Ikhtiar Melihat Indonesia-Tiongkok Secara Benar

Oleh: Edy M Yakub

Melihat dan mendengar adalah dua kata yang berbeda dan perbedaan keduanya juga mengandung makna yang sangat jauh untuk menilai sesuatu, termasuk menilai sebuah bangsa.

Sosiolog dari Jepang, Hisanori Kato, membuktikan bahwa mendengar tentang Indonesia dan melihat Indonesia secara langsung itu sangat jauh berbeda. Pengalaman "perubahan" pandangan itu ditulis dalam bukunya berjudul "Kangen Indonesia".

Agaknya, perbedaan pandangan "setelah melihat" dengan "sebelum melihat" atau "hanya mendengar" yang dialami sosiolog Jepang itu juga dialami sejumlah jurnalis Indonesia yang melihat Tiongkok secara langsung dengan mengunjungi Negeri Panda itu.

Kunjungan "melihat" (sendiri) itu menghasilkan penilaian yang sangat berbeda dan bahkan bertolak belakang dengan pandangannya selama ini tentang Negeri Tirai Bambu yang diketahui dari "mendengar" (dari orang lain).

Sebaliknya, sejumlah jurnalis Tiongkok yang bertugas di Indonesia dengan melihat Bumi Nusantara secara langsung juga menghasilkan kesimpulan yang berbeda dengan apa yang selama ini didengarnya tentang negeri berpenduduk mayoritas Muslim itu.

Fakta di atas terungkap dalam Pertemuan Jurnalis Tiongkok-Indonesia (Bali) yang diselenggarakan Konsul Jenderal RRT di Denpasar Gou Haodong di kediamannya pada 13 Juli 2018, bahkan Konsul Gou Haodong yang baru bertugas selama tiga bulan bertugas di Bali itu pun membenarkan fakta itu.
"Selama tiga bulan bertugas di Bali, saya menemukan bahwa Tiongkok yang berpenduduk 1,3 miliar dan Indonesia yang berpenduduk 260 juta itu ternyata memiliki banyak kemiripan, karena itu saat bertugas di sini, saya merasa seperti pulang kampung," katanya.

Diplomat yang sebelumnya belasan tahun bertugas di negara-negara di Afrika Selatan itu mengaku temannya yang paling banyak selama berada di Indonesia (Bali) justru berasal dari kalangan wartawan yang mungkin justru sering "dihindari" oleh kalangan diplomat."Dari teman-teman media itulah, saya justru banyak berdiskusi tentang fakta-fakta yang saya lihat sendiri di sini dan hal-hal yang menyebabkan kedua negara memiliki perbedaan. Akhirnya, saya tahu bahwa Indonesia-Tiongkok itu banyak kemiripan," katanya.

Namun, kalangan media juga menunjukkan bahwa kemiripan itu belum cukup didukung dengan pemahaman di antara keduanya secara mendalam. "Banyak kemiripan, tapi pemahaman keduanya terhadap pihak lain belum cukup mendalam," katanya.

Oleh karena itu, ia pun mengajak sepuluh media di Bali untuk datang ke Tiongkok, karena pengalamannya bertugas di Afrika Selatan menunjukkan persahabatan antar-negara itu sangat bergantung pada persahabatan antar-rakyat."Di sini ada pepatah, yakni jauh di mata, dekat di hati. Artinya, kalau kita memiliki kemiripan dan juga memiliki pemahaman yang sama, maka sahabat yang jauh akan tetap terasa dekat di hati kita. Selain wartawan, saya juga mengundang pemuka agama Hindu untuk ke Tiongkok juga," katanya.

Untuk membuktikan "perubahan" antara "melihat (sendiri)" dan "mendengar (dari orang lain)" itulah, Konjen RRT di Denpasar mengundang wartawan dan pimpinan media dari Indonesia dan Tiongkok serta pemuka agama dari Bali untuk menceritakan pengalamannya "melihat" itu.

Dalam Pertemuan Jurnalis RI-RRT yang dihadiri Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana, dan Ketua PWI Bali IGMB Dwikora Putra itu, perwakilan jurnalis Indonesia antara lain LKBN Antara, TVRI, Bali Post, Radar Bali, Bali TV, dan sebagainya.

Sementara itu, perwakilan jurnalis dari China antara lain "China News Service" (CNS) Perwakilan Indonesia, "China Radio International" (CRI) Biro Indonesia, Harian Nusantara, dan sebagainya. Sebelumnya, perwakilan media Bali itu berkunjung ke Fujian dan Zhejiang (RRT) pada 2-11 Mei 2018.

"Jatuh Cinta" Fakta yang berbeda antara "melihat (sendiri)" dan "mendengar (dari orang lain)" itu diakui oleh wartawan yang juga Kepala CNS Perwakilan Indonesia, Lin Yongchuan, yang sudah bertugas selama 1,5 tahun di Indonesia."Awalnya, banyak teman dan keluarga yang merasa heran, kenapa saya mau ke Indonesia sebagai negeri yang berantakan dan tidak modern itu. Mereka mengkhawatirkan penugasan saya, tapi setelah saya tahu sendiri apa yang ada dengan sebenarnya, saya justru jatuh cinta," katanya.

Menurut Lin Yongchuana, pengalamannya beberapa lama berinteraksi dengan masyarakat Indonesia membuktikan kebenaran pepatah bahwa tahu sendiri secara langsung itu berbeda dengan mendengar dari orang lain."Setelah tahu sendiri tentang Indonesia, saya menilai masyarakat Indonesia itu baik, ramah, dan sederhana. Selain itu pemandangan alamnya juga bagus, karena itu kerja sama antar-wartawan Indonesia-Tiongkok itu penting agar semakin banyak orang tahu fakta yang sebenarnya," katanya.

