Mengembangkan Produk UKM Desa Krambil Sawit - Koperasi SHS Mandiri:

Desa Krambil Sawit di Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, yang berpenduduk 6.900 jiwa bukanlah desa yang kaya akan sumber alam. Wilayahnya pun terbilang gersang dan tandus, serta warganya kurang sejahtera. Tak pelak, sektor pertanian dan produk lainnya terbilang sulit untuk dikembangkan.

Namun, siapa sangka, dibalik serba keterbatasan tersebut hadir sebuah koperasi yang mampu melambungkan produk UKM berbahan dasar Ketela asal Krambil Sawit. Yaitu, Koperasi Sehat Hijau Sejahtera (SHS) Mandiri. “Kita memiliki potensi Ketela. Namun, selama ini yang dijual hanya Ketela. Dengan panen setahun sekali, tentu tidak menutup cost produksi petani”, kata Ketua Koperasi SHS Mandiri, Antono Putra (35 tahun).

Meski badan hukum koperasi SHS Mandiri baru terealisasi pada tahun 2018 ini, namun perjalanan Antono memberi kesadaran berkoperasi bagi masyarakat Desa Krambil Sawit sudah mulai dilakoni sejak 2007. “Saat itu, saya melihat warga desa yang 70% adalah buruh petani ssangat membutuhkan sentuhan permodalan untuk mengembangkan produk dari Ketela. Saat itu, mereka lebih senang kerja sendiri alias enggan berkelompok”, kata Antono yang sempat Drop Out dari UIN Sunan Kalijogo Yogyakarta.

Dengan tujuan membantu petani, pada 2010, Antono membangun sebuah BMT Migunani. “Saya menyasar petani yang memiliki usaha kecil dengan member pinjaman dana BMT untuk modal pengembangan usahanya. Pola yang saya terapkan adalah bagi hasil. Sayangnya, usaha tersebut macet”, kenang Antono.

Antono tidak putus asa. Dirinya bersama kelompok anak muda berencana mengambilalih sebuah Koperasi Pertanian yang ada namun tidak dikembangkan dengan baik. Niat baik Antono dan kawan-kawan kandas. Mereka berjuang mengurus pendirian koperasi, sampai lahir badan hokum Koperasi SHS Mandiri pada awal 2018 ini. “Ternyata, mengurus badan hukum koperasi itu sulit juga ya”, ungkap Antono.

Antono menjelaskan, butuh proses panjang untuk mengubah mindset warga desa, khususnya petani Ketela di sana, untuk tidak menjual Ketela melainkan menjual produk olahan dari bahan baku Ketela. Pelan namun pasti, Ketela pun kini telah mampu diolah ke berbagai produk makanan olahan bermerek Patilo. “Patilo itu Ketela yang diparut diambil sarinya, lalu diendapkan untuk dibentuk menjadi sejenis kerupuk, keripik, dan makanan ringan lainnya”, jelas Antono.

Antono berencana untuk membangun satu gudang untuk menampung produk Ketela para anggotanya. Sehingga, untuk urusan perdagangan Ketela dan juga produk olahannya akan melalui satu pintu saja, yaitu Koperasi SHS Mandiri. “Namun, itu masih sebatas impian karena tentunya butuh modal besar”, keluh Antono.

Yang menarik, kata Antono, kehadiran Koperasi SHS Mandiri mampu meredam pertumbuhan rentenir di desanya. “Kita juga menyediakan pengadaan pupuk bagi para petani desa, dengan bunga hanya 1,5% perbulan. Itu sudah termasuk untuk simpanan anggota, dari pokok, wajib dan sukarela”, jelas Antono.

Antono terus bertekad mensosialisasikan keunggulan koperasi dan pembelajaran perkoperasian bagi kesejahteraan masyarakat Desa Krambil Sawit. “Hanya saja, saya harus akui, langkah itu berat namun saya tetap optimis. Pasalnya, kesadaran menabung di koperasi masih sangat rendah. Itu tugas utama kita disini”, tandas Antono.

Saat ini, selain membangun produk olahan Ketela, Koperasi SHS Mandiri pun menggalang anggotanya yang berjumlah 360 orang untuk mengembangkan produk olahan dari pisang. Koperasi SHS Mandiri pun mengajak warga desa dalam satu gerakan menanam pisang. “Produk pisang akan diolah UKM binaan Koperasi SHS Mandiri. Meski kita harus akui bahwa proses makanan olahan itu masih dilakukan secara tradisional. Mereka butuh sentuhan teknologi. Dan itu menjadi PR bagi Koperasi SHS Mandiri”, tegas Antono.

Ke depan, lanjut Antono, pihaknya juga akan mengembangkan kelompok peternak komunal seperti peternak kambing, sapi, dan ayam. “Kita terus menggali potensi-potensi apa saja yang bisa dikembangkan dari Desa Krambil Sawit”, ujar Antono.

