Bank Mutiara Targetkan Kredit Rp11,6 T

NERACA

Jakarta--- PT Bank Mutiara Tbk terus berusaha membangun kinerja yang baik melalui membangun kerjasama dengan perusahaan konsultan anggota Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) untuk mendukung proyek yang pendanaannya berasal dari APBN dan BUMN. “Kerja sama ini nantinya diharapkan memberikan layanan perbankan prima khususnya dalam memberikan dukungan administrasi berupa bank garansi dan rekening koran. Dalam kegiatan lelang tender maupun pendanaan proyek yang ditangai Inkindo," kata Direktur Utama Bank Mutiara Maryono di Jakarta,23/2

Lebih jauh kata Maryono, perusahaan konsultan membutuhkan dukungan dari dunia perbankan dalam kegiatan lelang. Baik untuk proyek yang didanai APBN maupun lembaga internasional multilateral. Melalui kerja sama tersebut, diharapkan total kredit yang akan disalurkan Bank Mutiara mencapai Rp11,6 triliun dengan peningkatan aset menjadi Rp14,78 triliun di akhir 2012.

Rasio pinjaman terhadap pinjaman atau Loan Deposit Ratio (LDR) naik dari 70,9 persen di 2010 menjadi 83,9 persen di akhir 2011. Bank Mutiara telah menekan kredit macet (NPL) dari 24,8 persen di 2012 menjadi 5,5 persen di akhir 2011. "Dari sisi pendanaan, Bank Mutiara memberikan pembiayaan untuk sektor UKM dan sektor konsumsi," terangnya

Disisi lain, kata Muryono, perseroan juga menargetkan Dana Pihak Ketiga (DPK) di 2012 mencapai Rp12,4 triliun atau meningkat 15%. Berdasarkan catatan, aset per akhir Desember 2011 unaudited mencapai Rp13,3 triliun atau tumbuh 22% disbanding 2012 sebesar Rp10,78 triliun. "Perolehan laba didukung oleh pengucuran kredit dari DPK mencapai Rp11,2 triliun atau tumbuh 26 persen dibanding 2012 Rp8,9 triliun," paparnya

Ditambahkannya, 99,996 persen saham Bank Mutiara dimiliki pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Tercatat, sebelum diaudit, selama 2011 Bank Mutiara memperoleh laba Rp291 miliar atau tumbuh 33 persen dibanding 2011 yang sebesar Rp218 miliar.

Dari total aset tersebut, Bank Mutiara mengklaim telah menjadi bank menengah yang beraset di atas Rp10 triliun. Mengenai ekuitas Bank Mutiara di 2011 mencapai Rp1,2 triliun atau tumbuh 29,5% dibandingkan 2010 sebesar Rp774 miliar.

Bank Mutiara pada 2012 bekerja sama dengan ATM Prima melakukan pembiayaan ke perusahaan sekuritas dan memberikan layanan internet profit banking. Dari kerja sama tersebut, Bank Mutiara berharap dapat mendukung proses divestasi yang sedang dilakukan LPS.

Selain itu, pada semester II-2012 ini berharap bisa melakukan sindikasi melihat faktor makroekonomi Indonesia saat ini. Untuk pembiayaan pertambangan dan perdagangan. "Mengenai penjualan Bank Mutiara itu kewenangan LPS, kami hanya menekan value agar Bank Mutiara menjadi bagus ke depannya," ujarnya.

Sedangkan mengenai penambahan modal dalam ketentuan LPS yang dibatasi 8,0-10 persen, menurutnya, mengingat CAR Bank Mutiara sudah di atas 11%, dan perseroan sedang melakukan kajian subdebt yang sifatnya private dengan nilai Rp500 miliar. **cahyo

BERITA TERKAIT

Perang Dagang Diyakini Tak Gerus Pertumbuhan Kredit

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meyakini peningkatan perang dagang antara Amerika Serikat (AS)…

Perbanyak Mitra Baru - Kioson Targetkan Penjualan Rp 4,74 Triliun

NERACA Jakarta – Rencanakan menambah mitra baru tahun ini menjadi 70 ribu mitra yang tersebar di Indoesia, PT Kioson Komersial…

Transportasi Massal Gunakan Satu Kartu Bank

Pengoperasian uji coba LRT di Rawamangun, Jakarta, harusnya bersamaan dengan uji coba pelaksanaan pembayaran kartu bank seperti e-money, flash, Brizzi…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BCA akan Merger Bank Royal dengan Anak Usaha Syariah

  NERACA   Jakarta - PT. Bank Central Asia Tbk mengungkapkan akan memerger atau menggabungkan anak usahanya PT. BCA Syariah…

Perang Dagang Diyakini Tak Gerus Pertumbuhan Kredit

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meyakini peningkatan perang dagang antara Amerika Serikat (AS)…

BI akan Melakukan Penyesuaian Kebijakan Moneter

    NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai Bank Indonesia (BI) akan melakukan penyesuaian kebijakan moneter…