Oleh karena itu, ia menilai tugas yang diemban setelah "tahu" adalah memperkenalkan secara benar tentang keadaan Indonesia kepada masyarakat Tiongkok, sekaligus memperkuat kerja sama antar-media dalam tukar informasi apa yang ada di negara masing-masing.

Wartawan yang berasal dari Provinsi Fujian itu menyatakan senang dengan kedatangan wartawan Bali ke provinsi kelahirannya (Fujian), sehingga mereka "tahu sendiri" Tiongkok itu seperti apa, termasuk mengetahui adanya prasasti kedatangan Islam ke Tiongkok yang tersimpan di museum.
"Saya senang, karena saya dari Fujian dan saya juga yang menemukan prasasti kedatangan pemuka agama Islam di Tiongkok hingga akhirnya masuk museum dan mulai dikenal masyarakat dunia, termasuk teman-teman wartawan Bali yang sempat ke museum di Fujian itu," katanya.

Senada dengan itu, Kepala "China Radio International" (CRI) Biro Indonesia, Li Shukun, menyatakan sepakat dengan kerja sama antar-wartawan, karena pihaknya sudah sering melakukan peliputan bersama dengan wartawan Indonesia ke berbagai kawasan di China sejak tahun 2010, sehingga apa saja tentang Tiongkok dapat dilaporkan sesuai fakta yang sebenarnya.

"Tahun 2010-2013, CRI sempat mengadakan siaran bersama dengan Radio Elshinta. Tahun 2011-2015, CRI sempat melakukan peliputan bersama wartawan Indonesia tentang budaya Muslim di China. Tahun 2015-2017, kami melakukan peliputan bersama tentang Jalur Sutera Maritim. Tahun ini, kami senang sejumlah konsulat memfasilitasi wartawan Indonesia ke Tiongkok," katanya.

Dalam pertemuan yang diakhiri dengan makan malam itu, Edy M Yakub dari LKBN Antara Biro Bali mengutip pepatah China dari Zhao Chong (Dinasti Han Barat) bahwa "sekali melihat (sendiri) lebih baik daripada seratus kali mendengar (dari orang lain)".

Edy M Yakub menyebutkan tiga pandangan yang dimilikinya "sebelum" ke Tiongkok, yakni komunis (tak ber-Tuhan), negara otoriter yang melarang media sosial, dan negara tidak demokratis yang membatasi informasi media.

Tapi, "setelah" dari Tiongkok, ia menemukan di Tiongkok banyak tempat ibadah, jadi komunis itu hanya sistem politik. Soal medsos yang hanya memakai "WeChat" dan bukan whatsapp, facebook, twitter, line, youtube, instagram, dan sebagainya itu juga bukan otoriter, tapi untuk pemberdayaan potensi dalam negeri.

Soal tidak demokratis itu juga tidak sepenuhnya membatasi media, karena media di Tiongkok ternyata tetap bisa mengkritik, tapi cara menyampaikan kritik bersifat "demokrasi ala Timur" yang mengacu pada koridor, aturan main, dan kaidah jurnalistik yang ada.

Menanggapi pertanyaan Ketua PWI Bali IGMB Dwikora Putra tentang "kebebasan pers" di RRT, Konsul RRT di Denpasar Gou Haodong menegaskan bahwa informasi positif dan negatif itu juga cukup banyak menyebar di Tiongkok seiring berkembangnya media sosial, namun wartawan selalu berpegang pada dua prinsip, yakni fakta dan keseimbangan.

"Wartawan memang memiliki kebebasan dan bebas melakukan kritik, namun wartawan harus bertanggung jawab. Misalnya, ada negara kaya di Afrika Selatan yang akhirnya miskin akibat pemberitaan negatif, padahal pemimpinnya dipilih rakyat. Jadi, media harus menghargai demokrasi dan menggunakan kebebasan dengan tanggung jawab dan bersikap profesional, sehingga fakta dapat dijaga dari hoax, fitnah, dan sejenisnya," katanya. (Ant.)

BERITA TERKAIT

LIPI: Oligarki Parpol Perburuk Kualitas Demokrasi Indonesia

LIPI: Oligarki Parpol Perburuk Kualitas Demokrasi Indonesia NERACA Jakarta - Kepala Pusat Penelitian Politik pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)…

Catatan Positif Penegakan HAM di Indonesia

  Oleh : Muhammad Ridean, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan   Pelanggaran HAM merupakan permasalahan serius di Indonesia, beberapa kasus bahkan harus…

Indonesia Terlambat Kembangkan Ekonomi Syariah

  NERACA Surabaya - Indonesia sebagai negara yang mayoritas berpenduduk Muslim perlu lebih cepat mengejar ketertinggalan ekonomi syariah dibanding negara-negara…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Menelisik Arah Utang Pemerintah Era Kepemimpinan Jokowi

Oleh: Nurul Nabila, Mahasiswi Perbankan Universitas Samudra Langsa   Selama masa pemerintahan Presiden Jokowi, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik…

Diversifikasi Pasar Ekspor untuk RI yang Sejahtera

  Oleh: Nurul Karuniawati, Peneliti Universitas Udayana               Setiap peluang perdagangan akan menentukan pertumbuhan ekonomi sebuah bangsa. Karena itu,…

E-KTP Tercecer di Tahun Politik

Oleh: Siswanto Cemonk Lagi-lagi publik dibuat geger dengan penemuan kembali ribuan Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) yang tercecer. Peristiwa ini…