Berebut Tahta Nomor Dua

Oleh: Stanislaus Riyanta, Kandidat Doktor Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Administrasi UI

Menuju pelaksanaan Pilpres 2019, koalisi yang sudah mengkristal mengusung capres adalah koalisi pengusung Joko Widodo. Koalisi ini jika dihitung dari jumlah kursi di DPR terdiri dari PDIP (109 kursi), Golkar (91 kursi), PPP (39 kursi), Nasdem (35 kursi), Hanura (16 kursi), dengan total 290, yang berarti 51,8%.

Beberapa partai lain yang belum memutuskan membangun koalisi dan mengusung capres/cawapres adalah Gerindra, PKS, Demokrat, PAN dan PKB. Tentu saja dari lima partai ini ada yang bisa bergabung dengan koalisi pengusung Joko Widodo atau memilih berada pada barisan oposisi. Kemungkinan-kemungkinan tersebut masih cair hingga menjelang batas waktu pendaftaran Capres dan Cawapres nanti.

Mengingat yang sudah memastikan untuk maju pada Pilpres 2019 nanti adalah Joko Widodo, yang diusung oleh koalisi partai lebih dari 50% dari total jumlah kursi di DPR, maka hal yang menarik untuk dibahas adalah siapa cawapres yang akan diusung mendampingi Joko Widodo. Pembahasan tentang cawapres Joko Widodo lebih menarik jika dibandingkan dengan pembahasan gerakan sisa partai yang masih berkutat pada komposisi koalisi.

Jika berbicara soal cawapres, tokoh yang paling konsisten melakukan deklarasi ingin maju sebagai cawapres adalah Muhaimin Iskandar. Muhaimin tidak hanya menampilkan dan menawarkan diri kepada Joko Widodo, tetapi juga kepada oposisi. Muhaimin dengan modal politik Partai Kebangkinan Bangsa sejak dini sudah mengenalkan diri ke publik sebagai tokoh yang siap sebagai cawapres.

Hingga kini belum nampak kepastian apakah Muhaimin akan menjadi cawapres Joko Widodo atau dari capres lain. Demikian juga Partai Kebangkitan Bangsa apakah akan berkoalisi dengan partai pengusung Joko Widodo atau capres lainnya.

Joko Widodo adalah capres petahana yang mempunyai latar belakang sipil. Hal ini membuat tokoh-tokoh yang mempunyai latar belakang TNI-Polri mempunyai peluang besar sebagai cawapres Joko Widodo. Kombinasi sipil-militer atau militer-sipil cukup ideal sebagai pasangan pemimpin di Indonesia.

Tokoh-tokoh dengan latar belakang TNI-Polri yang saat ini cukup dekat dan berpotensi menjadi cawapres Joko Widodo adalah Moeldoko, Budi Gunawan, Tito Karnavian, dan Wiranto. Ada juga tokoh dengan latar belakang militer yang pernah dekat namun kini sering memposisikan diri sebagai oposisi Joko Widodo yaitu Gatot Nurmantyo. Sementara tokoh lain yang sudah mendekat ke Joko Widodo adalah Agus Harimurti Yudhoyono, meskipun kadar kedekatannya masih perlu diamati lebih jauh.

Beberapa tokoh sipil potensial yang tidak mempunyai partai politik namun dianggap oleh sebagian masyarakat cocok menjadi pendamping Joko Widodo adalah Mahfud MD, Sri Mulyani dan Susi Pudjiastuti. Ketiga tokoh tersebut mempunyai kemampuan dan rekam jejak yang cenderung disukai masyarakat. Namun baik dan mampu bekerja saja tidak cukup untuk menjadi cawapres. Modal utamanya adalah dipercaya oleh koalisi partai pengusung.

Mengingat dukungan partai politik sangat penting, maka peluang Joko Widodo untuk memilih cawapres dari unsur pemimpin partai politik sangat dimungkinkan. Dari koalisi partai pengusung Joko Widodo yang paling kecil peluang untuk menjadi cawapres adalah tokoh dari PDIP, dengan pertimbangan asas pemerataan. Sementara jika dilihat dari besarnya kursi di DPR maka Joko Widodo harus mempertimbangkan tokoh dari Golkar (Airlangga) dan PPP (Rommy). Nasdem dan Hanura belum mempunyai tokoh partai yang kuat untuk menjadi cawapres Joko Widodo.

Joko Widodo yang sudah pasti maju sebagai capres pada 2019 nanti mempunyai kesempatan besar untuk terpilih lagi. Banyak tokoh yang saat ini memantaskan diri untuk memperebutkan tahta nomor dua, namun tetap saja keputusan tergantung pada Joko Widodo dan koalisi partai pengusungnya. Mengingat insting politik Joko Widodo yang kuat namun sulit ditebak, maka siapa calon pemilik tahta nomor dua ini akan tetap menjadi misteri hingga detik-detik terakhir menjelang pendaftaran ke KPU.

BERITA TERKAIT

KABUPATEN SUKABUMI - Dua Bulan Tak Melaut, Nelayan Terpaksa Pinjam Rentenir

KABUPATEN SUKABUMI Dua Bulan Tak Melaut, Nelayan Terpaksa Pinjam Rentenir NERACA Sukabumi – Cuaca buruk yang melanda pantai selatan Kabupaten…

Superkrane Raih Kontrak Baru Rp 40 Miliar - Garap Dua Proyek PLTU

NERACA Jakarta – Di sisa akhir tahun 2018, PT Superkrane Mitra Utama Tbk (Superkrane) belum lama ini mengantongi dua kontrak…

Dua Klien MNC Sekuritas Tunda IPO - Pertimbangkan Kondisi Politik

NERACA Jakarta – Selain PT Mandiri Sekuritas (Mansek) yang mengalami penundaan rencana IPO kliennya karena kondisi pasar yang dinilai tidak…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Menghapus Mitos Neoliberalisme di Era Kini

    Oleh : Setiadi Suseno, Pengamat Ekonomi   Saat ini ramai diperbincangkan di publik tentang Neoliberalis atau Antek Asing…

“Make Indonesia Great Again”, Mirip Trump-isme?

  Oleh: Iman Poldi, Mahasiswa Fikom Univ. Gunadarma   Calon Presiden (Capres) nomor urut 2, Prabowo Subianto baru-baru ini  menggunakan…

Kenaikan Harga BBM Dianulir, Cermin Buruknya Manajerial Pemerintah

Oleh: Zainal C. Airlangga Presiden Joko Widodo (Jokowi) membatalkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium. Keputusan Jokowi ini…