Gencar Pembangunan, Potensi Bisnis Desain dan Interior Kian Mentereng

NERACA

Jakarta - Gencarnya pembangunan sektor properti baik perumahan, apartemen, ruko, hingga gedung perkantoran dan lainnya memicu demand terhadap kebutuhan produk interior dan rancangan desain interior kian dibutuhkan. Seiring hal ini pula menjadikan potensi bisnis untuk design dan interior makin menjanjikan.

Berkaca pada besarnya potensi itu, Homedec sebagai pioner pameran home show untuk segala kebutuhan interior dan desain interior kembali menggelar pameran HOMEDEC 2018 yang akan diselenggarakan pada tanggal 6-9 September 2018 Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang. Dengan mengusung tema 'For Better Home & Living'.

Ketua HDII (Himpunan Desainer Interior Indonesia) DKI Jakarta, Nuaresta Edi Nugraha, mengatakan, Indonesia dengan populasi penduduk kurang lebih 250 juta jiwa dan akan terus bertambah, terutama untuk penduduk kelas menengah menjadikan kebutuhan akan tempat tinggal akan terus meningkat. Seiring dengan peningkatan kebutuhan akan hunian itulah yang menjadikan potensi bisnis desain dan interior terus meningkat. “Tren kebutuhan akan rumah bakal terus meningkat, dengan begitu otomatis kebutuhan desain dan interior pun akan berjalan beriringan. Itulah yang menjadikan bisnis desain dan interior ini sangat potensial,” katanya saat jumpa pers dengan wartawan di Jakarta, Kamis (12/7).

Ditambah lagi, sambung Edi, di era milenial seperti sekarang ini, interior hunian banyak bergeser, bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik, tapi juga memenuhi dahaga jiwa. Dahaga akan kenyamanan, keindahan, dan kepuasan batin. "Bicara dulu orang merenovasi karena memang sudah rusak, tapi sekarang renovasi karena perlu suasana baru buat mood booster. Itulah kenapa bisnis ini kian menjanjikan," sambungnya.

Pada kesempatan yang sama Rohadi, Sekjen HDII Pusat, menambahkan, saat ini memang kebutuhan jasa desain dan interior masih berpusat di pulau Jawa, terutama di kota-kota besar. Sementara itu untuk wilayah barat Medan, dan ke timur Bali. Kalau daerah lain memang ada hanya saja belum tinggi. “Sementara ini masih berpusat di Jawa. Tapi, saya yakin seiring dengan gencarnya pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah di berbagai daerah otomatis pasti daerah lain akan mengikuti,” ujarnya.

Karena, lanjut Rohadi, kalau nanti pembangunan infrastruktur dari pemerintah sudah merata. pasti pusat bisnis, perumahan, dan lainnya mengikuti. Di situlah nanti kebutuhan akan kantor, pasar modern, dan lainnya mengikuti. Dari situlah kenapa peluang jasa desain dan interior ini bakal terus dicari. “Pemerintah saat ini perhatian dengan pembangunan infrastruktur, dipastikan dengan adanya infrastruktur yang lainnya mengikuti. Ini lah kenapa bisnis desain dan interior ini punya potensi yang sangat besar. Boleh saja sekarang baru Jabodetabek atau Jawa lainnya, ke depan daerah atau wilayah lain dari Indonesia Barat sampai Timur membutuhkan jasa desain dan interior ini,” tuturnya.

Dukungan Regulator

Dengan potensi inilah, menurut Rohadi kami baik dari Asosiasi maupun para pelaku di bisnis desain dan interior butuh dukungan dari pemerintah (regulator) agar ada aturan yang mengikat terhadap bisnis agar ke depan potensi yang ada di dalam negeri dapat di optimalkan oleh orang-orang lokal. Mengingat, sejauh ini masih belum ada aturan yang mengikat antara penggunaan tenaga lokal dan asing untuk jasa desain dan interior ini. “Kita tahu potensi di bisnis ini besar, harapannya ada campur tangan pemerintah terutama ada aturan yang mengikat. Karena selama ini banyak desain asing yang masuk. Kami tidak bilang tidak boleh dengan tenaga asing, tapi kami berharap porsinya orang lokal lebih banyak,” harap Rohadi.

