Masih Booming, Sruput Untung Usaha Thai Tea

Demam minuman teh ala Thailand alias thai tea ternyata masih berlanjut. Pasar minuman asal negeri Gajah Putih tersebut ternyata masih menjanjikan dan kian booming. Hal tersebut dibuktikan dari pelaku usaha baru yang terus bermunculan. Tawaran kemitraan Thai Tea pun tak kunjung surut.

Kali ini, tawaran kemitraan datang dari BeDenk Thai Tea asal Pamulang, Tangerang Selatan. Berdiri sejak akhir 2017, BeDenk Thai Tea langsung menawarkan kemitraan dua bulan kemudian. Saat ini sudah ada dua gerai yang berdiri di sekitar Tangerang Selatan. "Usaha kami ini bermula dari usaha katering. Nah, salah satu menunya kebetulan ada thai tea. Dan karena minuman ini sedang tren, akhirnya kami buat brand khusus thai tea dan menawarkan kemitraan," jelas Ahlul Lutfi Fauzi, pemilik BeDenk Thai Tea.

Ada dua paket yang ditawarkan Lutfi, yakni paket silver senilai Rp 7 juta dan paket gold senilai Rp 10 juta. Dengan modal tersebut, mitra bakal mendapatkan fasilitas satu buah booth/gerobak, kerjasama usaha selama dua tahun, peralatan usaha, perlengkapan usaha, kemasan, panduan standar operasional, pelatihan karyawan serta bahan baku awal.

Lutfi menjelaskan perbedaan kedua paket tersebut ada pada jumlah peralatan usaha dan bentuk gerobak. Untuk paket Rp 7 juta akan mendapatkan gerobak portable yang bisa dibongkar-pasang. Sedangkan paket Rp 10 juta mendapatkan gerobak berbahan kayu.

Laiknya, minuman sejenis, BeDenk Thai Tea menawarkan aneka rasa thai tea, seperti original, green tea, taro, stroberi dan cokelat. Ada juga tambahan topping bubble. Thai tea dengan aneka rasa tersebut dibanderol dengan harga antara Rp 10.000-Rp 12.000 per cup.

Terkait pendapatan, Lutfi menyebut bahwa rata-rata s atu gerai BeDenk Thai Tea bisa menjual antara 30-50 cup per hari. Artinya, gerai ini bisa meraup omzet antara Rp 300.000-Rp 500.000 per hari. "Omzet tergantung tempat dan tren, bisa kurang, bisa juga lebih," ujar Lutfi.

Dengan besaran omzet tersebut, mitra ia targetkan bisa mengantongi laba bersih sekitar 30% dari omzet. Alhasil, mitra bisa mencapai balik modal antara dua sampai empat bulan.

Pihaknya tidak menarik biaya apapun saban bulan. Hanya mitra wajib membeli bahan baku bubuk minuman dan kemasan dari pusat.

Pemain lain yang merasakan untungnya usaha ini adalah Shuma Pradana, Owner Kako Thai Tea Indonesia, mengungkapkan, perkembangan minuman ini cukup pesat. Ini bisa dilihat dari banyaknya pelaku bisnis baru dengan mengusung produk Thai tea di Indonesia. “Pertumbuhan jumlah mitra Kako Thai Tea di tahun 2017 ini, mengindikasikan bahwa bisnis ini adalah salah satu bisnis paling diminati di tahun ini,” jelasnya.

Bagi Anda yang berminat menjadi franchisee dari Kako Thai Tea, ada beberapa paket franchise yang ditawarkan. Yang pertama terdapat paket Booth Ekspress dengan nilai investasi sebesar Rp 15 Juta rupiah. Lalu ada paket Booth Island dan paket Mini Cafe yang masing-masing memiliki nilai investasi Rp 33 juta dan Rp 68 juta rupiah. “Sudah termasuk segala macam booth, bahan baku, Peralatan dan perlengkapan usaha lengkap sesuai type paket, desain branding, support dari kako pusat, pelatihan, survey, dan konsultan usaha,” tandasnya.

BERITA TERKAIT

BLTA Raup Untung US$ 5,42 Juta

Sepanjang tahun 2018, PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) mencatatkan laba bersih sebesar US$ 5,42 juta atau membaik dibanding periode yang…

Kemudahan Perpajakan bagi Pelaku Usaha e-Commerce

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, AR KPP Pratama Sorong *) Terlihat peluang sejumlah perusahaan rintisan ini cerdik mengambil kesempatan atas…

Kuningan Masih Butuh 14 Ribu PJU

Kuningan Masih Butuh 14 Ribu PJU NERACA Kuningan – Sarana umum yang ada di Kabupaten Kuningan cukup banyak dan variatif,…

BERITA LAINNYA DI PELUANG USAHA

Tahun 2019, Pemerintah Targetkan 8 Juta UMKM Aplikasikan Tekhnologi

Pemanfaatan teknologi digital untuk bisnis, khususnya skala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), sudah menjadi sebuah keharusan. Sebab itu, upaya…

Pesatnya Perkembangan Pasar Modern dan Digitalisasi, Sarinah Tetap Bina UMKM

BUMN ritel PT Sarinah (Persero) menyatakan yakin bisa tetap eksis di tengah pesatnya perkembangan dunia digital. Untuk itu, Sarinah tetap…

Pertemuan IMF –WB Momentun Perkenalkan Produk UMKM Nasional Dikancah International

Pertemuan tahunan IMF – World Bank (WB)  yang berlangsung di Nusa Bali harus bisa menjadi momentum memperkenalkan produk  usaha mikro,…