BI : Turunkan Bunga Deposito Perbankan

NERACA

Jakarta---Bank Indonesia meminta agar perbankan nasional merombak suku bunga deposito. Alasanya suku bunga deposito yang ditetapkan sudah tak rasional. Karena memberi bunga deposito berjangka satu bulan dan satu tahun dengan jumlah yang tidak terlalu berbeda. "Sektor keuangan dan perbankan kita tidak rasional dan efisien. Bunga deposito di bank, 6% per bulan. Sedangkan satu tahun 6,25% . Ini berarti ada yang salah, ini harus dibongkar lagi," kata Gubernur BI, Darmin Nasution di, Jakarta, Kamis (23/2)

Padahal kata, Darmin lagi, beberapa negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia dan Filipina, bunga deposito bulanan hanya sekitar 3%-4%. Sedangkan bunga deposito tahunan baru sekira enam persenan sehingga jaraknya lumayan tinggi. "Di kawasan ASEAN, industri perbankan kita memiliki rasio biaya operasional dibandingkan pendapatan operasional (BOPO) yang tergolong tinggi. Ini agak kontradiksi dengan margin bunga bersih (NIM) perbankan kita yang ternyata juga menempati posisi tertinggi," tambahnya

Oleh karenanya, Darmin, menilai ada baiknya kalangan perbankan mereview dan menyempurnakan komposisi asset dan funding masing-masing.

Lebih jauh kata mantan Dirjen Pajak ini, kenaikan laba perbankan yang tumbuh besar di 2011 lalu, bukan disebabkan karena industri tersebut menambah porsi kreditnya. Bank Sentral justru menilai kenaikan ini disebabkan karena bank terlalu khawatir sehingga menerapkan premi risiko kredit terlalu tinggi. "(Kenaikan laba perbankan) enggak semuanya datang dari laba, dalam proses pembukuan mereka, ada yang namanya premi risiko. Pada akhir tahun, ternyata Non Performing Loan (NPL) enggak meningkat sehingga premi risiko praktis enggak terpakai dan jadi laba," ujarnya

Dalam menentukan suku bunga kredit, bank sangat memperhitungkan beberapa hal seperti cost of fund (biaya dana), overhead cost (biaya operasional, profit margin dan premi risiko. Premi risiko ini adalah semacam perlindungan bagi bank jika ternyata kredit yang disalurkannya mengalami kemacetan. Namun ternyata, menurut Darmin, rasio kredit macet (NPL) bank sampai akhir tahun tidak naik.

Oleh karena itu, Darmin melihat bahwa kenaikan laba industri perbankan, belum dikarenakan kenaikan penyaluran kredit. Suku bunga kredit di perbankanpun tak juga turun mengikuti BI rate. "Itu menunjukkan upaya kita menurunkan efisiensi belum ditransmisikan seluruhnya terhadap nasabah peminjam, bunga kredit belum turun sama cepat dengan bunga depositonya," lanjut Darmin.

Namun, Darmin menyebut upaya mendorong efisiensi perbankan salah satunya dengan menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) membutuhkan waktu yang panjang. "Ini proses masih berjalan. Kita sudah turunkan berkali-kali policy rate, tapi memang prosesnya enggak mudah, proses yang harus terus menerus, konsisten dan enggak bisa berubah begitu saja," pungkasnya. **maya

BERITA TERKAIT

Dampak Suku Bunga Tinggi - Pefindo Taksir Nilai Obligasi Rp 138,1 Triliun

NERACA Jakarta - PT Pemeringkatan Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan total nilai penerbitan obligasi sepanjang tahun 2018 hanya Rp138,1 triliun. Nilai…

Bunga KPR Disebut Bakal Naik di 2019

    NERACA   Jakarta - Ekonom Andry Asmoro mengemukakan, kenaikan suku bunga acuan akan semakin meningkatkan potensi kenaikan suku…

Ekonom Ingatkan Tantangan Likuiditas Perbankan

  NERACA Jakarta - Likuiditas perbankan diperkirakan kian mengetat pada 2019 setelah masa penguncian (lock-up) dana repatriasi amnesti pajak di…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Aturan Uang Eketronik Bakal Direvisi

      NERACA   Surabaya - Bank Indonesia (BI) mewacanakan untuk merevisi beberapa ketentuan dalam peraturan uang elektronik agar…

BI dan Pemerintah Canangkan Syariah jadi Arus Baru Ekonomi

    NERACA   Surabaya - Bank Indonesia (BI), pemerintah dan instansi terkait mencanangkan syariah untuk menjadi arus baru ekonomi…

AXA Mandiri Bayarkan Klaim Korban Lion Air

    NERACA   Jakarta - PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) membayarkan klaim kepada pemegang polis atau ahli…