Mengingat, menurut Rohadi, Sumber Daya Manusia (SDM) lokal untuk bisnis desain dan interior ini tidak kalah dengan SDM asing. Berkaca pada pengalaman saja, banyak SDM Indonesia yang bekerja sebagai desain dan interior di luar. Jadi, intinya SDM lokal juga mampu. Tinggal supporting dari pemerintah agar ada aturan yang mengikat, sehingga potensi dalam negeri bisa dimanfaatkan dan dioptimalkan oleh orang dalam negeri juga. “Seperti saya pada tahun 2013 dipakai untuk merancang dan menjadi arsitek di Dubai untuk hotel bintang lima. Jadi bicara kualitas kami yakin tenaga lokal juga tidak kalah dengan asing. Hanya saja balik lagi, kami menunggu regulasi dari pemerintah ada aturan akan penggunaan tenaga lokal dan asing itu,” tandasnya.

Linda Leoni selaku Regional Business Development Manager penyelenggara pameran Homedec 2018, mengatakan, target pengunjung kami di dominasi oleh Homeowners yang berniat untuk merenovasi rumah, di mana karakteristik ini adalah buyers yang serius dan ‘berani’ mengeluarkan budget untuk mewujudkan hunian impiannya. ”Pameran tahun ini, kami siap menjawab kebutuhan pasar dengan memberikan terobosan dan inovasi terbaru dalam industri renovasi, interior, dan home improvement,” ujarnya.

Dan tahun lalu, Homedec sukses mendatangkan hingga 22,700 pengunjung selama empat hari dengan dukungan lebih dari 150 peserta dan 300 booth. “Harapannya tahun ini animo baik pelaku bisnis maupun konsumen bisa lebih banyak,” tambahnya.

Pameran desain dan interior ini menurut Linda Leoni, merupakan kemitraan strategis antara HDII (Himpunan Desainer Interior Indonesia) DKI Jakarta dan PT CIS Exhibition telah melahirkan Co-Located Exhibition yaitu Indterior (Indonesia Interior Exhibition) dengan tema “Exuberant” yang penyelenggaraannya serentak dengan pameran HOMEDEC 2018.

Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Pu-Pera), Basuki Hadimuljono mengakui tingkat kebutuhan masyarakat akan rumah masih sangat tinggi. Dan tingginya pertumbuhan di sektor properti ini juga dapat menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Transaksi disektor properti sangat penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan optimisme publik sehingga dapat menggerakkan ekonomi lokal melalui sektor konstruksi dan properti," tegasnya.

Meskipun menurut Basuki, perekonomian Indonesia terus mengalami pelemahan. Namun permintaan rumah terutama di tingkat menengah ke bawah masih sangat tinggi . Oleh karenanya, pemerintah akan meningkatkan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menjadi dua kali lipat. Pasalnya, FLPP yang sebesar Rp5,1 triliun untuk 68.000 rumah sudah habis terserap.

Oleh karenanya, sambung Basuki, inovasi pembiayaan perumahan akan terus dikembangkan. Pemerintah juga siap menerima inovasi-inovasi pembiayaan lainnya untuk sektor perumahan. "Tahun 2018 di double-kan FLPP-nya tapi pasti tetap tidak akan mencukupi, inovasi pembiayaan rumah masih harus terus digali," tukasnya.

BERITA TERKAIT

Smartfren Bakal Gelar PUT III dan OWK IV

NERACA Jakarta - Pendanaan lewat pasar modal masih menjadi adalan beberapa perusahaan telekomunikasi, termasuk PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). Guna…

Kepala Daerah se-Banten MoU APIP dan APH

Kepala Daerah se-Banten MoU APIP dan APH NERACA Serang - Kepala daerah se-Provinsi Banten melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama (MoU)…

ASEAN dan Kemiskinan

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo ASEAN yang kini menapaki 51 tahun ternyata…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Regulator Identifikasi 500 Komoditas Kurangi Impor

NERACA Jakarta – Pemerintah melakukan langkah untuk mengidentifikasi sekitar 500 komoditas yang bila dilihat berdasarkan tingkat kandungannya dapat dikurangi impor…

Produk Warga Binaan Bakal Dipamerkan Dalam Ajang TEI

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan akan memfasilitasi produk-produk buatan warga binaan pemasyarakatan dengan kualitas ekspor untuk dipamerkan pada pameran dagang…

RI Tingkatkan Konektivitas Dengan Afrika Lewat Ethiopia

NERACA Jakarta – Pemerintah RI berupaya meningkatkan konektivitas Indonesia dengan negara-negara di Afrika melalui Ethiopia, seiring dengan dibukanya rute penerbangan…