Kemenperin Pacu Industri Baja Bergerak dari Konstruksi ke Otomotif

NERACA

Cilegon - Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika, Harjanto mengatakan kami mencatat bahwa 6 tahun lalu, tepatnya Desember 2012, PT. Krakatau Steel dan Nippon Steel & Sumitomo Metal Corporation bekerja sama membentuk suatu joint venture, PT. Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS)

"Kami menilai ini merupakan titik awal perkembangan industri baja di Indonesia, dengan bergerak ke level selanjutnya, dari industri baja untuk sektor konstruksi menjadi industri baja yang mampu memenuhi kebutuhan sektor otomotif," kata Harjanto saat membacakan sambutan Menteri Perindustrian diacara peresmian pabrik KNSS di Cilegon, Banten, Selasa (7/8).

Lebih lanjut Harjanto mengungkapkan, sekitar tahun 2015, selama pembangunan PT. Krakatau Nippon Steel, pemerintah optimis bahwa investasi di sektor otomotif akan semakin tumbuh dan akan mendorong makin meluasnya struktur industri baja, khususnya baja untuk sektor otomotif.

"Beberapa produsen mobil di Indonesia telah memakai baja domestik. Seperti diketahui, produsen kendaraan di Indonesia sebagian besar telah memakai komponen domestik, tapi untuk bahan baku baja masih banyak impor," jelas Harjanto.

Menurut data, Harjato mengatakan, produk baja yang paling banyak digunakan di sektor otomotif adalah HRC (Hot Rolled Steel Coil), CRC (Cold Rolled Steel Coil), dan Galvanized Steel. Data impor menunjukkan nilai CRC dan BjLS di 2017 mencapai 600 ribu ton dan mencapai 406 juta USD, yang tentu saja turut mengakibatkan defisit perdagangan Indonesia.

"Karenanya, beroperasinya PT. KNSS yang akan memproduksi Cold Rolled Steel (CRC) dan Galvanized Steel dengan kapasitas 480,000 Ton per tahun diharapkan mampu memenuhi kebutuhan sektor otomotif dan industri komponen untuk produk CRC dan Galvanized Steel yang sebelumnya diimpor," papar Harjanto.

PT KNSS diharapkan dapat memberikan keuntungan dan dampak positif untuk perekonomian nasional melalui penghematan devisa melalui substitusi impor, peningkatan pendapatan pajak, penggunaan bahan baku dan tenaga kerja lokal, yang dapat mendorong pembangunan dan penguatan industri hilir. S

ebagai tambahan, dengan investasi sekitar 300 juta USD dan membuka lapangan kerja untuk sekitar 280 naker, diharapkan perusahaan ini dapat menguntungkan bagi masyaraka di sekitar Cilegon. “Karenanya, kami mendorong PT. KNSS untuk memberikan kesempatan kepada sumber daya manusia di sekitarnya serta menjalankan program yang mendukung penggunaan local contents. Selama hampir empat dasawarsa, sektor industri memainkan peran vital dalam pembangunan ekonomi Indonesia," tukas Harjanto.

Sektor industri diharapkan dapat terus meningkatkan kontribusinya terhadap PDB nasional, dari 20% di 2017 menjadi 30% pada tahun 2035. Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa sektor industri manufaktur terus tumbuh.

Saat ini, industri baja masih menghadapi tantangan global, terutama untuk produsen baja di negara berkembang dan berkembang. Pada tahun 2017, produksi global baja mentah mencapai 1,7 miliar ton, dengan hampir 50% dari produksi berasal dari China, sementara Asia Tenggara menyumbang 1,5%.

Dalam tahun yang sama, dilaporkan bahwa surplus global dalam kapasitas pembuatan baja diperkirakan mencapai sekitar 700 juta metrik ton. Situasi lebih menantang dengan perang dagang antara AS dan China. Jadi independensi industri baja harus terus diupayakan dengan mempromosikan kapabilitas pasokan, keragaman produk, daya saing, standardisasi, dan penelitian untuk pengembangan. Kita tidak boleh pasif karena ekonomi kita sedang tumbuh dan pasar kita memiliki potensi yang luar biasa.

Untuk meningkatkan daya saing industri baja domestik, Kementerian Perindustrian telah mengembangkan strategi, pertama mplementasi industri 4.0 dalam Industri Baja, untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Pada awal April 2018, kami meluncurkan roadmap Industri 4.0 yang didukung oleh Presiden Joko Widodo. Diharapkan, pengembangan industri 4.0 akan menjadi kunci untuk mendorong nilai tambah dan industri hilir berteknologi tinggi untuk menjadi pemain kompetitif dalam konteks global.

Kedua, menyediakan Pelatihan Kejuruan dan program tautan & pertandingan, untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja terampil di industri. Pada tahun 2018, kami menargetkan untuk mengembangkan 300 ribu tenaga kerja terampil, di mana 558 perusahaan dan 1500 sekolah kejuruan telah dilibatkan dalam program ini.

BERITA TERKAIT

Buka 20 Gerai Baru di 2019 - Mega Perintis Pacu Kapasitas Produksi

NERACA Jakarta – Resmi mencatatkan sahamnya di pasar modal dan menjadi emiten ke-56 di Bursa Efek Indonesia di tahun 2018,…

BANYAK FINTECH ILEGAL DARI CHINA - Satgas OJK Tindak Tegas 404 Fintech Ilegal

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satgas Waspada Investasi akhirnya menghentikan kegiatan usaha dari 404 penyelenggara layanan pinjam meminjam (peer to…

Industri di Papua Berpeluang Go Public

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Jayapura berupaya mendorong pelaku industri di Papua untuk mengakses permodalan dari pasar modal untuk…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Minuman Ringan Sudah Terapkan Teknologi HPP

NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia semakin siap menerapkan revolusi industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi terkini. Berdasarkan…

Memacu Manufaktur Lewat Percepatan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pihaknya berkomitmen untuk membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global melalui…

Pemerintah Serahkan Bantuan ke 47 Usaha Kreatif

  NERACA Jakarta – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) telah menyerahkan secara simbolis Bantuan Pemerintah untuk 47 pelaku di sektor kreatif.…