BI Sebut Ada Capital Inflow Rp6 Triliun - Bunga Acuan Naik

NERACA

Jakarta - Modal asing masuk melalui Surat Berharga Negara sebesar Rp6 triliun setelah imbal hasil bergerak kompetitif menyusul kenaikan suku bunga "BI 7-Day Reverse Repo Rate" sebesar 50 basis poin pada 28-29 Juni 2018, kata Bank Sentral. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan dengan aliran modal asing yang masuk (capital inflow), imbal hasil SBN bertenor 10 tahun bergerak ke level 7,4 persen saat ini, setelah sebelumnya di 7,8 persen. "Imbal hasil SBN Indonesia masih menarik, terbukti 'inflow' sudah mulai ada," ujarnya, seperti dikutip Antara, kemarin.

Bank Sentral giat melakukan intervensi di pasar SBN untuk menjaga selisih antara obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dengan imbal hasil SBN. Stabilisasi di pasar SBN juga semakin gencar dilakukan menyusul perkembangan ekonomi dan arah kebijakan moneter AS yang rentan menimbulkan pembalikkan arus modal dari pasar keuangan di Indonesia. "Kita jaga supaya domestik tetap menarik bagi investor asing," kata Nanang.

Namun, untuk di pasar saham, Nanang mengakui aliran modal asing yang masuk belum sederas seperti ke pasar SBN. Menurut Nanang, Indonesia bersama negara-negara dengan potensi ekonomi yang terus bertumbuh (emerging market) saat ini menjadi sasaran para investor global. Namun modal yang masuk ke negara "emerging market" bukan hanya modal jangka panjang, melainkan juga modal jangka pendek yang rentan kembali ke nagara maju (hot money) saat terjadi perubahan arah kebijakan moneter global.

Maka dari itu, Indonesia perlu meningkatkan resiliensi ekonomi agar memiliki ketahahan ekonomi eksternal yang lebih kuat, dibanding negara-negara dengan kapasitas ekonomi setara (peers) seperti Turki, Argentina, Brazil dan lainnya. Rupiah memang masih rentan depresiatif. Sejak awal tahun hingga 11 Juni 2018, rupiah melemah 5,3 persen (year to date/ytd). "Kita tidak ingin membandingkan dengan negara lain tapi Argentina itu sudah 30 persen, Brasil sudah 17 persen, Turki sudah di atas 10 persen, India pun sudah di atas 7 persen," kata Nanang.

Bank Sentral, kata Nanang, akan terus bersikap antisipatif (pre emptive), menerapkan tingkat kebijakan moneter yang mendahului (ahead of the curve) untuk meredam dampak tekanan ekonomi global, terutama untuk menjaga stabilitas rupiah. "Semua negara memang menaikkan suku bunga sekarang ini, karena likuiditas global lagi ketat. Jadi menaikkan suku bunga sebagai pencegahan," ujarnya.

BERITA TERKAIT

Bunga KPR Disebut Bakal Naik di 2019

    NERACA   Jakarta - Ekonom Andry Asmoro mengemukakan, kenaikan suku bunga acuan akan semakin meningkatkan potensi kenaikan suku…

DSNG Akuisisi Perusahaan Sawit - Nilai Transaksi Bengkak Jadi Rp 2,1 Triliun

NERACA Jakarta – Kejar pertumbuhan produksi lebih besar lagi, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) akan mengakuisi PT Bima Palma…

SCMA Raih Restu Buyback Saham Rp 3 Triliun

NERACA Jakarta – Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham luar biasar (RUPSLB), para pemegang saham menyetujui buyback atau pembelian kembali…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pendapatan Premi Asuransi Jiwa Naik Tipis

      NERACA   Jakarta - Pendapatan premi industri asuransi jiwa hanya naik tipis sebesar 1,2 persen secara tahunan…

2019, CIMB Niaga Syariah Targetkan Pembiayaan Rp35 Triliun

    NERACA   Bogor – Bank CIMB Niaga Syariah menargetkan untuk bisa menyalurkan pembiayaan di 2019 mencapai Rp35 triliun.…

Bank Muamalat Dukung Silaknas ICMI

    NERACA   Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. ("Bank Muamalat") mendukung pelaksanaan Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) Ikatan…