Transformasi PTPN VII Menuju Ketahanan Pangan Yang Handal - Menyambut Perusahaan Terbuka

Neraca

Jakarta – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan holding BUMN perkebunan sudah bisa efektif Maret 2012 dan tujuan pembentukan holding adalah menciptakan BUMN yang kuat dan meningkatkan efisiensi. Bahkan Menteri BUMN Dahlan Iskan menyakini, bila holding BUMN perkebunan terlaksana akan bisa mencatatkan laba Rp 10 triliun. “Laba holding perkebunan ditaksir bisa meningkat mencapai Rp5,3 triliun jika induk usaha (holding) tersebut terealisasi tahun ini,”katanya di Jakarta.

Isu soal holdingisasi beberapa sektor BUMN sudah lama digaungkan, namun dengan berbagai alasan rencana tersebut kembali tertunda. Kali ini rencana tersebut kembali ditargetkan untuk rampung diselesaikan. Dibalik rencana ini adalah menciptakan BUMN yang transparan dan bersih, karena sudah menjadi rahasia umum bila BUMN menjadi ATMnya partai politik.

Maka mendobrak citra negatif tersebut, pemerintah menyerukan BUMN segera menawarkan saham perdana di lantai bursa efek melalui penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Maka langkah inilah yang dilakukan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII yang ngebet untuk IPO.

Kesiapan PTPN VII untuk menjadi perusahaan terbuka sudah diakui oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan. Dalam pelaksanaan IPO nanti, PTPN VII akan melepas 30% sahamnya dan akan membidik dana IPO sebesar Rp 1,5 triliun.

Menurut Direktur Operasi PTPN VII Mardjan Ustha, penggalangan dana dari lantai bursa yang diharapkan dapat dilakukan pada semester II 2012 ini akan digunakan perusahaan untuk peremajaan tanaman dan pengembangan industri crude palm oil (CPO). Namun semua masih berproses sembari menunggu kepastian pembentukan holding BUMN perkebunan. "Kami memang sedang melakukan proses holding BUMN perkebunan, tetapi kajian proses IPO tetap jalan terus sesuai arahan Menteri BUMN," kata Mardjan.

Transformasi PTPN VII menjadi perusahaan yang transparan, akuntanbel dan professional sudah menjadi tuntutan ditengah persaingan ketat industri agribinis. Oleh karena itu, mengaplikasikan good corporate governance (GCG) menjadi syarat utama yang tidak boleh di lewatkan.

Dukung Ketahanan Pangan

Memasuki usia yang terbilang muda ke-16, PTPN VII memiliki agenda dan tugas penting kedepan sebagai usaha milik negara yang tidak hanya sekedar mencari untung semata, tetapi menjaga ketahanan pangan dalam negeri yang harmonis dengan para petani serta menyentuh masyarakat.

Salah satu langkah nyata adalah revitalisasi kebun sawit yang menjadi usaha perseroan. Dimana PTPN VII merevitalisasi perkebunan kelapa sawit seluas 10.350 haktare (ha) di Rawapitu, Kab. Tulangbawang Lampung dengan menggandeng Koperasi Koperasi Sejahtera Bersama dan Koperasi Peduli Rakyat Bersama.

Sekretaris perusahaan PTPN VII, Sonny Soediastanto mengatakan, revitalisasi tersebut akan membuka kemitraan kelapa sawit seluas 1.500 ha dari luas lahan 10.350 yang telah direkomendasi oleh Bupati Tulangbawang, “Potensi lahan yang ada seluas 22.450 ha, dan revitaslisasi seluas 10.350 ha,”ujarnya.

Dia menjelaskan revitalisasi merupakan salah satu target dan program kerja PTPN VII untuk membangun perusahaan yang berwawasan lingkungan dengan mengajak petani setempat dalam rangka membantu pemerintah memberikan kesehteraan rakyat.

Tidak hanya kelapa sawit, perseroan juga merevitalisasi produksi jagung di Unit Usaha Bekri Lampung Tengah. Program ini juga menyokong ketahanan pangan nasional berupa penanaman tanaman pangan seluas 2.200 ha, baik melalui kemitraan dengan para petani maupun pada lahan PTPN VII.

Kata Direktur Utama PTPN VII Andi Punoko, khusus di lahan perusahaan, PTPN VII menanam jagung seluas 551 ha. Yaitu di Unit Usaha Bekri seluas 353 ha, Unit Usaha Kedaton (areal yang akan diambil alih Pemprov untuk kota baru Lampung) seluas 140 ha, dan di Unit Usaha Wayberulu seluas 50 ha (lahan eks pembibitan karet). “Dari areal seluas itu dalam waktu satu tahun akan memberikan kontribusi jagung nasional sebanyak 7.714 ton. Sedangkan sisanya seluas 1.700 ha menggunakan lahan kemitraan milik petani dan diharapkan bisa memberikan kontribusi jagung sebanyak 25 ribu ton lebih dalam setahun,” kata Andi Punoko.

Andi Punoko mengatakan, semua program yang dilaksanakan PTPN VII bertujuan membantu program pemeritah dalam hal ketahanan pangan. Dalam program tersebut, PTPN VII juga memberikan pinjaman modal usaha budidaya kepada petani sebanyak Rp5,254 miliar.

Sejak tahun 2008, PTPN VII sudah fokus mendukung program ketahanan pangan nasional dengan memberikan pinjaman modal budidaya kepada kelompok tani yang ada di Kabupaten Pringsewu, Pesawaran, Lampung Timur, Metro, Lampung Selatan dan Tulangbawang.

