Komitmen Indonesia Kurangi Emisi GRK, BMKG Adakan Workshop GAW

Komitmen Indonesia Kurangi Emisi GRK, BMKG Adakan Workshop GAW

NERACA

Jakarta - Data menunjukkan 14 tahun pengukuran Gas Rumah Kaca “GRK” di Bukit Kototabang tingkat konsentrasi CO2 sekitar 1.94 PPM per tahun dari 371.7 PPM pada Juni 2004 menjadi 398.8 PPM pada Juni 2018 lebih rendah dari laju kenaikkan konsentrasi CO2 global.

Hal ini tentunya membuktikan bahwa Indonesia bukan negara terbesar penghasil emitter gas CO2, seperti yang diutarakan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati saat memberikan keterangan pers di Hotel Borobudur pada kegiatan workshop Internasional On Global Atmospheric Watch, Selasa (7/8).“Kecenderungan tren yang terus naik dari waktu ke waktu menjadikan kita untuk sadar dalam upaya mitigasi perubahan iklim," ujar Dwikorita.

Dwikorita menambahkan Secara gobal, peningkatan konsentrasi rata-rata CO2 telah mencapai nilai yang signifikan di atas 400 ppm (bagian per-juta) pertama kali tahun 2015 dipicu fenomena El Nino ketika itu dan rekor baru terus muncul di tahun 2016 dan 2017.

Lebih lanjut dia mengutarakan WMO memprediksikan bahwa level CO2 global akan tetap berada di atas 400 ppm dan tidak akan turun dalam beberapa generasi ke depan. El Nino kuat 2015 telah memberikan dampak kekeringan di wilayah tropis yang dapat mengurangi kapasitas absorbsi (penyerapan) terhadap CO2 oleh hutan, tanaman dan lautan atau dikenal dengan istilah “carbon sinks”.

Carbon sinks hingga saat ini telah menyerap separuh dari emisi CO2 tetapi ada risiko proses itu menjadi jenuh dan justru berbalik menambah emisi CO2 ke atmosfer. Sehingga, “El Nino bisa saja sudah berlalu, tetapi emisi CO2 penyebab pemanasan global dan perubahan iklim tetap berlangsung”.

Dwikorita menegaskan bila tanpa penanggulangan emisi CO2, kita tidak akan mampu menanggulangi perubahan iklim dan kenaikan global temperatur kurang dari 2(C dari era pra-industri."BMKG bersama supervisi WMO telah berkontribusi secara global dan nasional dalam melaporkan pengukuran gas rumah kaca yang dilakukan Stasiun Global Atmosphere Watch (GAW)," ungkap Dwikorita.

Dwikorita pun menuturkan Di Indonesia, dibangun Stasiun GAW Bukit Koto Tabang, Sumatera Barat yang merupakan salah satu dari 30 stasiun pemantau atmosfer global di dunia dan unit kerja di bawah koordinasi BMKG yang menjadi kontributor data ke World Data Centre (WDC) meliputi data GRK, ozon dan karbonmonoksida (WDCGG), data radiasi matahari (WRDC) dan aerosol (WDCA) yang beroperasi sejak 7 Desember 1996."Stasiun GAW Bukit Koto Tabang ini mewakili kondisi gas rumah kaca di wilayah Indonesia bagian barat," tutur dia.

"Alat pengamatan yang digunakan di GAW Kutotabang merupakan standar Internasional dan sudah terverifikasi, begitupun juga dengan kualitas SDM nya sudah memenuhi syarat dan terverifikasi sehingga data yang dihasilkan pun sudah berkualitas dunia,” lanjut dia.

Ia pun menambahkan Stasiun GAW Bukit Kototabang telah berkembang menjadi pusat penelitian yang unggul untuk pemantauan dan penelitian atmosfer yang melibatkan partisipasi aktif dari pemerintah provinsi setempat, universitas dan instansi pemerintah antara lain: KLHK, Kemristek, BAPPENAS, BMKG, BPPT, LAPAN dan institusi terkait lainnya.

