Pengawasan Perbankan di Era Perang Tarif

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Harberger (1950) sebenarnya sudah membahas efek perang tarif terhadap pengawasan perbankan. Studi harberger itu kemudian diperkuat lagi oleh Mtzler dan laursen juga pada tahun 1950. Perang tarif berpotensi menyebabkan memburuknya term of trade yang pada gilirannnya juga akan mengkikis tabungan domestik serta menghantam neraca berjalan secara bersamaan. Hancurnya sektor tabungan akan membuat perbankan domestic akan kekuarangan pasokan tabungan seiring dengan apa yang dikatakan oleh Harberger yaitu terjadinya penurunan pendapatan nyata yang disertai oleh peningkatan dari pengeluaran nyata untuk menjaga tingkat standar kehidupan yang sama.

Krisis perbankan Asia pada tahun 1990an yang lalu sebetulnya berjalan dalam paradigma yang juga dikembangkan pada tahun 1950 oleh Prebisch dan Singer yang secara independen mengembangkan tesis bahwa negara yang mengekspor komoditas primer (negara berkembang) akan mengimpor lebih sedikit barang manufaktur relatif kepada jumlah ekspor. Masalahnya tarif akan disertai oleh kurva penawaran negara musuh bersifat elastis sempurna dan negara musuh melakukan pembalasan seperti yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Kanada, RRC dan Uni Eropa, akibatnya term of trade negara-negara tersebut menjadi memburuk.

Dalam perdagangan modern, sejumlah inisiatif selain tarif disebut sebagai tindakan proteksionis. Contohnya, Jagdish Bhagwati memandang upaya negara-negara maju dalam menegakkan standar tenaga kerja atau standar lingkungan sebagai tindakan proteksionis. Selain itu, pelaksanaan prosedur sertifikasi ketat untuk barang impor juga dianggap proteksionisme. Pihak lainnya memaparkan bahwa perjanjian perdagangan bebas biasanya memiliki pasal proteksionis untuk properti intelektual, hak cipta, dan pembatasan paten yang menguntungkan perusahaan besar. Pasal seperti ini menyerahkan perdagangan musik, film, obat-obatan, perangkat lunak, dan barang manufaktur lain kepada produsen berbiaya tinggi dan menghapus kuota produsen berbiaya rendah.

Pendukung tarif ini utamanya disebut sebagai kaum berpaham pembangunan dimana kaum ini mendukung teori developmentalisme yang berpendapat bahwa perkembangan kesuksesan ekonomi di negara berkembang (terutama di Amerika Latin dan Asia Timur) memicu terbentuknya pemerintahan sah yang dipimpin para tokoh politik yang mendapatkan manfaat dari kesepakatan bersama mengenai siapa yang harus memimpin dan bagaimana mereka harus berperilaku di dunia internasional. Meraka percaya bahwa otonomi nasional di negara-negara Dunia Ketiga dapat dicapai dan dipertahankan melalui pemanfaatan sumber daya luar oleh negara-negara kapitalis.

Dalam definisi tersebut, teori ini merupakan paradigma yang digunakan untuk memutar balik dampak negatif ekonomi internasional terhadap negara berkembang pada tahun 1950-an sampai 1960-an, masa ketika negara-negara Amerika Latin mulai menerapkan strategi substitusi impor. Kebijakan ini ikut berkontribusi pada pertumbuhan produk nasional bruto Tiongkok yang naik delapan kali lipat dalam kurun dua dasawarsa. Frasa ini diciptakan oleh Ramo dengan tujuan menjadikan model pembangunan ekonomi Tiongkok sebuah alternatif — khususnya untuk negara berkembang — bagi kebijakan ramah pasar ala Konsensus Washington yang didukung oleh IMF, Bank Dunia, dan Departemen Keuangan Amerika Serikat.