Sedangkan untuk kemitraan kelapa sawit sejak tahun 1993 hingga 2001, PTPN VII telah membangun kebun kemitraan di Kabupaten Lampung Tengah dengan total luas lahan 8.464 ha dengan nilai pinjaman dalam bentuk bibit sebesar Rp 8,4 miliar.

Provinsi Lampung merupakan penyumbang jagung terbesar ktiga secara nasional, setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Berdasarkan data tahun 2011 luas paen 391.637 ha dengan produktivitas 47,49 kw/ha, produksinya sebanyak 1.859.897 ton atau naik 5,68%.

Hingga November 2011 PTPN VII telah memfasilitasi pengembangan komoditas jagung seluas 1.750 ha, dengan melibatkan 1.060 petani yang tergabung dalam 58 kelompok tani dengan besar pinjaman Rp5 miliar lebih.

Disamping melaksanakan program revitalisasi, PTPN VII juga merealisasikan penanganan limbah berupa pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit. Nantinya limbah cair pabrik kelapa sawit (palm oil mill effluent/POME) tersebut sebagai media pengembangan alga.

Semangat Perubahan

Tekad PTPN VII menjadi perusahaan perkebunan pemerintah yang unggul, tangguh dan terus tumbuh dilakukan dengan berbagai macam cara dan termasuk menghidupkan semangat perubahan. Oleh karena itu, semangat kerja keras dan professional menjadi kunci utama PTPN berambisi menjadi world class company dengan mengimplementasikan nilai-nilai produktivitas, mutu, organisasi, servis dan inovasi.

Alhasil semangat perubahan yang dibawa perseroan membawa dampak positif pada kinerja perseroan yang tumbuh positif. Bahkan dengan semangat perubahan dan etos kerja baik dan bukan asal kerja, menyakini bagi PTPN VII bisa merealisasikan target pendapatan tahun ini.

Pada 2012, PTPN VII menargetkan pendapatan bersih sebesar Rp 6 triliun yang dikontribusikan produktivitas kelapa sawit dan karet yang pada tahun mencapai 475 ribu ton dengan luas hektare 23.651 hektare.

Sementara untuk 2012, perusahaan berupaya untuk meningkatkan produksi karetnya dengan langkah strategis mengganti lahan kakao yang seluas 700 hektare dengan karet. Dengan peningkatan produksi karet maka diharapkan mampu memenuhi kebutuhan karet dalam negeri dan ekpor. "Lima PTPN juga telah membentuk konsorsium untuk mendirikan pabrik ban roda dua yang ditargetkan beroperasi akhir tahun ini atau awal 2013 dan kami ingin bis berkontribusi lebih. Untuk laba 2012 ini kami targetkan bisa sekitar Rp 300 miliar lah," jelasnya

PT Perkebunan Nusantara (PTPN persero) VII sudah melakukan pembenahan di pabrik untuk mengolah tebu menjadi gula dengan target tahun ini bisa mencatat kenaikan produksi mencapai 142.167 ton, atau naik 29,2% ketimbang tahun lalu sekitar 110.000 ton.

Asal tahu saja, lahan perkebunan PTPN VII tersebar di daerah Lampung dan Palembang. Di dua daerah itu juga terdapat pabrik gula (PG) yang bernama PG Cintamanis di Palembang dan PG Bungamayang di Lampung.

Luas lahan perkebunan tebu yang memasok produksi untuk PTPN VII saat ini mencapai 22.781 hektare (ha). Sekitar 18.506 ha lahan milik PTPN VII, sisanya seluas 4.275 ha milik dari petani plasma atau Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI). Untuk kapasitas produksi gula di PG Cintamanis saat ini tercatat 5.500 TCD (ton cane day) atau ton kristal gula per hari. Sementara kapasitas produksi gula PG Bungamayang berkisar 7.500 TCD.

Maka dengan semanagat perubahan menuju perusahaan terbuka dan sehat, maka impian bisa meningkatkan produktifitas dan kinerja lebih baik sudah didepan mata. (bani)

BERITA TERKAIT

Indonesia 2045, Antara Lumbung Pangan Dunia dan Krisis Pangan

Oleh : Abdul Aziz, Mahasiswa Fisipol di PTN Jakarta   Masa kampanye yang tinggal beberapa minggu lagi membuat intensitas kampanye…

Sektor Pangan - Kasus Beras Turun Mutu Akibat Tata Kelola Distribusi Tak Optimal

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menilai kasus 6.000 ton beras busuk di…

Perkuat Bisnis Logistik - Adi Sarana Bikin Perusahaan Patungan

NERACA Jakarta – Mengoptimalkan layanan bisnis logistik, PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) menggandeng penyedia platform dagang elektronik atau e-commerce…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Lima Emiten Belum Bayar Listing Fee

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah emiten yang mengalami gangguan keberlangsungan usaha atau going concern dan berakibat tidak mampu…

Rayakan Imlek - Kobelco Berikan Special Promo Konsumen

NERACA Jakarta - Rayakan Imlek 2570, PT Daya Kobelco Construction Machinery Indonesia (DK CMI),  menggelar  customer gathering dari seluruh Indonesia.…

WSBP Pangkas Utang Jadi Rp 4,7 Triliun

PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) telah menerima pembayaran termin pada Januari 2019 yang digunakan perseroan untuk pelunasan pinjaman perseroan.…