BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,25% - KURS RUPIAH MELESAT HINGGA Rp 14.442 PER US$

Jakarta-Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate-7DRRR) tetap 5,25%. Sementara itu, nilai tukar rupiah kemarin(19/7) ditutup di level Rp14.442 per US$, atau merosot 28 poin (0,19%) dari akhir perdagangan Rabu (18/7) Rp14.414 per US$.

NERACA

"RDG BI 18-19 Juli 2018 memutuskan untuk mempertahankan 7 DRRR tetap sebesar 5,25%,” tegas Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (19/7).Suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility juga dipertahankan masing-masing menjadi 4,5% dan 5,75%.

Keputusan ini, menurut Perry, sejalan dengan kebijakan BI untuk meningkatkan daya saing pasar keuangan domestik di tengah ketidakpastian global.Ketidakpastian global, menurut dia, masih akan dipicu oleh rencana Bank Sentral AS yang kembali melanjutkan kenaikan bunga acuannya hingga tahun depan. BI pun memperkirakan masih akan ada kenaikan bunga acuan AS dua hingga tiga kali pada tahun ini.

Adapun secara domestik, kondisi ekonomi menurut Perry didukung oleh kondisi inflasi yang terjaga. Pada Juni 2018, inflasi secara tahunan berada di angka 3,2% atau masih berada di kisaran target BI.Dia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini akan berada pada atas bawah kisaran perkiraan BI sebesar 5,1-5,5%.

Ke depan, menurut dia, BI akan terus mengantisipasi risiko pasar keuangan global, serta menjaga mekanisme pasar dan mendukung pengembangan pasar keuangan.Karena perekonomian dunia dan juga kondisiketidakpastian pasar keuangan global masih akan terus bergejolak dalam beberapa waktu ke depan.

Perry mengatakan, ketidakpastian tersebut tetap tinggi di tengah dinamika pertumbuhan ekonomi dunia yang tidak merata. Ekonomi AS diperkirakan tumbuh tinggi dengan inflasi yang semakin meningkat. "Sementara pertumbuhan ekonomi Eropa terindikasi tidak sekuat perkiraan sebelumnya dan pertumbuhan ekonomi China juga belum meningkat," ujarnya.

Dinamika ekonomi dunia tersebut mendorong perlambatan pertumbuhan volume perdagangan dan harga komoditas. "Dengan inflasi yang meningkat, The Fed diprakirakan akan melanjutkan kenaikan Fed Fund Rate (FFR)," ujarnya.

Selain itu, ketegangan perdagangan antara AS dan China telah meningkatkan risiko di pasar keuangan global serta risiko keberlanjutan pemulihan ekonomi dunia. "Berbagai perkembangan tersebut telah mendorong penguatan mata uang dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang dunia termasuk rupiah. Ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi juga mengakibatkan berlanjutnya pembalikan modal dari emerging market," ujarnya.

Nilai tukar rupiah kemarin (19/7) ditutup di posisi Rp14.442 per dolar AS, atau merosot 28 poin atau 0,19% dari akhir perdagangan Rabu (18/7) Rp14.414 per US$. Bersama rupiah, seluruh mata uang di kawasan Asia ikut rontok di hadapan dolar AS. Renmimbi China melemah 0,9%, rupee India minus 0,62%, dan dolar Singapura minus 0,47%.

Lalu, baht Thailand minus 0,47%, peso Filipina minus 0,18%, ringgit Malaysia minus 0,16%, yen Jepang minus 0,15%, won Korea Selatan minus 0,08%. Mata uang negara maju seperti . Rubel Rusia melemah 0,69%, dolar Australia minus 0,64%, Pound Inggris minus 0,56%, dolar Kanada minus 0,47%, euro Eropa minus 0,33%, dan franc Swiss minus 0,32%.

Menurut Ariston Tjendra, analis Monex Investindo, pelemahan rupiah hari ini lebih didorong oleh penguatan dolar AS, terbukti karena seluruh mata uang di dunia kompak melemah di hadapan mata uang Negeri Paman Sam itu.

Penguatan dolar AS sendiri didorong oleh pernyataan Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell yang memberi sinyal bahwa kenaikan bunga acuan bank sentral AS untuk yang ketiga kali pada tahun ini akan terjadi pada September mendatang. "Sinyalnya bahkan kenaikan bunga acuan masih dua kali lagi, pada September dan diperkirakan akan lagi terjadi pada Desember," ujarnya seperti dikutip CNNIndonesia.com.

Selain itu, menurut dia, pelemahan rupiah kembali berlanjut karena bank sentral nasional baru saja mengumumkan penahanan tingkat bunga acuan di posisi 5,25%. Dia menilai penahanan bunga acuan ini karena arah kebijakan BI sudah mulai mengikuti tren kenaikan bunga The Fed.

"Kelihatannya BI tidak mau terlalu cepat menaikan bunga acuan lagi karena takutnya nanti mereka kehabisan langkah saat merespons kenaikan bunga The Fed. Jadi kenaikan bunga BI baru akan dilakukan lagi jelang atau sesudah The Fed menaikan bunga," ujarnya.

Lebih lanjut, dia memperkirakan pelemahan rupiah dalam beberapa waktu ke depan akan kian berat, bahkan rupiah diperkirakan bisa tembus ke kisaran Rp14.540 per US$ bila pelemahan terus terjadi. Walhasil, BI dilihat perlu menyiapkan antisipasi agar pelepasan dolar AS tak semakin marak terjadi dalam beberapa waktu ke depan guna menjaga nilai tukar rupiah.