Untuk itu, lanjut Antono, pihaknya sudah melakukan kerjasama dengan mahasiswa UIN Yogyakarta yang tengah melakukan KKN untuk menciptakan bahan fermentasi makanan ternak. “Karena, wilayah kita jarang turun hujan sehingga sangat sulit mendapatkan rumput hijau dan segar. Saya meyakini langkah ini bisa membantu para ternak dalam penyediaan makanan untuk ternaknya”, kata Antono.

SHS Mart

Langkah Koperasi SHS Mandiri yang pernah mendapat bantuan program pelatihan bagi Masyarakat Strategis itu tidak hanya sampai disitu. Melihat ada potensi wisata di wilayahnya, yaitu Pantai Ngedan, Antono pun mulai menggali potensi bagi para anggotanya. Salah satunya adalah membangun SHS Mart, yaitu warung-warung kuliner untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan. “Setiap akhir pekan, Pantai Ngedan yang masih perawan itu dikunjungi wisatawan sekita 500-1000 orang. Itu potensi bagi Koperasi SHS Mandiri dan seluruh anggotanya”, kata Antono.

Antono menjelaskan bahwa saat ini Koperasi SHS Mandiri memiliki 100 SHS Mart milik para anggotanya. “Itu baru dari tiga dusun saja, sementara kita memiliki sembilan dusun. Jadi, SHS Mart masih bisa kita kembangkan. Koperasi yang mengisi produk-produk warung-warung itu secara kulakan”, ujar Antono.

Di samping itu, kata Antono, beberapa anggota Koperasi SHS Mandiri yang berprofesi sebagai pedagang bakso gerobak dorong kini sudah berani berdagang di desa Krambil Sawit. Biasanya, mereka berjualan di kota-kota seperti Yogyakarta. “Artinya, mulai terlihat geliat ekonomi dan daya beli masyarakat desa”, kata Antono.

Selain itu, Antono juga bercita-cita ingin membangun homestay yang melibatkan banyak penduduk desa. Nantinya, homestay tersebut akan dikelola Koperasi SHS Mandiri. “Lagi-lagi, masalah modal menjadi kendala bagi Koperasi SHS Mandiri untuk mewujudkan hal itu. Karena, membangun atau merenovasi rumah penduduk untuk layak homestay membutuhkan biaya yang tidak sedikit”, ungkap Antono. Untuk mewujudkan itu, Koperasi SHS Mandiri sudah menjajaki kerjasama dengan beberapa pihak.

Antono pun berharap ada program revitalisasi pasar tradisional untuk Pasar Ceper yang ada di wilayahnya. Tujuannya, agar para UKM anggota Koperasi SHS Mandiri bisa berjualan secara representative di jalur wisata. “Saya juga berharap, pasar tersebut dikelola oleh koperasi yang akan buka setiap hari. Karena, selama ini, Pasar Ceper hanya buka seminggu sekali”, ucap Antono.

Dengan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki Desa Krambil Sawit melalui Koperasi SHS Mandiri, Antono yang baru Semester IV mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gunung Kidul, berkeinginan untuk membendung arus urbanisasi kalangan muda desa ke kota. “Wajar mereka merantau, karena desanya tidak ada peluang ekonomi yang bisa dikembangkan. Melalui koperasi ini, saya ingin membuktikan bahwa di desa juga bisa menciptakan uang”, pungkas Antono yang kini mendapat julukan dari warga Krambil Sawit sebagai Bapak Koperasi Desa.

BERITA TERKAIT

Mendes PDTT - Sekitar 30.000 Inovasi Desa Bisa Jadi Inspirasi

Eko Putro Sandjojo Mendes PDTT Sekitar 30.000 Inovasi Desa Bisa Jadi Inspirasi Jakarta - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan…

Japnas: Produk Lokal Perlu Dukungan Pemkot Bandung

Japnas: Produk Lokal Perlu Dukungan Pemkot Bandung NERACA Bandung - Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) menyatakan para pengusaha di level mikro…

Korupsi Dana Desa

Desa yang bakal kebanjiran anggaran negara pada hakikatnya bertujuan mulia, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Namun pada kenyataannya, banyak…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Pegawai Kemenkop dan UKM Lakukan Aksi Galang Dana Untuk Korban Bencana

Pegawai Kementerian Koperasi dan UKM melakukan aksi penggalangan dana bagi korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.…

Presiden Setujui Pendirian Universitas Persis

      Presiden Joko Widodo menyetujui pendirian Universitas Persis sebagai bagian dari upaya pembangunan sumber daya manusia (SDM) agar…

Pertimbangan Orangtua Agar Anak Sekolah Di Luar Negeri

      Secara rutin setiap tahun HSBC, melakukan survei global terkait dalam bidang pendidikan dalam "The Value of Education,…