BBM Naik, Pasar Modal Masih Tahan Banting - Kondisi Eropa Pengaruhi Signifikan

Neraca

Jakarta – Rencana pemerintah memilih opsi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) ketimbang pembatasan BBM akan memberikan pengaruh cukup besar terhadap inflasi, namun tidak untuk industri pasar modal. Pasalnya, sentimen negatif tersebut tidak terlalu signifikan ketimbang sentimen kondisi di Eropa.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan, kenaikan harga BBM tidak terlalu signifikan untuk pasar modal, “Dampak inflasi juga diperkirakan tidak akan lebih dari 5,5% dan kondisi ini berbeda dengan pasar modal yang pergerakannya di pengaruhi kondisi Eropa,”katanya di Jakarta, Kamis (23/2).

Dia juga menuturkan, dampak kenaikan BBM juga tidak mempengaruhi nilai investasi di pasar modal. Tahun lalu total investasi mencapai Rp 4,3 triliun dan untuk empat bulan terakhir sekitar Rp 5,2 trilliun. Kondisi ini diklaih tidak ada pengaruh pula nilai investasi dengan pemisahan rekening dana investasi.

Minat IPO

Kata Ito, beberapa perusahaan pada awal maret nanti akan memasukkan proposal ke BEI untuk menawarkan saham perdananya melalui initial public offering (IPO). Tercatat ada beberapa prusahaan tambang yang baru masukka proposal dan diprediksikan IPO akan marak terjadi pada bulan Mei, Juni dan kemudian pada Oktober dan November.

Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan pilihan dari kebanyakan perusahaan yang memakai buku Juni. Dia menyampaikan, minat perusahaan untuk IPO dipengaruhi kondisi pasar yang baik dan pertumbuhan ekonomi positif.

Disampaikannya, perkembangan pasar dua bulan terakhir terkait dengan Investment Grade dan tentunya akan berpengaruh dalam jangka panjang. “Sebenarnya, investor asing sudah lebih dahulu mempercayai Indonesia dibanding rating agency dari fitch dan moody's dan dalam 6 tahun terakhir, investor asing tidak pernah berkurang untuk berinvestasi di kapital market,”tegasnya.

Kemudian pemicu lain, investor asing betah investasi pasar modal di dalam negeri karena harga saham di Indonesia relatif lebih mahal dari Singapura dan Shang Hai. Dimana keadaan tersebut ternyata terkait dengan kemampuan para emiten dalam menghasilkan laba.

Pada tahun 2011, pertumbuhan laba naik 30% dengan nilai Rp 200 trilliun dan pertumbuhan per-September tahun lalu mencapai laba bersih 33%. Dimana pertambahan laba diperkuat dari sektor pertambangan, keuangan dan perbankan.

Mengenai target penambahan investor tahun 2012, Ito menyebutkan sekitar dua juta investor dan dua bulan terakhir ada penambahan baru sebanyak 360.000 investor. Maka untuk mencapai target, BEI terus melakukan sosialisasi dan edukasi, karena sampai saat ini baru sekitar 0,2% dari total penduduk di Indonesia yang berinvest di pasar modal.

Selanjutnya, Ito juga menyinggung soal penambahan jam perdagangan yang akan dilakukan dalam waktu dekat untuk menyelaraskan jam buka pasar dengan bursa Singapura dan Hongkong. (Yahya)

BERITA TERKAIT

Sikapi Rekomendasi Credit Suisse - Dirut BEI Masih Optimis Pasar Tumbuh Positif

NERACA Jakarta – Di saat banyaknya pelaku pasar menuai kekhawatiran dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China terus…

Benny Tjokro Tambah Modal Armidian

Investor kawakan di pasar modal, Benny Tjokrosaputro menambah modal PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY) senilai Rp99,89 miliar, melalui penyerapan 340,95…

Tingkatkan Pangsa Pasar - Kimia Farma Bakal Akuisisi Phapros

NERACA Jakarta – Kembangkan ekspansi bisnis, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan membeli 47.901.860 lembar atau 56,77 dari total saham…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Adira Finance Terkoreksi 28,81%

Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) mencatatkan laba bersih Rp1,815 triliun atau turun 28,81% dibanding periode…

Optimisme Ekonomi Tumbuh Positif - Pendapatan Emiten Diperkirakan Tumbuh 9%

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan keyakinan masih positifnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri menjadi alasan bagi BNP Paribas IP bila pasar saham…

MNC Sekuritas Kantungi Mandat Tiga IPO

Keyakinan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bila tahun politik tidak mempengaruhi minat perusahaan untuk go publik, dirasakan betul oleh PT…