TPS Food Beberkan Soal Gugatan PKPU - Sampaikan Penjelasan Ke BEI

NERACA

Jakarta – Sebagai reaksi atas permintaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) atau disebut TPS Food menjawab permintaan penjelasan BEI soal kabar adanya pengajuan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Perseroan menyatakan telah menerima surat dari Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat tertanggal 10 Juli 2018 perihal panggilan sidang menghadap dalam perkara dengan Nomor 92/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Jkt.Pst. Surat itu diterima pada 12 Juli 2018. Panggilan sidang ini terkait perkara PKPU yang diajukan dua kreditur perseroan.

Perseroan menyatakan sedang berkonsolidasi untuk mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu dalam menghadapi perkara permohonan PKPU. Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan kepada publik pada 5 Juli 2018 dengan nomor surat 055/TPSF-Corsec/VII/2018 bahwasanya perseroan sedang upayakan proses restrukturisasi utang perseroan termasuk instrument utang obligasi dan sukuk ijarah. Perseroan memandang proses ini sebagai upaya untuk mendapatkan solusi terbaik bagi semua pihak.

Perkembangan atau informasi lebih lanjut akan disampaikan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Terkait kewajiban pembayaran bunga obligasi dan sukuk ijarah TPS Food I 2013 dan sukuk ijarah TPS Food II 2016, perseroan sedang upayakan proses restrukturisasi atas instrumen utang itu. PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk akan gelar rapat umum pemegang obligasi (RUPO) dan Rapat Umum Pemegang Sukuk Ijarah (RUPSI) pada 10 Agustus 2018.

Sebelumnya dikabarkan AISA sudah telat melakukan pembayaran bunga ke-21 atas obligasi dan sukuk ijarah TPS Food I Tahun 2013. Ini merupakan kedua kalinya perusahaan telat membayar utang bunga. Pembayaran bunga obligasi dan sukuk ijarah TPS Food I Tahun 2013 ke-21 jatuh pada 5 juli 2018. Perusahaan diketahui belum membayarkan hingga saat ini.

Perusahaan menegaskan bahwa perusahaan sedang mengupayakan proses restrukturisasi obligasi dan sukuk tersebut. Manajemen berjanji akan memberikan informasi kelanjutan proses tersebut. TPS Food menerbitkan obligasi dan dan sukuk ijarah (sukuk) TPS Food I dengan nilai masing-masing Rp 600 miliar dan Rp 300 miliar pada 1 April 2013.

Obligasi dan sukuk ijarah ini sebenarnya jatuh tempo pada 5 April 2018 dengan tingkat suku bunga tetap 10,25%. Bunga dan fee ijarah dibayarkan setiap 3 (tiga) bulan. Namun karena alasan keuangan, perusahaan mengajukan perpanjangan pembayaran obligasi hingga 12 bulan setelah tanggal jatuh tempo. Itu artinya perusahaan masih terus membayarkan bunga.

Perusahaan yang dulu bergerak di industri beras ini memang tengah mengalami permasalahan panjang. Awalnya ketika anak usahanya PT Indo Beras Unggul (IBU) yang dituding melakukan pengoplosan beras subsidi menjadi beras premium. Hal itu berujung dengan penjualan lini bisnis berasnya.

BERITA TERKAIT

Investor Ritel Minta Keberpihakan Dari BEI - Tolak Reverse Stock ELTY

NERACA Jakarta – Menuntut adanya keberpihakan otoritas pasar modal dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terhadap investor ritel, investor yang…

BEI Prioritaskan Perusahaan Kecil dan UKM - Genjot Pertumbuhan Jumlah Emiten

NERACA Jakarta- Mengejar pertumbuhan jumlah emiten di pasar modal tidak hanya berbicara kuantitas semata, tetapi juga diperlukan kualitas dan apalagi…

BEI dan OJK Kaji Kasus Sengketa BFI Finance - Tersandung Masalah Hukum

NERACA Jakarta – Menguaknya perkara yang menimpa PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) mendapatkan respon reaktif dari Otoritas Jasa Keuangan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Hasnur Group Bina Juara Dunia Karate

NERACA Jakarta - Keinginan Fauzan, karateka asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang belum lama ini berhasil memenangi Kejuaraan Dunia Karate Tradisional…

BNI Terbitkan MTN Subordinasi Rp 100 Miliar

NERACA Jakarta - Perkuat likuiditas dalam rangka rangka mendanai ekspansi bisnis, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pada tanggal 10…

ADHI Kantungi Kontrak Baru Rp 7,45 Triliun

NERACA Jakarta — Sampai dengan Juli 2018, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mengantongi kontrak baru Rp7,45 triliun dengan kontribusi…