Kebutuhan Hunian Meningkat, Harga Lahan Meroket

Neraca. Kebutuhan akan rumah merupakan kebutuhan pokok hidup manusia, akan tetapi memiliki rumah bukanlah hal yang mudah. Hal ini terbukti dari jumlah kebutuhan rumah setiap tahun tidak pernah terpenuhi. Harga lahan yang cenderung meningkat dengan pesat juga merupakan kendala besar yang menghalangi dalam memenuhi kebutuhan hunian yang nyaman.

Rumah merupakan salah satu kebutuhan paling pokok dalam kehidupan manusia. Rumah sebagai tempat berlindung dari segala cuaca sekaligus sebagai tempat tumbuh kembang komunitas terkecil manusia, yaitu keluarga. Namun seiring kemajuan teknologi, perkembangan ekonomi, dan pertambahan manusia itu sendiri, lahan untuk perumahan semakin berkurang.

Di sisi lain kebutuhan akan tempat tinggal semakin terasa mendesak dikarenakan tiap tahunnya mengalami peningkatan sesuai dengan angka pertumbuhan penduduknya. Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat mengakibatkan kebutuhan tempat tinggal pun semakin meningkat.

Berdasarkan hitungan Real Estate Indonesia (REI) kebutuhan rumah di Indonesia setiap tahunnya terus bertambah. Total kebutuhan rumah per tahun dapat mencapai 2,6 juta unit didorong oleh pertumbuhan penduduk, perbaikan rumah rusak dan backlog atau kekurangan rumah.

Seperti yang dikatakan oleh Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat Real Estate Indonesia (REI) F. Teguh Satria, bahwa berdasarkan data jumlah penduduk Indonesia yang lebih kurang 241 juta jiwa dengan angka pertumbuhan penduduk 1,3 persen per tahun, dibutuhkan sekitar 728.604 unit rumah per tahun atau jika dibulatkan menjadi 729 ribu unit rumah pertahun. Selain itu, data BPS juga menyebutkan jumlah rumah di Indonesia mencapai angka 49,3 juta unit. Dari jumlah itu tiga persennya perlu diperbaiki karena rusak sehingga jumlah rumah yang harus direhabilitasi mencapai 1.479.000 unit.

Tak hanya itu, sejak Indonesia merdeka sampai sekarang backlog perumahan bukannya makin mengecil tetapi justru makin bertambah. Data BPS pada 2009 lalu menyebutkan angka backlog sudah mencapai lebih dari 8 juta unit. Jumlah itu jelas akan terus bertambah akibat pertambahan keluarga baru dan adanya rumah yang rusak sehingga perlu rehabilitasi

Menurut Teguh, jika jumlah backlog nasional diperkirakan sekitar 8 juta unit dan angka itu bisa dipenuhi dalam jangka waktu 20 tahun, maka jumlah backlog pertahun mencapai 400 ribu unit rumah. Sehingga total kebutuhan rumah di Indonesia per tahun yang dilihat dari pertumbuhan penduduk, rehabilitasi, dan backlog mencapai 2.608.000 unit rumah per tahun.

Membengkaknya angka backlog (kekurangan jumlah rumah dibandingkan dengan jumlah keluarga) pada 2012, tambah Teguh, juga disebabkan akibat stagnasi yang terjadi sejak awal tahun yang dipicu oleh belum keluarnya berbagai peraturan di bidang perumahan. Akibatnya, mayoritas pembangunan rumah sejak awal 2012 menjadi terhenti. Terutama belum adanya kepastian pengaturan rumah tipe 36 dan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), yang menjadi kunci bagi pembangunan rumah sederhana.

Harga Tanah Naik

Dari tahun ke tahun, harga lahan khususnya di Jakarta terus merangkak naik. Hal ini disebabkan lahan di kota makin jarang, sedangkan fasilitas hidup banyak berada di kota, sehingga harga lahan kosong di kota biasanya sangatlah tinggi. Hal tersebut memicu peningkatan harga tanah yang semakin lama semakin membubung, selain faktor lokasi dan aksesibilitas yang mudah, lahan di Jakarta juga memiliki nilai ekonomi tinggi.

Tahun ini saja harga tanah di DKI Jakarta diprediksi akan tumbuh sekitar 10%-30% atau menembus Rp 70 juta per meter persegi. Kenaikan harga ini didorong oleh makin menipisnya ketersediaan lahan di Jakarta untuk pembangunan.

Head of Research Jones Lang LaSalle-Procon Anton Sitorus mengungkapkan, kenaikan harga lahan tersebut sama dengan 2011. Kenaikan harga lahan di Jakarta sebetulnya bervariasi di tiap wilayah. Bervariasinya harga lahan tersebut dikarenakan lokasinya yang jauh dari pusat bisnis maupun kelengkapan infrastruktur yang ada. Mulai dari Rp 2 juta- Rp 70 juta per m2. Harga Rp 2 juta per m2 ada di sekitar wilayah-wilayah perumahan yang kecil, sedangkan Rp 70 juta per m2 biasanya di sekitar pusat bisnis. Anton mengakui, harga lahan sebesar itu merupakan pertumbuhan yang sangat besar.

BERITA TERKAIT

Kemenperin Dorong PGN Amankan Kebutuhan Energi - Topang Pertumbuhan Industri 2018

Kemenperin Dorong PGN Amankan Kebutuhan Energi Topang Pertumbuhan Industri 2018 NERACA Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong badan usaha di…

Proyeksi Kebutuhan Gula Industri 3,6 Juta Ton di 2018

NERACA Jakarta - Direktur Jenderal Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto memperkirakan konsumsi gula mentah untuk kebutuhan industri mencapai 3,6 juta…

Genjot Belanja APBN Alkes Dalam Negeri - Tekan Kebutuhan Impor Alkes

NERACA Jakarta - Ketergantungan Indonesia pada alat kesehatan (alkes) impor masih relatif tinggi. Berdasarkan data izin edar yang diterbitkan oleh…

BERITA LAINNYA DI HUNIAN

Pengamat: Sektor Properti Bakal Didorong Generasi Milenial

Pengamat: Sektor Properti Bakal Didorong Generasi Milenial NERACA Jakarta - Pengamat properti dan pendiri Panangian School of Property, Panangian Simanungkalit…

Paramount Hadirkan Program Akhir Tahun

Paramount Hadirkan Program Akhir Tahun "Paramount Land Year-End Festival 2017" NERACA Tangerang - Paramount Land perusahaan pengembang properti menghadirkan rumah…

The Lana Sasar Keluarga Muda di Jakbar

The Lana Sasar Keluarga Muda di Jakbar NERACA Jakarta - Presiden Direktur PT Brewin Mesa Sutera, Bill Cheng selaku pengembang…