Pertumbuhan Ekonomi RI Bakal Sulit Capai 6 % - Tertekan Krisis Global dan Harga Minyak Dunia

NERACA

Jakarta –Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2012 diprediksi bakal sulit mencapai angka 6 % akibat tertekan krisis ekonomi global dan lonjakan harga minyak mentah dunia. Meski Uni Eropa sepakat memberi Bailout Yunani sebesar 130 miliar Euro. Namun krisis Eropa sudah terlanjur meluas sehingga geliat ekonomi Eropa melambat. Buntutnya memukul ekspor Indonesia ke Eropa.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa sulit mencapai 6%. Terutama jika dibarengi dengan kebijakan pembatasan BBM bersubsidi. Apalagi hingga saat ini belum ada kebijakan memperlebar fiskal,” kata Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Arifin Siregar di Jakarta, Selasa (21/2).

Menurut Arifin, untuk tetap mendorong pertumbuhan. Maka pemerintah mesti memberi perhatian tinggi pada infrastruktur. Karena itu dirinya mengkhawatirkan terjadinya penurunan ekspor dan keringnya likuiditas makin menyebabkan melemahnya ekonomi. “Perlu peningkatan signifikan dari fasilitas infrastruktur esensial, yakni energi, layanan pelabuhan, bandar udara, serta sistem transportasi. Selain itu, terus tingkatkan efisiensi dan efektifitas birokrasi,” tambahnya.

Namun, imbuh Arifin, status investment grade sedikit menolong. Hanya saja, makin seriusnya resesi di zona Euro akan memicu terjadinya fluktuasi besar pada cadangan devisa (cadev) Indonesia. "Kekeringan likuiditas akibat krisis di zona euro akan mempengaruhi ketersediaan devisa di perbankan Indonesia dan juga perusahaan non-bank yang membuat makin sulitnya mendapatkan pinjaman dari bank domestik dan juga bank asing," ungkapnya.

Arifin mengungkap pada Agustus 2011 lalu, cadangan devisa Indonesia sempat mencapai US$124 miliar, tetapi kini menurun drastis menjadi US$111 miliar pada akhir 2011. "Fluktuasi seperti ini masih akan terus terjadi mengingat krisis di Eropa belum menunjukkan arah penyelesaian. Ditambah dominasi kepemilikan saham di Indonesia, 60%nya dikuasai asing," imbuh.

Namun ekonom Institute for Development and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika mengatakan pihaknya sudah melakukan proyeksi untuk pertumbuhan Indonesia sejak awal. “Proyeksi kami, pertumbuhan Indonesia pada 2012 hanya mencapai 6,1-6,3%,” tegasnya kepada Neraca, Selasa (21/2).

Menurut Guru Besar FE Unibraw, metode yang dipakai Indef untuk menghitung pertumbuhan Indonesia saat itu adalah dengan melihat asumsi ekspor. "Selain menghitung asumsi ekspor kita keluar, kami juga menghitung angka inflasi dan investasi asing yang merupakan sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Erani mengaku hitungannya pada akhir tahun lalu itu belum dikaitkan dengan isu-isu yang berkembang saat ini. “Misalnya soal kebijakan pembatasan BBM yang hingga saat ini masih belum ada kejelasan dan krisis likuiditas Yunani. Kedua masalah itu bisa memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih buruk lagi,” imbuhnya.

Berbeda dengan ekonom Standard Chartered Indonesia, Erik Sugandi. Dia memprediksi skenario terburuk pertumbuhan Indonesia lebih buruk lagi, yakni berada pada kisaran 5,8%. Pertimbangannya, Yunani makin terjebak resesi di zona Euro. Ditambah dengan kebijakan pemerintah dalam pembatasan BBM bersubsidi. "Kami melihat, pertumbuhan Indonesia ada di 5,8%. Pertumbuhan itu landasannya dari skenario terburuk. Tapi kalau BBM dan krisis Yunani tidak menekan secara bersamaan pertumbuhannya masih bisa di atas 6%," paparnya kepada Neraca, Selasa (21/2).

Dari kajiannya, tutur Erik, ada berbagai sektor yang akan mengalami perlambatan, yakni PMA atau Foreign Direct Investment (FDI), valuta asing, ekspor dan non ekspor dan bursa saham. "Pengaruh resesi Yunani dan BBM bisa dilihat dari melambatnya sektor PMA atau FDI. Investor akan keluar mencari aset aman (safe heaven). Sektor ini masih tumbuh namun harus ada konsolidasi yang kuat. Valuta asing juga menjadi tertekan dan mengalami perlambatan. Ekspor dan non ekspor juga kena imbas tapi hanya berkisar 10% dari Pendapatan Domestik Bruto. Satu lagi bursa saham ikut terpukul dan melesu," jelasnya.

