Persatuan Bangsa Melalui Asian Games 2018

Oleh : Prasetyo Agung, Peneliti di Lembaga Studi Informasi strategis Indonesia (LSISI)

Asian Games 2018 tidak hanya ajang olahraga multievent tapi juga menjadi wadah untuk menyatukan berbagai kelompok yang terpisah, sedang berkonflik atau semakin mempererat persatuan yang sebelumnya sudah terjalin. Hal ini dibuktikan setelah The Olympic Council of Asia (OCA) telah mengumumkan bahwa Korea Utara dan Korea Selatan akan bergabung dalam satu tim di tiga cabang olahraga dan enam kegiatan pada Asian Games Jakarta-Palembang.

Korea yang terpecah menjadi dua negara setelah Perang Dunia II bergabung dalam penyelenggaraan Asian Games ke-18 nanti. Tentu penggabungan atlet ini menjadi momen bersejarah untuk Asia karena ini kali pertama bagi Korea Utara dan Korea Selatan bersatu sebagai sebuah tim di Asian Games. Penggabungan atlet ini sebagai lanjutan dari penggabungan di Olimpide Musim Dingin di di kota PyeongChang pada Februari lalu.

Di Asian Games nanti kedua Komite Olimpiade Nasional akan bergabung di kompetisi olahraga basket, perahu naga, dan dayung. Direktur Internasional dan Hubungan Komite Olimpiade Nasional OCA, Vinod Kumar Tiwar sangat mengapresiasi langkah Korea Selatan dan Korea Utara yang ingin melanjutkan hubungan baik mereka di Asian Games 2018.

"Mereka sudah pernah jalan beriringan sebelum Upacara Pembukaan dan kami sangat senang bahwa mereka akan melanjutkan kerjasama persatuan ini dalam semangat persatuan dan persahabatan yang lebih lanjut. Kami berterimakasih kepada kedua NOC dari Korea Selatan dan Korea Utara atas kedatangannya ke Jakarta dan melanjutkan pengajuan mereka atas persatuan tim ini. Kami pun berterimakasih kepada Panitia Pelaksana Asian Games 2018 atas dukungannya," kata Vinod Kumar Tiwari, seperti dilansir dari situs resmi Asian Games 2018.

Asian Games 2018 ini juga tidak hanya mempersatukan dua negara yang sudah lama berkonflik tapi juga mempererat persatuan dan kesatuan Indonesia sebagai tuan rumah. Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) sudah menggelar acara untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sebelum Asian Games di mulai. Salah satunya dengan acara Torch Relay atau Kirab Obor Asian Games 2018. Kirab Obor di Asian Games 2018 merupakan momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Kirab Obor yang akan dimulai dengan pengambilan api abadi di India pada 15 Juli lalu ini tidak hanya sebagai pertanda kickoff perhelatan akbar tersebut sudah sangat dekat. Tapi untuk mempererat persatuan dan kesatuan seluruh Indonesia.

Proses penyalaan obor dilakukan di Major Dhyan Chand National Stadium, dengan melibatkan Presiden Asosiasi Olimpiade India, Dr. Narinder Batra, Menteri Olahraga India Kol. Rajyavardhan Singh Rathore, Ketua INASGOC Erick Thohir serta perwakilan OCA Wei Zhijong.

Api tersebut kemudian dipadukan dengan api abadi asal Merapen, Jawa Tengah pada 18 Juli di Candi Prambanan. Setelah itu obor tersebut akan diarak oleh perwakilan dari daerah, sponsor dan Panitia ke 18 provinsi yang mencakup 54 kota di Indonesia.

India, dipilih sebagai titik pertama Kirab Obor Asian Games 2018 karena New Delhi tempat kelahiran Asian Games pada tahun 1951. Legenda bulu tangkis Indonesia Susi Susanti didaulat untuk menjadi Duta Obor yang mewakili Indonesia. Bersama dengan 30 atlet nasional yang ditunjuk sebagai pembawa obor, Susi membawa api semangat Asian Games mengitari beberapa lokasi di New Delhi.

Kirab Obor melewati mengitari Major Dhyan Chand Nation Stadium, menuju ke C-Hexagon, kemudian ke Amar Jawan Jyoti Road hingga kembali finish di stadion kebanggaan masayarakat India tersebut. Kirab Obor juga semakin semarak dengan kehadiran 500 atlet asal India yang berlari di belakang rombongan pembawa obor asal Indonesia.

