Tingkat Bunga Penjaminan LPS Naik 25 Bps

NERACA

Jakarta - Rapat Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menetapkan tingkat bunga penjaminan untuk periode 18 Juli 2018 sampai dengan 17 September 2018 naik 25 basis poin. Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah mengatakan, kenaikan tingkat bunga penjaminan LPS tersebut berlaku untuk simapan dalam Rupiah dan valas di bank umum serta Rupiah di Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Tingkat bunga penjaminan untuk simpanan dalam Rupiah di bank umum menjadi 6,25 persen dan valas naik menjadi 1,5 persen. Sedangkan tingkat bunga penjaminan dalam Rupiah di BPR menjadi 8,75 persen. “Kebijakan ini ditetapkan dengan memerhatikan perkembangan suku bunga simpanan bank 'benchmark' yang mulai menunjukkan kenaikan secara gradual sebagai respons terhadap kenaikan suku bunga acuan," ujar Halim saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (18/7).

Halim menuturkan, perubahan itu juga merupakan penyesuaian atas perkembangan kondisi pasar keuangan dan ditujukan untuk tetap menjaga kondisi stabilitas sistem keuangan. "Ke depan, LPS akan terus melakukan monitoring terhadap pergerakan tingkat bunga simpanan perbankan dan terbuka untuk melakukan penyesuaian terhadap tingkat bunga penjaminan," ujar Halim.

Sesuai ketentuan LPS, apabila suku bunga simpanan yang diperjanjikan antara bank dengan nasabah penyimpan melebihi Tingkat Bunga Penjaminan simpanan, maka simpanan nasabah dimaksud menjadi tidak dijamin. Berkenaan dengan hal tersebut, bank diharuskan untuk memberitahukan kepada nasabah penyimpan mengenai Tingkat Bunga Penjaminan simpanan yang berlaku dengan menempatkan informasi dimaksud pada tempat yang mudah diketahui oleh nasabah penyimpan.

Sejalan dengan tujuan untuk melindungi nasabah dan memperluas cakupan penjaminan, LPS mengimbau agar perbankan lebih memperhatikan ketentuan tingkat bunga penjaminan simpanan dalam rangka penghimpunan dana. Dalam menjalankan usahanya, bank hendaknya memperhatikan kondisi likuiditas ke depan. Dengan demikian, bank diharapkan dapat mematuhi ketentuan pengelolaan likuiditas perekonomian oleh Bank Indonesia, serta pengaturan dan pengawasan perbankan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Seperti disampaikan sebelumnya, Kepala Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS Dody Arifianto memperkirakan bunga dana dan kredit bakal meningkat seiring kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang mencapai 100 bps sepanjang tahun ini. Kenaikan bunga pun diperkirakan bakal berdampak pada melambatnya pertumbuhan kredit.

Ia menjelaskan pertumbuhan kredit hingga bulan Mei 2018 mulai mencatatkan pemulihan dan berada di kisaran 10,26 persen secara tahunan (year on year/yoy). Namun, pertumbuhan kredit beresiko kembali mengalami perlambatan akibat kenaikan bunga dana maupun kredit oleh perbankan. “Kendati demikian, hingga akhir tahun, pertumbuhan kredit diperkirakan akan berkisar di level 10 persen, sedangkan DPK akan mencapai sekitar 8 persen,” ujar Dody.

Berbeda dengan pertumbuhan kredit yang membaik, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan terus melambat. Pada Mei 2018, pertumbuhannya hanya mencapai 6,47 persen. Kondisi ini membuat rasio simpanan terhadap kredit (Loan to Deposit Ratio/LDR) perbankan naik menjadi 91,43 persen.

Rata-rata bunga deposito rupiah bank yang menjadi benchmark LPS pada akhir Juni 2018 naik 6 bps dari bulan sebelumnya mencapai 5,48 persen. Rata-rata suku bunga minimium simpanan juga naik 4 bps menjadi 4,71 persen. Sementara tingkat bunga deposito valas juga terpantau naik sekitar 3 bps hingga 10 bps, terutama pada bunga rata-rata dan maksimum. "Kenaikan suku bunga rupiah dan valas yang masih terbatas mengindikasikan bank secara bertahap melakukan penyesuaian terhadap kenaikan tingkat bunga acuan,” Jelas Dody.

BERITA TERKAIT

BPS: Indonesia Surplus di September 2018 - DAYA BELI BURUH BANGUNAN MENINGKAT RIIL

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, Indonesia mencatatkan neraca perdagangan surplus US$ 227 juta pada September 2018. Surplus ini disumbang oleh…

Arwana Catatkan Penjualan Naik 15,56% - Bisnis Keramik Masih Mengkilap

NERACA Jakarta – Meskipun bisnis properti masih dirasakan lesu oleh pelaku pasar, namun hal tersebut tidak memberikan dampak terhadap performance…

PII Yakin Target Penjaminan Tercapai

      NERACA   Jakarta – PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) merasa yakin target penjaminan infrastruktur senilai Rp210 triliun…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Pantau Kesepakatan Jiwasraya dengan Pemegang Polis

      NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memantau kesepakatan yang telah dicapai antara PT. Jiwasraya…

Peran Penting Perbankan dalam Pertumbuhan Ekonomi Daerah

    NERACA   Gorontalo - Bupati Bone Bolango, Hamim Pou mengatakan kehadiran perbankan berperan penting mendorong pertumbuhan ekonomi di…

Era Digital, Buka Rekening Tak Lagi Punya Buku

      NERACA   Jakarta - Pertumbuhan teknologi dan perkembangan digital yang pesat membawa perubahan dalam berbagai sektor, termasuk…