Untuk alasan politik, tarif umumnya dikenakan pada barang impor, meskipun juga dikenakan pada barang yang diekspor. Dahulu, prosentase tarif terhadap sumber penerimaan negara sangatlah tinggi dibandingkan dengan saat ini. Masalahnya, guncangan pada tingkat tabungan yang mendadak dapat membuat stabilitas makroekonomi menjadi terancam ketika tarif tidak menyelesaikan masalah dari kesenjangan antara tabungan dan investasi seperti yang terjadi pada krisis Asia yang lalu.

Menurut analisis bank sentral Eropa, negara yang pertama kali menerapkan tarif akan merasakan dampak penurunan produk domestic bruto langsung pada tahun pertama sebesar 2,5 persen dimana perdagangan dunia pada tahun pertama akan turun sebesar 3,5 persendan produk domestic dunia sebesar satu persen. Goncangan ini jika tidak dikuti oleh pengawasan perbankan yang konservatif akan membuat ancaman bagi krisis perbankan di dunia termasuk di Amerika Serikat dan Eropa. Jika itu terjadi akan menghasilkan model perbankan baru yang terjadi seperti dalam proses inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut.

Inovasi disruptif akan muncul akibat krisis perbankan yang bakal terjadi dengan mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama. Dianalogikan dengan tergantinya teknologi CRT oleh LCD. Kini LCD mendominasi jenis tampilan untuk komputer meja maupun notebook karena membutuhkan daya listrik yang rendah, bentuknya tipis, mengeluarkan sedikit panas, dan memiliki resolusi tinggi.

Perbankan di ASEAN menurut analisis bank sentral Eropa akan mengalami tekanan yang cukup berat kecuali negara yang memiliki resiko kecil terhadap kenaikan tarif akan meningkat daya saingnya. Mereka yang dapat meningkatkan daya saingnya adalah “LCD”. Kepanikan yang akan terjadi di kalangan pemberi pinjaman akan memicu penarikan kredit besar-besaran dari negara yang mengalami krisis. Tindakan ini akan mengakibatkan penyusutan kredit dan kebangkrutan. Selain itu, ketika investor asing berusaha menarik uangnya, pasar valas dibanjiri oleh mata uang negara yang mengalami krisis sehingga memaksa depresiasi terhadap nilai tukarnya.

Demi mencegah jatuhnya nilai mata uang, negara-negara yang mengalami krisis akan menaikkan suku bunga dalam negeri sampai puncaknya (mengurangi pelarian modal dengan membuat pemberian pinjaman lebih menarik bagi investor) dan turun tangan mencampuri pasar valas. Sejarah membuktikan bahwa tak satu pun kebijakan ini yang dampaknya dapat bertahan lama, kecuali jika pengawasan perbankan berjalan secara profesional.

BERITA TERKAIT

Saham SOSS Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenakan status unusual market activity (UMA) pada saham PT Shield On Service…

Pengawasan Perbankan ala Mahathir

  Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis   Tak berapa lama Mahathir Mohammad terpilih kembali sebagai…

Perang Dagang Disebut Memperparah Ketidakpastian Global

NERACA Jakarta – Penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat terus terjadi dalam beberapa hari belakangan. Rupiah menguat hingga…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Kerugian PLN Hanya Sebatas Hitam di Atas Putih

  Oleh: Wawan A, Mahasiswa FE Universitas Sebelas Maret Kabar merugi datang dari sektor kelistrikan dalam negeri. Perusahan listrik negara…

Ekonomi Kreatif Masa Depan Indonesia

Oleh: Eddy Cahyono Sugiarto, Asisten Deputi Humas Kementerian Sekretariat Negara Gelombang Revolusi industri 4.0 telah membawa perubahan fundamental pada berbagai…

Urus Beras, Lupa Lahannya

Oleh: Sarwani Ribut-ribut mengenai jumlah produksi beras nasional bermula dari keputusan pemerintah untuk mengimpor sedikitnya 2 juta ton beras.  Kementerian…