Pelindo II Segera Dirikan Enam Anak Usaha di 2011

NERACA

Jakarta - PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) akan segera mendirikan enam anak perusahaan tahun ini. Anak perusahaan itu untuk melakukan spesialisasi proyek Pelindo II di sektor pelabuhan. "Jadi (anak perusahaan) pertama untuk Pelabuhan Kalibaru, namanya PT Pengembang Pelabuhan Indonesia yang nanti membangun Kalibaru, Sorong," ungkap Direktur Utama Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) Richard Joost Lino, di Jakarta, Rabu (22/2).

Anak perusahaan kedua adalah, PT Terminal Peti Kemas Indonesia. Perusahaan ini, kata dia, akan mengelola seluruh peti kemas Pelindo II. Kemudian ada perusahaan Marine Services. Selain itu, Pelindo juga akan mendirikan anak perusahaan lainnya yang berkaitan dengan edukasi yakni Port and Logistic Institute. Ada juga anak perusahaan Indonesia Logistic Communication, perusahaan ini memiliki kaitan dengan Telkom. "Ada satu lagi (perusahaan) itu untuk perawatan," tambah Lino.

Lino menuturkan, kehadiran anak perusahaan itu untuk memberdayakan sumber daya manusia yang berkompeten di bidangnya. Sementara itu, aset anak perusahaan akan diambil dari aset perusahaan. Lino menegaskan, anak perusahaan itu semacam spesialisasi pekerjaan. Jika ada kekurangan sumber daya, maka Pelindo II akan merekrut tenaga kerja tambahan. "Untuk bagian profesional saja kami tambah 500 orang. Untuk mengoperasikan pelabuhan Sorong butuh 200 orang dan mereka sebagian orang-orang Papua," kata Lino.

Pelabuhan Kalibaru

Lino juga mengungkapkan kesiapan pihaknya dalam mengerjakan proyek pelabuhan peti kemas Kalibaru. Menurut Lino, Pelindo II akan membangun lima terminal sampai dengan tahun 2017. Lima terminal terdiri dari tiga terminal kontainer dan dua terminal produk (Bahan Bakar Minyak/BBM dan gas). "Terminal pertama beroperasi pada akhir triwulan pertama 2014. Selanjutnya, pengembangan terminal dua dan tiga membutuhkan waktu total tiga tahun," ujarnya.

Pemancangan tiang pertama (ground breaking) akan dimulai pada April 2012. "Sambil menunggu surat Keputusan Presiden keluar, tender untuk konstruksi akan diadakan pada pekan depan," cetusnya.

Proyek pelabuhan peti kemas Kalibaru membutuhkan biaya sebesar Rp7 triliun. Pembangunan infrastruktur menjadi tanggung jawab Pelindo II. Sedangkan penyediaan alat akan melakukan kerjasama dengan pihak asing. "Tidak menggunakan dana pemerintah sepeser pun. Dana dari kami (Pelindo II), bisa kas internal maupun pinjaman dari bank," tegasnya.

Lino bilang, Pelindo II mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1 triliun untuk proyek pelabuhan peti kemas Kalibaru dari belanja modal Rp 4,5 triliun pada 2012. Akan tetapi, nilai itu akan berubah pasca keputusan pemerintah menunjuk Pelindo II sebagai pengelola. "Kalau surat resmi turun, tahun pertama butuh minimal Rp 3 triliun," terangnya.

PT Pelabuhan Indonesia II mencatat laba bersih selama 2011 sebesar Rp 1,6 triliun atau tumbuh 33% dibandingkan dengan 2010 sebesar Rp 1,2 triliun. Peningkatan laba itu ditopang oleh melonjaknya pendapatan bersih yang tumbuh 41% menjadi Rp 5,12 triliun dibandingkan dengan 2010 sebesar Rp 3,6 triliun.

Lino menambahkan, dalam dua tahun terakhir perusahaan telah melakukan perubahan-perubahan dalam kerangka mereduksi biaya logistik nasional. "Hasil kinerja bisa dilihat pendapatan 2011 tumbuh 42% dan laba bersih tumbuh hampir 30%. Saya tidak percaya, tetapi itu kenyataan," ujarnya.

Sedangkan pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih melakukan studi terkait dengan proposal rancangan pembangunan proyek pelabuhan petikemas Kalibaru Utara yang diajukan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II. Kemenhub optimis rancangan tersebut akan selesai April 2012. "Saat ini kami (tim asistensi) belum tuntas membahas proposal yang diajukan Pelindo. Masih ada beberapa penyesuaian. Namun kami tetap pada target kuartal pertama tahun ini sudah bisa dimulai groundbreaking," ujar Leon Muhammad, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub.

Salah satu poin yang masih ditinjau kembali adalah kapasitas Kalibaru yang akan dinaikkan dari semula 1,9 juta TEUs menjadi 4,5 juta TEUs. Karena kenaikan tersebut akan memicu kenaikan biaya dan tata letak Kalibaru secara keseluruhan. "Arus pelayaran yang akan diperluas dari 150 meter menjadi 300 meter juga masih akan kami cermati," tambahnya.

Selain itu, dalam skema usulan Pelindo II akan ada reklamasi pantai secara total dan membangun seaway atau jembatan layang. Sedangkan Kemenhub tidak menginginkan adanya reklamasi total. Setelah membatalkan skema lelang pengerjaan proyek Kalibaru, pihak Kemenhub juga menyatakan rancangan pelabuhan versi mereka tidak berlaku lagi. Kemenhub memberikan kesempatan kepada Pelindo II, selaku pihak yang ditugasi mengerjakan Kalibaru, untuk mengajukan proposal rancangan pelabuhan tersebut. "Namun untuk rancangan final akan digabung antara kedua belah pihak. Tujuannya win-win solution," ujar Leon.

BERITA TERKAIT

Pemkab Sukabumi Harapkan Lanjutan Tol Bocimi Segera Terlaksana

Pemkab Sukabumi Harapkan Lanjutan Tol Bocimi Segera Terlaksana NERACA Sukabumi - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi, Jawa Barat, berharap kelanjutan pembangunan…

Wali Kota Depok Dorong Pelaku Usaha Terus Berinovasi

Wali Kota Depok Dorong Pelaku Usaha Terus Berinovasi NERACA Depok - Wali Kota Depok Mohammad Idris mendorong para pelaku usaha…

Pelatihan Pengembangan Kapasitas Usaha Program Kemitraan PT Rekind

Pelatihan Pengembangan Kapasitas Usaha Program Kemitraan PT Rekind NERACA Jakarta - PT Rekayasa Industri (Rekind) anak perusahaan PT Pupuk Indonesia…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kampus Diminta Gelar Lokakarya Penumbuhan Wirausaha

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar mendorong tumbuhnya wirausaha industri baru karena ikut berperan penting dalam menggerakkan roda perekonomian…

Insinyur Perlu Berkontribusi Ciptakan Inovasi

NERACA Jakarta – Insinyur dinilai berperan penting dalam menyukseskan penerapan revolusi industri 4.0 di Indonesia melalui penguasaan teknologi terkini. Hal…

Sektor Riil - Komplek Petrokimia Senilai US$3,5 Miliar Dibangun di Cilegon

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri petrokimia di Indonesia untuk semakin memperkuat struktur manufaktur nasional dari sektor…