PBRX Sisakan Rights Issue Rp 348,8 Miliar

NERACA

Jakarta - PT Pan Brothers Tbk (PBRX) masih mengantongi dana senilai Rp384,8 miliar dari hasil penawaran umum terbatas (PUT) 3 melalui penawaran umum dengan hak memesan efek terlebih dahulu alias rights issue. Dimana total dana yang diperoleh emiten tekstil ini dari rights issue mencapai Rp 1,01 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Per 30 Juni lalu, perseroan telah menggunakan dana senilai Rp246,5 miliar untuk pendirian PT Eco Smart Garment Indonesia, dan untuk kebutuhan peningkatan modal kerja senilai Rp64,22 miliar. Selain itu, perseroan juga melakukan investasi di sektor hulu maupun hilir dan tambahan penyertaan pada anak perusahaan. Dana yang dikucurkan untuk kebutuhan ini mencapai Rp316,68 miliar.

Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan, perseroan memutuskan untuk mengalokasikan dana senilai Rp246,5 miliar untuk peningkatan kapasitas produksi melalui entitas anakyakni PT Eco Smart Garment Indonesia. PBRX memiliki saham sebesar 85% pada perusahaan tersebut. Dalam hal ini, perseron akan melakukan penambahan penyertaan secara proporsional sesuai kepemilikan saham, untuk pendanaan pabrik-pabrik baru di Jawa Tengah.

Kemudian dana senilai Rp526,68 miliar akan dialokasikan PBRX untuk berinvestasi di sektor hulu maupun hilir guna memperluas posisi perseroan di bidangnya, melalui tambahan penyertaan pada entitas anak. Sebagai informasi, di kuartal pertama 2018, PT Pan Brothers Tbk mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 7,1% menjadi US$ 107,4 juta dari US$ 100,2 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Anne Patricia Sutanto, Wakil Presiden Direktur PT Pan Brohters Tbk pernah bilang, pelemahan kurs rupiah memberikan keuntungan tersendiri bagi perusahaan. Hal tersebut dikarenakan pasar dari perusaahaan yang fokus pada ekspor. Disebutkan, dari penjualan sebesar US$ 107,4 juta, pasar ekspor menyumbang pendapatan sebesar US$ 98,4 juta. Sedangkan untuk laba bersih, perusahaan mengalami penurunan 84,4% menjadi US$ 340.235 dari sebelumnya US$ 2,1 juta.

Produk Pan Brothers sebagian besar dikirim ke negara-negara Asia dengan porsi sebesar 56%, diikuti negara-negara di Amerika sebesar 26%, dan sisanya ke negara-negara di Eropa. Dirinya menjelaskan, hal tersebut dikarenakan produksi sudah dilakukan untuk pengiriman yang dilakukan pada bulan April-Juli,”Kuartal I memang selalu lebih besar untuk beban. Hal itu dikarenakan kami sudah mengeluarkan biaya untuk pengiriman April-Juli, tetapi kami belum mendapatkan bayaran sehingga terlihat PPh besar,” ujarnya.

Sampai akhir tahun, perusahaan menargetkan penjualan perusahaan tumbuh 15% dari realisasi tahun lalu sebesar US$ 549,3 juta. Sedangkan untuk laba bersih juga ditargetkan tumbuh 15% sebagai bentuk stabilitas. Perseroan menunda rencana pembangunan pabrik untuk produksi synthetic woven untuk mengurangi impor bahan baku.

BERITA TERKAIT

MIKA Sisakan Dana IPO Rp 401,13 Miliar

NERACA Jakarta - PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) masih mengantongi sisa dana hasil penawaran umum perdana saham alias initial…

Superkrane Raih Kontrak Baru Rp 40 Miliar - Garap Dua Proyek PLTU

NERACA Jakarta – Di sisa akhir tahun 2018, PT Superkrane Mitra Utama Tbk (Superkrane) belum lama ini mengantongi dua kontrak…

Nusantara Properti Incar IPO Rp 200 Miliar - Lepas Saham Ke Publik 25%

NERACA Jakarta – Di saat beberapa perusahaan menunda rencana IPO hingga tahun depan, namun ada sebagian perusahaan yang tetap keukeuh…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Waskita Karya Lunasi Obligasi Rp 350 Miliar

Lunasi obligasi jatuh tempo, PT Waskita Karya (Persero) Tbk telah mengalokasikan dana pembayaran pokok obligasi I Waskita Karya Tahap II…

Penjualan Fajar Surya Wisesa Tumbuh 50%

Hingga September 2018, PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) membukukan penjualan bersih senilai Rp7,45 triliun atau meningkat 50% year on…

Dorong Pemerataan Infrastrukur - Lagi, Indonesia Infrastructure Week Digelar

NERACA Jakarta – Geliat pembangunan infrastruktur terus digenjot pemerintah dalam menunjang pertumbuhan ekonomi. Apalagi, infrastruktur dipandang sebagai fondasi yang perlu…