Hari Anak Nasional VS Promosi Rokok

Hari Anak Nasional VS Promosi Rokok

NERACA

Jakarta - Perayaan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli sesuai Keputusan Presiden No. 44/1984, pada tahun 2018 ini diadakan di Pasuruan Jawa Timur. Sebelumnya, sekitar 520 anak dari seluruh penjuru Indonesia akan hadir menyampaikan aspirasi mereka untuk kemudian dirumuskan secara bersama pada Forum Anak Nasional yang berlangsung sejak tanggal 20-22 Juli 2018 di Surabaya.

Rangkaian perayaan HAN yang mengirim semangat sekaligus tekad perlindungan anak, termasuk menjadikan generasi SEHAT ini, sangat kontras dengan kenyataan bahwa di tanggal yang bersamaan, juga di Surabaya, diadakan kegiatan Audisi Beasiswa Djarum Bulutangkis, yang diikuti 802 anak usia 6 – 14 tahun dari berbagai daerah.

Aspirasi penolakan anak-anak terhadap rokok sesungguhnya sudah digemakan sejak bertahun-tahun silam. Pada tahun 2016, misalnya, salah satu poin Suara Anak adalah meminta agar Indonesia mengaksesi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Juga pada tahun 2017 anak–anak meminta perlindungan dari iklan, promosi dan sponsor rokok.

Namun tragisnya, bertepatan dengan Hari Anak Nasional tahun 2018 ini, justru ada 802 anak usia 6-14 tahun mengenakan kaos bertuliskan Djarum - yang tanpa mereka sadari bahwa mereka telah dimanfaatkan untuk mempromosikan produk rokok tersebut dan berisiko menjadi perokok di kemudian hari.

Sebagaimana penelitian DiFanza, Wellman, Sargent, Weitzman, Hipple, dan Winickoff yang dilakukan untuk Tobacco Consortium, Center for Child Health Research of the American Academy of Pediatrics, disimpulkan bahwa promosi rokok akan memperteguh sikap, kepercayaan, dan ekspektasi terkait konsumsi rokok. Semakin tinggi ekspos terhadap rokok, semakin tinggi pula resiko anak menjadi perokok.

Ringkasnya, melibatkan anak–anak dalam kegiatan yang diselenggarakan perusahaan rokok sungguh hal yang membahayakan. Kita, berhadapan dengan situasi semacam itu, tak pelak harus gencar menggedor keinsafan seluruh elemen bangsa akan mutlak pentingnya perlindungan anak-anak Indonesia dari bahaya rokok.

“Terlalu naif untuk memandang anak-anak peserta audisi badminton itu sebatas sebagai generasi belia yang bercita-cita menjadi olahragawan. Ini bukan ihwal bagaimana anak-anak mengembangkan diri menjadi atlet profesional an sich. Keberadaan perusahaan produsen rokok sebagai penyelenggara program audisi tahunan tersebut mengharuskan semua pihak untuk secara bijak mencermatinya sebagai strategi pembentukan cognitive dissonance yang dimainkan perusahaan rokok dimaksud untuk menetralkan persepsi masyarakat akan bahaya rokok, utamanya di kalangan anak-anak," kata Seto Mulyadi (Kak Seto), Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dalam siaran persnya kepada Neraca, Minggu (22/7),

Lisda Sundari, Ketua Yayasan Lentera Anak, menambahkan, “Pelibatan anak-anak pada kegiatan yang disponsori perusahaan rokok adalah pelanggaran terhadap PP No. 109 Tahun 2012 Pasal 47 ayat 1 yang menyebutkan bahwa setiap penyelenggaraan kegiatan yang disponsori peroduk tembakau dilarang mengikutsertakan anak di bawah 18 tahun. Apalagi dengan meminta anak-anak mengenakan kaos dengan atribut perusahaan rokok tertentu, itu tidak etis dan melanggar aspek perlindungan anak. Mengingat bahwa rokok adalah produk yang membahayakan kesehatan dan mengandung zat adiknya," tegas Lisda.

Karena itu, melalui siaran pers ini, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan Yayasan Lentera Anak :

1. Mendesak Pemerintah untuk menjadi motor utama bagi seluruh komponen negara agar menaruh perhatian khusus terhadap upaya yang dimainkan perusahaan rokok untuk menetralkan persepsi masyarakat akan bahaya rokok utamanya di kalangan anak-anak. Langkah kolektif semesta untuk melawannya patut diwujudkan dengan melarang secara menyeluruh iklan, promosi, dan sponsor rokok serta melarang secara menyeluruh kegiatan yang melibatkan anak yang diselenggarakan dan/atau didukung perusahaan rokok.

2. Memanggil pelaku usaha selain perusahaan rokok untuk berkiprah nyata menumbuhkan generasi belia sehat dan berbakat, termasuk dengan berperan memajukan dunia perbulutangkisan daerah dan nasional.

3. Menyemangati orang tua, masyarakat, dan anak-anak untuk membangun sikap kritis terhadap berbagai upaya destruktif sistematis yang dilakukan melalui berbagai media promosi dan event untuk menyimpangkan persepsi publik--utamanya anak-anak-- akan bahaya rokok.

4. Lembaga Perlindungan Anak Indonesia dan Yayasan Lentera Anak menjadikan terealisasinya ketiga butir di atas, khususnya butir pertama, sebagai tolok ukur keberhasilan negara dalam melindungi anak-anak Indonesia dari bahaya rokok. Mohar

BERITA TERKAIT

Nilai Tambah Ekonomi Nasional

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Bicara ekonomi, industri dan bisnis selalu menarik. Banyak isu penting yang…

Hasnur Group Bidik Dana Segar Rp 1,4 Triliun - Rencanakan IPO Anak Usaha di 2019

NERACA Jakarta – Guna mendanai pengembangan bisnis anak usahanya di sektor energi, Hasnur Group berencana melepas sebagian saham anak usahanya…

Pemkot Palembang Wujudkan Kota Layak Anak

Pemkot Palembang Wujudkan Kota Layak Anak NERACA Palembang - Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, Sumatera Selatan, terus berupaya mewujudkan kota layak…

BERITA LAINNYA DI HUKUM BISNIS

DPR Berharap Syafruddin Jauhkan PNS dari Korupsi

DPR Berharap Syafruddin Jauhkan PNS dari Korupsi NERACA Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni berharap Menteri Pendayagunaan…

Bambang Kesowo: Penghapusan Bukuan Utang Petani Tambak Dipasena Lebih Pada Pertimbangan Keamanan

Bambang Kesowo: Penghapusan Bukuan Utang Petani Tambak Dipasena Lebih Pada Pertimbangan Keamanan NERACA Jakarta - Mantan Sekretaris Kabinet Prof. Bambang…

Ahli Hukum Pidana: Perlu Bukti Ada Kick Back untuk Menentukan Terjadinya Kerugian Negara

Ahli Hukum Pidana: Perlu Bukti Ada Kick Back untuk Menentukan Terjadinya Kerugian Negara NERACA Jakarta - Ahli hukum pidana Prof.…