Pemerintah Klaim “Dipaksa” Naikkan Harga BBM - Minyak Dunia Melonjak

NERACA

Jakarta--- Kenaikkan harga minyak dunia telah memaksa pemerintah tidak memiliki ilihan lain, kecuali mengambil kebijakan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Alasanya setiap kenaikan minyak dunia membuat fiskal APBN terasa berat. "Setelah harga minyak dunia meroket, setiap saat meningkat maka tentu fiskal kita tidak akan kuat. Pilihannya tidak banyak maka sekarang kita melakukan exercise untuk menaikkan harga BBM melalui APBN-P," kata Menteri Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta,23/2

Lebih jauh kata Hatta, pilihan kenaikan tersebut dikarenakan di Undang-Undang APBN tidak memungkinkan adanya kenaikan, maka dari itu pemerintah segera mengajukan APBN-P. "Karena asumsinya sudah berubah," terangnya

Menurut Hatta, pada awal Maret ini APBN-P sudah bisa sampaikan kepada DPR. "Tentu pemerintah tidak bisa sekarang mengatakan mau menaikkan sekian-sekian. Intinya presiden sudah meminta kepada para menteri untuk melakukan exercise melakukan itu. Kita posisi sekarang adalah mengajukan untuk kenaikan," paparnya.

Namun demikian, kata Mantan Mensesneg ini, pemerintah tak ingin gegabah menentukan kenaikan BBM tersebu. "Intinya adalah kita dengan harga kenaikan BBM betul-betul memberikan support atau bantuan kepada masyarakat yang betul-betul terkena dampak, jaminan kessehatan harus cukup, raskinnya harus bertambah," jelas Hatta.

Dengan adanya kenaikan tersebut, maka pihaknya juga akan membarengi dengan bantuan-bantuan lainnya. "Sehingga kenaikan tidak berdampak masyarakat. Jadi ini baik, masyarakat-masyarakat menengah kita yang sebelumnya menikmati 70% dinikmati menengah bisa lebih membayar kenaikan itu," imbuhnya

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution mengatakan rencana kenaikan harga BBM bersubsidi bisa mengakibatkan inflasi akan bergerak ke atas. Bahkan diprediksi, jika BBM bersubisidi naik hingga Rp 1.500 per liter maka inflasi bisa mencapai 5,5% lebih. "Kalau dia bergerak di atas 5%, apalagi Rp 1.500 maka (inflasi) akan bergerak di atas target Bisa lebih dari 5,5%," terangnya

Bank sentral padahal mematok inflasi di 2012 ini sebesar 4,5% plus minus 1%. Alhasil dengan kenaikan BBM ini target BI bisa tidak sampai kecuali jika bank sentral melakukan revisi. Darmin mengatakan tingginya inflasi karena BBM ini merupakan bagian dari 'cost' sebuah kebijakan. "Memang setiap kebijakan tentu ada costnya dan benefitnya. Dalam soal harga BBM memang tadinya wacananya membatasi tapi kelihatannya tidak workable, mungkin pom bensin yang ada pertamax cuma di Jakarta," tambahnya.

Menurut Darmin, jika pemerintah tidak menyesuaikan harga BBM bersubsidi ini maka APBN bisa terus jebol. "Kalau tidak dilakukan kenaikan harga, APBN akan kesulitan tapi neraca pembayaran akan kesulitan," tegas Darmin.

Lebih jauh Darmin mengatakan, mulai pertengahan 2011 lalu neraca transaksi migas mulai timpang. Total ekspor dan impor migas RI secara keseluruhan dibanding total impornya sudah mulai lebih besar impornya. "Jadi transaksi berjalan defisit, mempercepat transaksi berjalan justru membuat neraca pembayaran defisit dengan cepat membesar ke depan kalau tidak direspons sama sekali. Jadi harus naikin harga BBM dan orang harus mulai berhemat," tutup Darmin.

Sementara itu, Kepala Biro Riset Ekonomi Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter di Bank Indonesia, Juda Agung mengatakan tingkat inflasi bisa mencapai 7% lebih ketika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Naikknya harga BBM akan menyumbang 3% sendiri dalam hitungan inflasi tahunan. "Inflasi jika BBM naik itu 2-3%, itu percentage point-nya," terangnya. **maya/cahyo

BERITA TERKAIT

The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps

      NERACA   Washington - Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya…

Bank Dunia Proyeksikan Pertumbuhan 5,3% di 2018

    NERACA   Jakarta - Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 sebesar 5,3 persen, lebih tinggi dari…

MTF Mulai Pekerjakan Penyadang Disabilitas - Beri Akses Dunia Kerja

NERACA Jakarta - Sebagai wujud kepedulian dan solidaritas kepada penyandang disabilitas, PT Mandiri Tunas Finance (MTF) berencana untuk merekrut penyandang…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Menkeu Harap Swasta Makin Banyak Terlibat di Infrastruktur

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap makin banyak pihak swasta yang terlibat dalam pembangunan…

Menggenjot Skema KPBU di Sektor Pariwisata

    NERACA   Jakarta - Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang tumbuh secara masif di tahun ini. Bahkan,…

BPJS Ketenagakerjaan Siapkan Layanan Digital

      NERACA   Jakarta - Era digital menuntut semua pihak untuk dapat memenuhi tuntutan pelanggan dengan mudah dan…