Pesantren di Bandung Cetak Wirausahawan Lewat Agribisnis

Pesantren di Bandung Cetak Wirausahawan Lewat Agribisnis

NERACA

Jakarta - Pondok Pesantren Al Ittifaq di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, berupaya mencetak wirausahawan dari para santrinya melalui kegiatan agribisnis.

Pimpinan Pondok Pesantren Al Ittifaq KH Fuad Affandi mengatakan pihaknya berupaya memanfaatkan potensi alam yang ada di sekitar pesantren, yaitu wilayah pegunungan berhawa sejuk untuk membina para santrinya yang mayoritas dari golongan ekonomi rendah, fakir miskin, dan anak yatim piatu tidak hanya dengan ilmu agama."Namun kami juga membekali mereka dengan kemampuan usaha, terutama di sektor pertanian atau agribisnis," kata dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (7/8).

Sejak didirikan pada 1 Februari 1934 oleh KH Mansyur yang adalah kakek dari KH Fuad, Ponpes Al Ittiqaf hanya menerapkan sistem pendidikan pesantren yang dipadati dengan kegiatan mengkaji ilmu agama, tanpa mementingkan urusan ekonomi.

Di tangan KH Fuad, ponpes dikelola dengan lebih modern karena menampung santri dalam jumlah banyak yang tentu membutuhkan biaya pendidikan dan operasional yang tidak sedikit."Di muka bumi ini tak ada pekerjaan yang paling mudah selain bertani, karena tak membutuhkan syarat-syarat khusus dan siapapun boleh melakukannya. Kenapa ini disia-siakan," ujar KH Fuad.

Perlahan kegiatan usaha pertanian yang dirintisnya bersama para santri pun mulai berjalan dengan memproduksi sayuran dataran tinggi. Adapun jumlah komoditas yang diproduksi sekitar 25 jenis sayuran antara lain buncis, kentang, daun bawang, tomat, cabe hijau, paprika, sawi putih, lobak, seledri, kacang merah, wortel, jagung semi, golden berry (ciplukan), selada, kubis, dan lain sebagainya.

Seiring berjalannya waktu, usaha pertanian Ponpes Al Ittifaq pun membuahkan hasil, bahkan mampu menjadi tulang punggung kegiatan pesantren. Namun untuk menembus pasar yang lebih luas, usaha pertanian KH Fuad merasa perlu untuk membentuk koperasi.

"Sebesar apapun perusahaan, kalau pribadi atau jalan sendiri, jangan mengharapkan untuk jalan. Menawarkan produk ke modern market juga tidak dapat atas nama perorangan, melainkan harus atas nama lembaga atau koperasi," kata KH Fuad.

Dengan membentuk koperasi yang kini sudah beranggotakan 1.075 orang, Ponpes Al Ittifaq pun mampu memasok sayuran ke pasar-pasar modern hingga pasar ekspor. Kini, dengan lahan seluas 130 hektare, 270 petani yang merupakan alumni dari Ponpes Al Ittifaq mampu memproduksi dan memasok sayuran ke pasar-pasar modern hingga 2 ton setiap harinya.

Meski tidak terlalu besar, dengan omzet Rp450 juta per bulan, anggota koperasi dapat menerima SHU sebesar Rp5 juta sampai Rp10 juta per tahun. Sebagian anggota yang merupakan masyarakat sekitar mengaku tidak mengharapkan pendapatan pribadi yang besar dari Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) Al Ittifaq."Penghasilan koperasi sebagian besar digunakan untuk kebutuhan operasional pesantren seperti biaya pendidikan dan makan sehari-hari para santri," kata dia. Ant

BERITA TERKAIT

Bank Sampoerna Buka Cabang Di Bandung

    NERACA   Jakarta - Dalam rangka meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada para nasabah, PT Bank Sahabat Sampoerna…

Pesantren Diyakini Bisa Cetak Wirausaha Industri Modern

NERACA Jakarta – Pondok pesantren mempunyai potensi besar dalam mendorong pertumbuhan wirausaha industri baru di Indonesia. Kementerian Perindustrian meyakini, selain…

Bank Mandiri Kembangkan Peran Ekonomi Pesantren

  NERACA Surabaya - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk terus memperkuat peran ekonomi pondok pesantren untuk menumbuhkan usaha mikro kecil dan…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Kemenkop Benahi UKM Pasca Bencana di NTB dan Sulteng

Kemenkop Benahi UKM Pasca Bencana di NTB dan Sulteng NERACA Mataram - Kementerian Koperasi dan UKM melakukan sinergitas kegiatan di…

PNM Jambi Tingkatkan Manajemen Keuangan Pelaku Usaha di Batanghari

PNM Jambi Tingkatkan Manajemen Keuangan Pelaku Usaha di Batanghari NERACA Jambi - PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Jambi meningkatkan pengetahuan…

Ekspor Sumsel Januari 2019 Turun 17,24 Persen

Ekspor Sumsel Januari 2019 Turun 17,24 Persen NERACA Palembang - Nilai ekspor Sumatera Selatan (Sumsel) melorot pada Januari 2019 sebesar…