Ia pun menegaskan Pengamatan GRK yang dilakukan BMKG adalah sebagai salah satu komitmen Indonesia untuk ikut serta dalam aksi mitigasi sesuai kesepakatan Paris (Paris Agreement, 2015) dan niat resmi pemerintah Indonesia dalam Nationally Determined Contribution (NDC).

Target Indonesia dalam NDC saat ini adalah bagian dari Rencana Aksi Nasional (RAN-GRK) sebagai sebuah keputusan politik tingkat tinggi yang mengintegrasikan program pembangunan nasional di mana Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi GRK sebesar 29% dengan upaya sendiri atau 41% dengan dukungan sampai pada tahun 2030.

"BMKG terus berupaya melakukan pengamatan konsentrasi GRK baik melalui Stasiun GAW maupun pengukuran GRK otomatis di 5 (lima) lokasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG di daerah. Sebagai bukti keseriusan Indonesia sebagai salah satu pusat pemantau atmosfer global sekaligus salah satu paru-paru dunia, BMKG melalui APBN tahun 2013 membangun Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri Palu, Sulawesi Tengah untuk merepresentasikan data GRK Indonesia bagian tengah dan Stasiun Pemantau Atmosfer Global Puncak Vihara Klademak Sorong, Papua untuk mewakili Indonesia bagian timur,” kata dia.

"Dengan adanya penambahan jaringan stasiun pemantau atmosfer dan jaringan pemantau GRK dengan kerja sama internasional tersebut, BMKG akan mampu memberikan pelayanan terkait isu pemanasan global dan perubahan iklim yang cepat, tepat, akurat serta luas jangkauannya sebagai bentuk komitmen internasional dalam aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim global," sambungnya.

Sementara itu, Oksana Tarasova, Chief of Atmospheric Environment Research Division WMO, sangat mengapresiasi pengumpulan data yang dilakukan oleh Indonesia, karena menurutnya sangat penting dalam mewakili negara tropis yang mempunyai ciri khas paling aktif dan beresiko dibanding dengan negara lainnya.

Workshop on GAW ini diikuti dari berbagai negara, seperti berasal dari Swiss, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Cina, New Zealand, Australia dan Korea Selatan dan dihadiri pula oleh instansi yang terkait dengan pengamatan gas rumah kaca seperti KLHK, BAPPENAS, BATAN, IPB, ITB dan UGM serta stakeholder terkait. Mohar

BERITA TERKAIT

Indonesia Writers Festival 2018

Indonesia Writers Festival 2018 NERACA Jakarta - Kawasan Wisata Gunung Ijen di Banyuwangi akan menjadi tempat berlangsungnya Indonesia Writers Festival…

Taiwan Tawarkan Produk Kesehatan ke Pasar Indonesia

      NERACA   Jakarta - Indonesia merupakan negara yang berada di urutan ke-4 dengan prevalensi diabetes tertinggi di…

Huobi Indonesia Berbagi Aset Digital dan Kesuksesan - Layanan Platform Mata Uang Ditigal

NERACA Jakarta – Perluas penetrasi pasar di Indonesia, Huobi Indonesia Digital Currency Exchange secara resmi beroperasi daring. Perusahaan juga mengenalkan…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

LPDB Ajak Mahasiswa dan Alumni Perguruan Tinggi untuk Manfaatkan Dana Bergulir

LPDB Ajak Mahasiswa dan Alumni Perguruan Tinggi untuk Manfaatkan Dana Bergulir NERACA Serpong - Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir…

Tanaman Pangan Dongkrak NTP Banten Naik 1,69 Persen

Tanaman Pangan Dongkrak NTP Banten Naik 1,69 Persen NERACA Serang - Subsektor Tanaman Pangan seperti padi, jagung dan kedelai ikut…

KOTA SUKABUMI - Pembangunan Jurang Pelangi Menjadi Perhatian

KOTA SUKABUMI Pembangunan Jurang Pelangi Menjadi Perhatian NERACA Sukabumi - Pembangunan Jurang Pelangi yang berlokasi di RW 02, 03 dan…