Kemajuan Ekonomi Ditentukan Teknologi Ban

Oleh Agus S. Soerono

Wartawan Harian Ekonomi Neraca

Roda sebagai bagian vital kendaraan atau mesin, untuk pertama kalinya ditemukan oleh bangsa Sumeria pada 3.500 tahun SM. Di Mesopotamia, ditemukan pula sebuah benda bulat dengan poros di bagian tengahnya yang diperkirakan merupakan tatakan untuk membuat tembikar dari masa itu. Ini membuktikan bahwa pada saat itu orang mulai tahu prinsip kerja gerak lingkaran.

Sejarah penggunaan ban modern, dimulai ketika Thomson, seorang insinyur Inggris, mengembangkan "ban mati" di sekeliling pelek kendaraan menjadi "ban hidup" alias berongga udara yang dipatenkan pada 1845.

Karya Thomson kemudian dikembangkan oleh "bapak ban" Dunlop, seorang dokter hewan asal Belfast, Irlandia. Apabila Thomson menggunakan kulit binatang sebagai bahan dasarnya, Dunlop menggantinya dengan karet. Penemuan yang dipatenkan pada 1870 itulah cikal-bakal roda kendaraan masa kini.

Namun siapa mengira bahwa penemuan ban sejak zaman Sumeria hingga dipatenkannya ban pada 1870, ternyata mempengaruhi kemajuan ekonomi suatu bangsa termasukbangsa Indonesia.

Tentu sulit membayangkan bahwa perekonomian bisa maju tanpa adanya transportasi sebagai urat nadi kemajuan suatu bangsa.

Dengan peranan ban yang semakin besar, membuat perekonomian nasional yang dulunya hanya mengandalkan pasar domestik, harus menoleh ke pasar internasional. Bahkan urusan ban sendiri menjadi sudah menjadi salah satu mata rantai kemajuan ekonomi. Karena ban dengan berbagai tipe dan merek serta penggunaannya, sudah menjadi bagian dari sub sektor transportasi. Tanpa ban, perekonomian tidak akan berkembang pesat.

Peranan roda yang di dalamnya termasuk ban, sangat besar untuk mendorong perekonomian. Bahkan globalisasi yang bergulir pada abad ke-21 ini, salah satu motor penggeraknya adalah ban. Dengan ban, sistem transportasi sebagai sarana pendorong ekonomi bisa mentransportasikan berbagai kebutuhan hidup dari ujung dunia yang satu ke ujung dunia yang lain.

Ban berperan mulai dari pembuatan jalan, di mana kendaraan komersial seperti dump truck, back hoe, buldozer, pemancang, beton molen dan sebagainya tidak akan bisa bergerak tanpa ban. Lalu ban juga berperan sebagai alat transportasi untuk kendaraan umum, kendaraan pribadi, motor dan sebagainya. Bahkan alat transportasi udara seperti pesawat terbang juga membutuhkan ban sebagai alat untuk mendaratkan “burung besi” itu.

Semua lini kehidupan memang membutuhkan ban. Kemajuan suatu bangsa juga bisa dilihat dari seberapa banyak ban yang mampu menggerakkan perekonomiannya dan seberapa mantap teknologi ban yang digunakannya.

BERITA TERKAIT

Integrasi Ekonomi Jadi Penantian Lama ASEAN

Oleh: Roy Rosa Bachtiar Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah diluncurkan pada 31 Desember 2015 sebagai tipe baru integrasi ekonomi…

Ekonomi Jangan Terganggu Politik

NERACA Jakarta - Presiden Joko Widodo wanti-wanti dengan dimulainya tahun politik yaitu Pilkada di 2018 dan Pilpres di 2019. Jokowi…

ADB Salurkan Bantuan Transformasi Teknologi

    NERACA   Jakarta - Bank Pembangunan Asia (ADB) memberikan 750 ribu dolar AS untuk dukungan pengetahuan dan bantuan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Hidup di Negeri 1001 Bencana

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNP) menyebutkan, data sementara kejadian bencana alam sejak 1 Januari hingga 20 November, ada 2.057 bencana…

Mengukur Dampak Siklon Cempaka dan Dahlia

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan Siklon Tropis Cempaka dan Dahlia yang melanda sebagian wilayah Jawa belum lama ini merupakan…

Bencana Alam Jadi “Magnet” Menarik Wisatawan?

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, masyarakat di seluruh dunia tertarik untuk menyaksikan erupsi Gunung…