Wika Bitumen Perkuat Bisnis Pengolahan Aspal - Gandeng Investor Asal Cina

NERACA

Jakarta – Melengkapi bisnis di sektor konstruksi dan infrastruktur, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) melalui anak usahanya PT Wika Bitumen berncana jajaki masuk bisnis bidang pengolahan aspal. Pasalnya, perseroan mengungkapkan bahwa saat ini Wika Bitumen sedang membangun pabrik aspal di Buton dengan kapasitas 2.000 ton.

Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, Puspita Anggraeni dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan bahwa setelah pabrik Buton selesai, Wika Bitumen akan membangun dua pabrik lagi,”Pembangunan dua pabrik lagi akan dilakukan bekerja sama dengan investor asal China dan Pertamina,"ujarnya.

Dirinya menuturkan bahwa bisnis tersebut diharapkan bisa memperkuat kinerja Wika Bitumen sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar bagi perseroan. Selain itu juga bisa membuka peluang bagi Wika Bitumen untuk bersinergi dengan perseroan dalam membangun berbagai proyek infrastruktur pemerintah."Ini akan sangat menguntungkan bagi kinerja kami secara konsolidasi dan tentunya dapat menjadi positif bagi saham Wika Group," tegasnya.

Sebelumnya, Arifin Fahmi, Direktur Utama Wika Bitumen pernah bilang, produk aspal yang diproduksi oleh perseroan belum banyak dipakai dalam proyek - proyek pemerintah. Pasalnya, perseroan hanya membuat asbuton butir yang dari Kabungka. Sebagai gambaran, asbuton butir yang diproduksi oleh Wika Bitumen hanya dipakai sebagai pengisi atau filler untuk campuran hotmix dengan komposisi 3%.

Namun demikian, tahun ini Wika Bitumen mulai menjajaki kerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) untuk membuat aspal dengan spek terbaru. Produk tersebut dibuat menyerupai aspal minyak dan menurut Arifin sudah banyak dipakai di China. Asal tahu saja, pembangunan pabrik aspal dengan menggandeng kerjasama investor asal Cinaini akan dibangun di atas tanah seluas 3 hektar sampai 5 hektar dengan investasi US$ 16,5 juta.

Rencananya kapasitas pabrik aspal ini sebesar 60.000–66.000 ton per tahun. Disamping itu, Wika Bitumen bakal melakukan joint venture dengan perusahaan China untuk memasok Buton Rock Asphalt (BRA) sebanyak 5.000 ton senilai US$ 400.000 serta raw material 35.000 ton senilai US$ 875.000.

Kata Arifin, kerjasama tersebut berjalan selama 1,5 tahun dan saat ini masih dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dan penyelesaian master list. Wika Bitumen tengah memastikan kelengkapan alat-alat produksi mitra mereka di China, sembari menantikan proses Amdal yang sedang jalan. Adapun, perusahaan China bakal menyuplai sebagian besar kebutuhan produksi termasuk peralatan.

Apabila semuanya selesai terpasang, Wika Bitumen akan mulai mengimpor bahan baku sekitar Juni atau Juli 2018. Dengan begitu, perusahaan bisa kembali mengaktifkan kegiatan ekspornya pada semester II-2018.

BERITA TERKAIT

Indonesia-Inggris Perkuat Kerja Sama Sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Indonesia-Inggris Perkuat Kerja Sama Sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan NERACA Katowice, Polandia - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sabtu, 8…

Bisnis Apartemen di Depok Investasi Menjanjikan

Bisnis Apartemen di Depok Investasi Menjanjikan NERACA Depok - Pengembang apartemen Cimanggis City Mall menilai Kota Depok Jawa Barat merupakan…

Media Massa Berperan Perkuat Fungsi dan Wewenang DPD RI

Bali, Lahirnya Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dalam era reformasi merupakan konsensus bersama untuk membangun dan mensejahterakan daerah-daerah…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

KSEI Dorong Investor Gunakan Login AKSes

NERACA Pekanbaru- PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mendorong investor di Riau agar memanfaatkan fasilitas Acuan Kepemilikan Sekuritas (AKSes) untuk…

Orori Indonesia Jadi Reseller Resmi Antam

PT Orori Indonesia (Orori), sebagai perusahaan penjualan perhiasan online resmi menjadi "reseller" emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).”Orori menjadi jembatan…

Sepekan Dana Asing Keluar Rp 765 Miliar

NERACA Jakarta –PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) sepekan kemarin meningkat 1,16% ke level 6,126.36…