Api kemudian akan melakukan perjalanan kembali ke Indonesia untuk memulai Kirab Obor nasional dengan total jarak tempuh sejumlah 18.000 km, melalui 50 kota di 18 provinsi sebelum tiba di Gelora Bung Karno Main Stadium di Jakarta untuk upacara pembukaan Asian Games ke-18 pada Sabtu, 18 Agustus.

"Ketika seremoni penyerahan api abadi, kita akan suguhkan tari kecak api yang mengisahkan sendra tari Ramayana, sebagai simbol bahwa bangsa kita siap untuk lakukan Asian Games 2018. Ini adalah momen penting untuk kita tunjukkan keindahan budaya dan magnet pariwisata Indonesia. Belum lagi, api akan kita bawa ke berbagai penjuru nusantara. Kami percaya kegiatan ini dapat membantu promosi pariwisata Indonesia yang mampu datangkan wisatawan-wisatawan mancanegara,” kata Erick Thohir, Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018.

Erick Thohir juga mengatakan bahwa Kirab Obor ini bertujuan untuk menyebar luaskan semangat Asian Games 2018 ke seluruh penjuru Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar demam Asian Games dapat menjangkau seluruh rakyat Indonesia dan mau memberikan dukungan kepada atlet Indonesia yang akan berjuang demi merah putih.

“Bila obor sudah tiba di tanah air, berarti Asian Games 2018 sudah sangat-sangat dekat. Kami mengajak semua rakyat Indonesia untuk bahu membahu sukseskan Asian Games. Yok, kita sama-sama jadi panitia dan jadi tuan rumah yang baik bagi seluruh tamu. Kita buat mereka betah dan ketagihan melihat indahnya budaya Indonesia, eloknya perilaku masyarakat kita hingga melihat sportivitas kompetisi yang selalu ada di setiap pertandingan cabang olahraga di Asian Games 2018,” tambah Erick.

Dalam pembukaan Asian Games 2018 ini INASGOC juga membuat pertunjukan kolosol yang bertema persatuan dan kesatuan. Tontonan kolosal sebagai bukti kepada dunia bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa yang besar dan mampu menyelenggarakan sebuah event berskala internasional. Pada pelaksanaannya nanti, acara tersebut akan melibatkan sekitar 6,000 artis, musisi, penari, tim kreatif, teknisi dan produksi.

Menariknya, usia dari pengisi acara pada pembukaan ini sangat beragam, yakni dari yang termuda 9 tahun hingga yang tertua 77 tahun. Pertunjukan megah ini memiliki konsep yang akan memperlihatkan ragam budaya Indonesia namun tetap mengusung persatuan.

BERITA TERKAIT

Kemenpar Dorong Industri Kreatif Lewat Kustomfest 2018

Hasil karya anak bangsa tersaji dalam Indonesian Kustom Kulture Festival (Kustomfest) 2018 resmi digelar Sabtu, (6/10). Sebanyak 155 motor dan…

IMF- WB 2018 : Diusulkan Zaman SBY, Dijalankan Zaman Jokowi

  Oleh: Hasan Zebua, Pengamat Masalah Ekonomi   Berbicara tentang suatu program, tidak mungkin program itu dibuat tanpa ada manfaat…

Jadi Tuan Rumah INAPG 2018, Prestasi Atlet Indonesia Melesat

  Oleh : Yurika Prastika, Mahasiswa UIN Bandung Sukses menyelenggarakan Asian Games, Indonesia kembali ditunjuk menjadi tuan rumah untuk pesta…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Batalnya Kenaikan Premium Supaya Ekonomi Tetap Stabil

Oleh : Hugo, Pemerhati Ekonomi Politik     Kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan masyarakat luas tentu akan mendapatkan perhatian lebih…

IMF : Menguntungkan atau Merugikan Indonesia?

  Oleh: Jasmin Erika, Peneliti LSISI Saat ini, Indonesia tengah menjadi tuan rumah bagi penyelanggaran Annual Meetings of the International…

Sinergi Peran AS – Korut

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Ketegangan AS - Korut nampaknya sedikit mereda setelah…