Jepang Bidik Proyek Air Minum Rp 4 Triliun - Pipanisasi Jatiluhur-Jakarta

NERACA

Jakarta – Sejumlah perusahaan Jepang berminat mengerjakan proyek pipanisasi air minum Jatilihur-Jakarta senilai Rp 4 triliun. Proyek ini diperkirakan lebih murah. "Secara hitungan yang kami lakukan, menaruh pipa di atas permukaaan tanah akan lebih murah biaya hingga 40% daripada di dalam tanah,” kata Ketua Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) Kementerian PU Rachmat Karnadi di Jakarta,22/2

Berdasarkan informasi ada sekitar 14 perusahaan Jepang yang berminat terhadap proyek tersebut. Adapun beberapa perusahaan Jepang itu, antara lain, Yamatake Corp, Hitachi Ltd, Mitsubishi Corp, Tokyo Suido Services Corp, dan Toyota Tsusho Corp.

Rachmat Karnadi yang memberi penjelasan terkait mega proyek tersebut kepada para pengusaha tersebut menambahkan mega proyek perpipaan ini adalah mengalirkan air dari Bendungan Jatiluhur Jawa Barat sampai ke Jakarta melalui sistem perpipaan. Sebanyak 15.000 liter per detik (l/d) air akan dialirkan melalui tiga pipa sepanjang 78 km dengan diameter pipa masing-masing 1,8 meter tersebut. Terdapat dua pilihan dalam meletakkan pipa ini, ditanam di bawah tanah atau diletakkan di atas permukaan tanah. “Karena jika ditanam di bawah tanah akan menghancurkan setidaknya 2.400 struktur bangunan," terangnya

Air minum yang dialirkan ini nantinya akan digunakan sebagai sumber air baku untuk PDAM Kab. Karawang, PDAM Kab. Bekasi, PDAM Tirta Patriot Bekasi, AETRA, dan juga PALYJA.

Lebih lanjut Rachmat menambahkan, terkait dengan besarnya nilai proyek, pemerintah akan memberi jaminan terhadap kelangsungan proyek ini dan juga government support. Sementara aturan untuk hal tersebut saat ini sedang dalam tahap pembahasan.

Proyek ini sekarang masuk dalam tahap feasibility study yang rencananya selesai akhir Maret untuk kemudian dilanjutkan dengan pra kualifikasi di Mei 2012. Jika tidak mundur, akhir tahun akan dilakukan tender.

Sebelumnya, Pemerintah menyarankan BUMN membentuk konsorsium untuk menggarap proyek air minum Jatiluhur. BUMN konsorsium yang direkomendasikan, yakni PT Jasa Marga Tbk, Perusahan Umum Jasa Tirta, dan PT PP Tbk.

Menurut Deputi Menteri BUMN bidang Infrastruktur dan Logistik Sumaryanto Widayatin, ketiga BUMN ini dinilai cukup piawai dalam penggarapan proyek infrastruktur. "Sehingga kalau prosesnya cepat dengan melibatkan BUMN, maka diperkirakan tidak akan lama," kata Sumaryanto.

Percepatan proyek air minum itu mendesak dilakukan untuk memenuhi permasalahan sekaligus sebagai cadangan persediaan air di Jakarta jika terjadi persoalan serupa. Proyek senilai US$189,3 miliar atau sekitar Rp2 triliun itu diharapkan dapat beroperasi penuh paling lambat pertengahan 2014. Proyek pembangunan jaringan pipa air minum dari waduk Jatiluhur, ke wilayah Karawang, Bekasi dan Jakarta. "Namun, bila dikerjakan oleh BUMN konsorsium, maka nilainya tidak akan sampai Rp2 triliun," pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Jepang Tertarik Bangun MRT Di Jakarta

      NERACA   Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno melakukan kunjungan kerja ke Tokyo, Jepang…

Target Penjualan Agung Podomoro Stagnan - Mengandalkan Proyek Eksisting

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menargetkan marketing sales atau prapenjualan senilai Rp 4,9 triliun.…

REKOR MURI PROYEK JEMBATAN HOLTEKAMP

Proses pengangkatan dan pemasangan center span pada pembangunan Jembatan Holtekamp Jayapura yang menghubungkan daratan Holtekamp dengan daratan Hamadi, dengan panjang…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pengendalian Harga Mencegah PLN Bangkrut Akibat Harga Batubara

      NERACA   Jakarta - Sesuai prinsip berbagi keadilan Kabinet Kerja Joko Widodo, maka pengendalian harga batubara melalui…

Kemampuan Moneter Calon Gubernur BI Harus Teruji

      NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati,…

Mendes Sebut Penyerapan Dana Desa Terus Meningkat

    NERACA   Semarang - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Eko Putro Sandjojo menyebutkan penyerapan dana…