Membangun Industri Substitusi Impor

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri

Dengan gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang tembus pada Rp 14.300-an, ekonomi dalam negeri mengalami tekanan berat untuk tumbuh. Industri pengolahan non migas yang sekitar 70% tergantung dari bahan impor pasti kerepotan dengan adanya pelemahan nilai tukar. Menjadi serba salah, maju kena mundur kena. Suku bunga acuan dinaikkan berpotensi adanya kenaikan suku bunga pinjaman, baik untuk modal kerja maupun untuk investasi.

Tahun ini bisa dikatakan masa keprihatinan bagi ekonomi Indonesia ketika berhadapan dengan tekanan eksternal. Ekspor susah, impor harus dilakukan karena kalau tidak, maka produksi bisa berhenti, cost of fund, dan cost of production cenderung naik, dan ini tidak dapat dihindari.

Menaikkan harga jual harus pikir-pikir kekuatan daya beli masyarakat. Semua pihak hanya bisa menahan diri agar tidak terjadi gejolak yang bisa membuat lingkungan tidak kondusif. Dan satu hal harus disadari bahwa kondisi yang serba menekan tersebut akan berpotensi menggerus pertumbuhan ekonomi yang dalam asumsi makro APBN 2018 diproyeksikan tumbuh 5,4%, yang kalau tidak salah telah dikoreksi menjadi 5,2%.

Karena ketergantungan impor tinggi, maka kita mulai berpikir apa bisa melakukan substitusi impor. Jawabannya bisa saja. Apa yang mau disubstitusi. Jawabannya tentu bahan baku, bahan penolong, barang modal, bagian dan komponen yang impor kontennya tinggi mencapai 70% lebih dari total impor Indonesia. Kalau mau disubstitusi berapa %?. 10% 20% atau 30%.

Katakan kita ambil 30%, maka masih ada sekitar 40% yang tetap harus diimpor. Kalau impor industri tahun 2017 mencapai USD 122,15 miliar, maka 30% dari itu berarti USD 36,6 miliar yang harus disubstitusi, dan berarti pula secara kasar kita butuh dana sebesar itu untuk dikonversi menjadi investasi di sektor industrinya.

Secara sederhana berarti bahwa dalam satu tahun dapat dihemat penggunaan devisa katakan senilai USD 36,6 miliar juga, sehingga pada tahun itu juga harus ada pabrik baru yang berdiri penghasil bahan baku/bahan penolong atau bagian dan komponen serta barang modal dengan nilai investasi bisa lebih besar dari itu untuk menghasilkan output katakan sebesar USD 36,6 miliar sebagai pengganti impor.

Hitung menghitung secara matematika dengan metode apa saja dapat dikerjakan. Substitusi kalau dalam sepak bola dapat dengan mudah dilakukan karena calon penggantinya sudah disiapkan, sehingga ketika terjadi pergantian pemain tidak mengganggu jalannya pertandingan. Penggantian impor tidak seperti membalik telapak tangan, banyak proses harus dilalui dan butuh persiapan yang matang.

Memerlukan proses politik, proses kebijakan dan regulasi, proses bisnis yang simple, butuh pengorganisasian sumber daya, infrastruktur ekonomi, SDM, teknologi, dan infrastruktur sosial, investor, serta lingkungan doing business yang efisien dan jaminan kepastian hukum. Urusannya bisa panjang dan ribet karena di negeri ini sinergi dan koordinasi menjadi barang mahal.

BERITA TERKAIT

Dongkrak Daya Saing Batik dengan Substitusi Impor

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus memacu daya saing industri batik dan tenun dalam negeri. Hal ini dilakukan guna menghasilkan…

Dunia Usaha - Industri Hasil Tembakau Tercatat Serap 5,98 Juta Tenaga Kerja

NERACA Jakarta – Industri Hasil Tembakau (IHT) menjadi salah satu sektor manufaktur nasional yang strategis dan memiliki keterkaitan luas mulai…

Insentif Investasi Industri Gula Perlu Ekosistem Teknologi

NERACA Jakarta – Lahirnya 12 pabrik baru di industri gula merupakan salah satu bentuk keberhasilan pemerintah dalam memberikan insentif bagi…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Bianglala Keuangan Inklusif

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Sebagai masyarakat demokrasi yang harus terlibat dalam partisipasi, publik dibuat bertanya – tanya, entah…

Menjawab Kasus Kartel

Oleh: Nailul Huda Peneliti Indef Dalam diskusi tempo hari, penulis sudah membeberkan fakta-fakta yang memperkuat dugaan penulis tentang adanya kartel…

Asuransi Kesehatan Kembali Merugi

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Hingga akhir tahun 2018 lalu defisit…