Erik berpendapat, jika hanya melihat dari satu faktor saja, yakni BBM, perekenomian Indonesia masih tumbuh tidak di bawah 6%. Pasalnya ada insentif dari pemerintah berupa kenaikan gaji. "Pengaruhnya terlihat pada daya beli yang berkurang, tapi kurang sekali tidak juga ya karena income cukup baik,” tandasnya.

Dari sisi ini, lanjut Erik, Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan mengambil langkah untuk mengintervensi rupiah saat terdepresi. Saat ini cadangan devisa (cadev) masih stabil di posisi US$ 112 miliar dalam jangka panjang.

Analisa Erik tak beda jauh dengan Senior Economist and Head of Government Relations Bank Standard Chartered Indonesia, Fauzi Ichsan. Dia juga membeberkan faktor kesulitan dalam upaya mencapai pertumbuhan 6,7%. Pasalnya, krisis Yunani-Eropa sudah memberi sinyal akan mempengaruhi ekonomi Indonesia. Belum lagi, kebijakan pemerintah dalam pembatasan subsidi BBM. "Untuk angka pertumbuhan 6,7 % itu sangat sulit. Hutang Yunani semakin menunggak. Indonesia kena dampaknya maka pertumbuhan menjadi hanya 5,8 %, Pertumbuhan ekonomi dunia hanya mencapai 2 %. Artinya prediksi pertumbuhan kita 5,8 % ini adalah skenario terburuknya," imbuhnya.

Namun Fauzi tetap optimis krisis Yunani-Eropa bisa selesai dengan harapan yang cerah. Hanya saja yang perlu mendapat perhatian adalah kondisi likuiditas. “Dampaknya pada Indonesia bisa menyebabkan mengeringnya likuiditas. Nantinya, bisa memukul suku bunga pasar melonjak untuk korporasi. Otomatis ekonomi Indonesia melambat," tuturnya.

Dari pantauannya, investor menilai kondisi ekonomi dan politik Indonesia masih stabil. Pada kuartal pertama, investor masih menempatkan investasinya di produk save heaven (simpanan tanpa resiko) sambil memprediksi krisis global yang terjadi di Eropa. Namun, jika kondisi Eropa semakin membaik, investasi akan kembali masuk ke Asia, terumama Indonesia, puncaknya pada semester kedua. “Dana investor saat ini masih banyak investasi ke emas ya. Kan tidak percaya mata uang Euro. Tapi, kalau nanti membaik. Tentu akan ditarik masuk ke Asia," jelasnya.

BERITA TERKAIT

Bank Dunia Ingatkan Soal Investasi SDM

  NERACA Jakarta - Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim mengingatkan pentingnya investasi Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mendukung…

IMF Soroti Reformasi Struktural dan Kesenjangan

NERACA Jakarta-Dana Moneter Internasional (IMF) menyebutkan, tiga prioritas utama yang harus dilakukan untuk memperkuat pemulihan ekonomi global yang saat ini…

Antara APIP dan Opini WTP

Oleh: Panji Pradana Putra, Inspektorat Jenderal Kemenkeu *) Pertama kali dalam 12 tahun, pertanggungjawaban pelaksanaan APBN dalam bentuk Laporan Keuangan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

MASYARAKAT DIMINTA HATI-HATI BERTRANSAKSI BITCOIN - BI: Bukan Alat Pembayaran Sah di RI

Jakarta-Bank Indonesia menegaskan Bitcoin bukan merupakan alat pembayaran yang sah untuk digunakan di Indonesia. Masyarakat diminta untuk tidak memakai Bitcoin…

Industri Pariwisata Butuh Revolusi Mental

NERACA Padang –Kekayaan alam pariwisata di Indonesia cukup menjanjikan, namun ironisnya belum dimanfaatkannya secara optimal dan ditambah hambatan yang ada…

INISIATIF PELAKU INDUSTRI ASURANSI NASIONAL - Perlunya Daftar Hitam Asuransi Cegah “Fraud”

Jakarta-Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) berencana menerbitkan daftar hitam nasabah untuk mengurangi kecurangan (fraud) dalam praktik usaha perasuransian. Ini mirip…