dunia

NERACA Bogor - Rifky Efendi Hardijanto, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan…

DPR Sebut Pasokan Kebutuhan Pokok Terjaga, Harga Stabil

NERACA Jakarta – Anggota DPR yang juga Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy mengatakan harga kebutuhan pokok selama beberapa…

Niaga Internasional - Sektor Perikanan Dapat Ambil Peluang Perang Dagang AS-China

NERACA Jakarta – Pengamat perikanan Abdul Halim mengharapkan Indonesia dapat mengambil peluang dari sektor perikanan menyusul terimbasnya sektor perikanan China…