Untuk menjaga rupiah, menurut dia, BI perlu berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan bahwa kondisi fundamental ekonomi tetap kuat, khususnya dari sisi neraca perdagangan. "Neraca perdagangan Juni sudah surplus, kalau Juli dan Agustus bisa surplus lagi, itu menunjukkan konsistensi dan bisa meningkatkan kepercayaan pasar," ujarnya.

Menurut Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah, nilai tukar rupiah memang terjerembab cukup dalam dari kisaran Rp13 ribu per US$ ke Rp14 ribu per US$.

"Tapi nilai tukar rupiah (gejolaknya) sudah tidak lagi liar. Ini sudah ada semacam keseimbangan baru untuk rupiah," ujarnya kemarin.

Rupiah, menurut dia, memang sempat terpukul oleh kenaikan bunga acuan bank sentral AS (The Fed). Namun, seiring penyesuaian bunga acuan BI, fluktuasi rupiah mulai terkendali.

Halim mengindikasikan bahwa pasar sudah mulai bisa menerima pengaruh stabilisasi rupiah dari bank sentral nasional melalui kenaikan bunga acuan hingga 100 basis poin (bps) menjadi 5,25%.

Hal itu juga ditandai dengan aliran modal masuk (capital inflow) ke Indonesia sejak BI mengerek bunga acuannya itu. Ini, menurut dia, membuat kepercayaan investor kembali dan memberikan tambahan suplai dolar AS. "Tapi apakah ini akan langgeng atau tidak? Tentu tidak, karena tergantung pada kebijakan baru dari AS dan Indonesia ke depan," ujarnya.

Meski demikian, dia berharap kebijakan moneter ke depan dapat sejalan dengan ekspektasi pasar dan pasar bisa menerima dengan cepat perubahan yang ada, sehingga ada keseimbangan baru lagi.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada di rentang Rp13.700-14.000 per US$ hingga akhir tahun. Sedangkan Menkeu Sri Mulyani Indrawati memproyeksi rata-rata rupiah sampai akhir tahun berada di posisi Rp13.793 per US$. Namun, rupiah pada semester II-2018 di kisaran Rp14.200 per US$.

Pertumbuhan Ekonomi

Menkeu Sri Mulyani Indrawati saat menghadiri rapat kerja dengan Badan Anggaran Dewan Perwakilan rakyat (DPR) menjelaskan kondisi ekonomi makro semester I dan proyeksi asumsi ekonomi makro semester II-2018

Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan ekonomi semester I-2018 sebesar 5,1%, sementara pertumbuhan ekonomi semester II akan mancapai 5,3%. Sehingga secara tahunan hanya akan mencapai 5,2%.

"Pertumbuhan ekonomi semester I diperkirakan mencapai 5,1%. Semester II capai 5,3% dan secara tahunan 5,2%. Lebih rendah dibanding target APBN sebesar 5,4%," ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (17/7).

Selain pertumbuhan ekonomi, inflasi pada semester I-2018 mencapai 3,1% sedangkan pada semester II akan mencapai 3,5%. Secara tahunan inflasi akan mencapai 3,5%, sesuai dengan target APBN 2018.

Kondisi ekonomi makro lainnya pada semester I-2018 seperti Rupiah rata-rata mencapai Rp 13.746 per US$. Untuk semester II diperkirakan akan mencapai Rp 14.000 per US$. "Outlook hingga akhir tahun mencapai Rp 13.973 per US$, lebih tinggi jika dibandingkan dengan target APBN sebesar Rp 13.400 per US$" ujar Sri Mulyani.

Untuk suku bunga SPN semester I-2018 sebesar 4,3%, sedangkan pada semester II diprediksi akan naik menjadi 5,6%. Sehingga secara tahunan akan mencapai 5,0%, lebih rendah dibandingkan target APBN sebesar 5,2%. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

Menkeu Usulkan Asumsi Kurs Rp 15.000 di APBN 2019 - BANK INDONESIA PREDIKSI NILAI TUKAR RP 14.800-RP 15.200 PER US$

Jakarta-Menkeu Sri Mulyani Indrawati kembali mengusulkan perubahan asumsi makro pada pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019. Salah satunya…

Meski Rupiah Melemah, Subsidi BBM Tak Berubah

      NERACA   Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar masih dikisaran Rp15.200 yang mana nilai tersebut jauh…

Mengurangi Tekanan Rupiah, Surplus Perdagangan Perlu Dijaga

        NERACA   Jakarta - Ekonom Universitas Indonesia Berly Martawardaya meminta pemerintah terus meningkatkan surplus neraca perdagangan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Diversifikasi Pasar Ekspor Antisipasi Perang Dagang

NERACA Jakarta – Indonesia perlu melakukan berbagai langkah sebagai bentuk antisipasi dari dampak negatif perang dagang antara Amerika serikat dengan…

YLKI DESAK PERLINDUNGAN KONSUMEN MEIKARTA - KPK Siap Periksa Petinggi Lippo Group

Jakarta-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan segera memanggil sejumlah pihak dari Lippo Group, untuk selanjutnya diperiksa dalam kasus dugaan suap pengurusan…

Tahun Depan, Upah Minimum Provinsi Naik 8%

NERACA Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan menetapkan untuk menaikkan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2019 sebesar 8,03%. Dikutip…