Perlu Dalami Permasalahan Pasokan Telur Ayam

NERACA

Jakarta – Pemerintah perlu benar-benar mendalami berbagai hal yang terkait dengan permasalahan berkurangnya pasokan telur ayam ke berbagai daerah yang juga mengakibatkan melonjaknya harga komoditas tersebut.

Anggota Komisi IV DPR Hermanto, mengingatkan bahwa pengadaan telur dapat dibagi menjadi dua klaster pemasok. "Yaitu supplier besar dalam hal ini korporasi dan ada juga petani telur kelas menengah ke bawah," papar dia, disalin dari Antara.

Ia berpendapat bahwa untuk pemasok telur besar maka seluruh komponen biaya daripada ayam itu atau telur itu dikuasai oleh para korporasi. Dengan melihat hal seperti itu, ujar dia, maka dapat dilihat siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan dalam hal ini. Hermanto juga menegaskan bahwa sebenarnya pihak yang paling dirugikan terkait kenaikan ini adalah konsumen Indonesia.

Sementara itu, Center for Indonesian Policy Studies menilai bahwa berkurangnya pasokan jagung untuk pakan ayam memicu tingginya harga telur di wilayah DKI Jakarta dan berbagai daerah lainnya di Nusantara.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, lebih dari 50 persen produksi jagung memang diperuntukkan bagi konsumsi hewan, misalnya saja ayam. Menurut Imelda, mahalnya harga pakan ayam nabati, yang sebagian besar adalah jagung, dipengaruhi oleh ketersediaannya di pasar di mana jumlah produksi nasional tidak bisa memenuhi jumlah konsumsinya. Sedangkan di saat yang bersamaan, lanjutnya, pemerintah justru membatasi impor jagung tanpa memperhatikan pasokan memadai.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), jumlah produksi jagung nasional mengalami peningkatan pada periode 2013 sampai 2017. Pada 2013 jumlah produksi jagung nasional adalah 18,5 juta ton dan meningkat menjadi 19 juta ton dan 19,6 juta ton pada 2014 dan 2015. Pada 2016 dan 2017 jumlahnya menjadi 19,7 juta ton dan 20 juta ton.

Di saat yang bersamaan, jumlah konsumsi jagung nasional juga terus naik. Pada periode 2013-2015, jumlah konsumsi jagung nasional berjumlah 21,6 juta ton, 22,5 juta ton dan 23,3 juta ton.

Ada sedikit penurunan pada 2016 yaitu menjadi 22,1 juta ton. Jumlah ini kembali naik menjadi 23,3 juta ton pada 2017. "Jumlah produksi jagung nasional terus meningkat. Tapi kenaikan ini juga diikuti adanya lonjakan jumlah konsumsi nasional," katanya. Imelda mengingatkan bahwa tanpa adanya ketersediaan yang memadai, harga jagung akan tinggi, belum lagi depresiasi rupiah dipastikan memengaruhi impor.

Sebelumnya, guna meredam harga telur yang meroket, Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar operasi pasar telur. Upaya ini dilakukan sebagai langkah kongkrit pemerintah menstabilkan harga telur ayam ras yang saat ini masih berkisar Rp 25.000-28.000 per kg. Operasi pasar telur ayam tersebut tersebar di 50 titik meliputi Toko Tani Indonesia (TTI) Center, 43 pasar dan 6 perumahan atau kelurahan yang tersebar di Jabodetabek dengan harga Rp 19.500 per kg. Kementan menyiapkan 100 truk pick up telur ayam atau sebanyak 100 ton yang diperoleh langsung dari peternak Jawa Barat, Jawa Tengah dan Banten.

“Mulai hari ini sampai dengan seminggu ke depan kami akan terus melakukan operasi pasar telur, agar harga telur dipasaran bisa stabil,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, saat peluncuran operasi pasar yang dilakukan di TTI Center, Pasar Minggu Jakarta, Kamis (19/7).

Menurutnya, sambung Amran, upaya pasar ini tidak hanya dilakukan di Jakarta saja. Tapi sudah berkoordinasi dengan daerah agar melakukan hal serupa. “Ini bukan hanya di Jakarta, tapi Jawa Barat, Jawa Timur, bahkan luar Jawa pun sama. Intinya kami ingin harga telur jadi stabil,” tambahnya.

Menurut Amran salah satu penyebab tingginya harga telur adalah masalah rantai pasok, sehingga melambung ketika sampai di warung atau kosumen akhir. Ini terlihat dari harga di tingkat produsen hanya berkisar Rp 18 ribu per kg hingga Rp 22 ribu per kg. Bahkan, ketersediaan telur ayam Januari hingga Juli 2018 surplus. “Dulu, dua tahun lalu harga telur hancur-hancuran, bahkan ada peternak yang gulung tikar. Tapi dua tahun terakhir, produksi telur bagus dan harga stabil menguntungkan,” tegas Amran.

BERITA TERKAIT

DPR Sebut Pasokan Kebutuhan Pokok Terjaga, Harga Stabil

NERACA Jakarta – Anggota DPR yang juga Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy mengatakan harga kebutuhan pokok selama beberapa…

Kinerja Bulog Dikhawatirkan Tidak Maksimal - Setelah Tugas Penyerapan Telur dan Ayam

NERACA Jakarta – Kinerja Bulog dikhawatirkan tidak akan maksimal setelah institusi pimpinan Budi Waseso tersebut kembali mendapatkan tugas baru dari…

Persediaan Beras di Lebak Tidak Perlu Impor

Persediaan Beras di Lebak Tidak Perlu Impor NERACA Lebak - Persediaan beras untuk konsumsi masyarakat di Kabupaten Lebak, Banten tidak…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

DPR Sebut Pasokan Kebutuhan Pokok Terjaga, Harga Stabil

NERACA Jakarta – Anggota DPR yang juga Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy mengatakan harga kebutuhan pokok selama beberapa…

Niaga Internasional - Sektor Perikanan Dapat Ambil Peluang Perang Dagang AS-China

NERACA Jakarta – Pengamat perikanan Abdul Halim mengharapkan Indonesia dapat mengambil peluang dari sektor perikanan menyusul terimbasnya sektor perikanan China…

Harga Minyak Dunia Naik Karena Penurunan Ekspor Iran

NERACA Jakarta – Harga minyak dunia naik sekitar satu persen pada akhir perdagangan kemarin di tengah semakin banyaknya bukti penurunan…